13. PENJELASAN

180 46 99
                                        

Dania akhirnya pulang sejak sepuluh menit yang lalu. Ia merasa tidak enak setelah ucapannyanya memicu emosi Ibu. Sehingga, setelah mendengar Ibu mengomel padaku selama kurang lebih lima belas menit, ia memutuskan untuk menginterupsi omelan Ibu dan pamit. Kepergian Dania akhirnya kumanfaatkan untuk menjelaskan kepada Ibu kejadian sebenarnya.

Ya. Seperti yang sudah kalian tebak. Aku mengulang kembali apa yang sudah kujelaskan pada Mbak Kiki dan Mas Adri. Hanya saja, sekarang dalam versi lebih panjang dan sejelas mungkin. Karena Putra belum pulang, sekalian saja ia kuberi tahu. Karena bagaimanapun, sepupuku itu sempat menolongku sewaktu ada Dania tadi.

Sejujurnya, menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada Ibu bukanlah hal yang mudah jika ada Putra. Jika dengan Ibu saja, aku akan bebas dan lega bercerita. Karena Ibu selalu peduli pada apapun yang terjadi dalam kehidupan putri-putrinya. Dan walaupun dengan alasan konyol, aku yakin beliau dapat memahami tindakanku.

Tapi kalau ada Putra, huh ...! Cowok itu beberapa kali menyembunyikan wajah gelinya dan menahan tawa sepanjang aku memberi penjelasan. Mungkin sebaiknya, sebelum ia pulang kembali ke rumahnya di Sawojajar, aku harus menghadiahinya dengan lemparan bola voli dulu. Kebetulan aku memiliki sebuah bola voli hadiah dari Mas Adri dan Mbak Kiki waktu ulang tahun ketujuh belas yang lalu.

"Oalah, Dek ... kamu itu kok ya, onok-onok ae!*)" ucap Ibu usai aku menjelaskan. "Ibu pikir kamu sudah ndak mau ngomong sama orang tua."

"Ya nggak lah, Bu," ujarku.

"Terus. Siapa saja yang tahu soal ini?"

"Ibu, Putra." Aku menunjuk sepupuku. "Mbak Kiki sama Mas Adri udah tahu duluan."

Ibu tampak mendesah sebelum bicara. "Ibu tuh heran. Kok ya kamu mau repot-repot ngarang cerita begitu?"

"Bukan cuma Ibu, semua juga heran. Mungkin Putra juga." Putra yang sejak tadi diam, mengangkat sebelah alisnya. "Tapi menurut Ririn, ini cara terbaik, Bu. Jadi, Ibu bisa kan bantu Ririn? Ririn janji bakal stop si Rizki ini kalau situasinya udah aman." Lagi-lagi Ibu mendesah.

"Terserah kamu aja, Dek," ucapnya sebelum bangkit dari sofa. "Asal ndak ganggu kegiatan kamu. Terutama belajar kamu. Ibu ke belakang, ya. Lanjut masak. Yuk, Putra. Esnya diminum."

"Iya, Budhe." Putra mengangguk sebelum Budhe-nya beranjak kembali ke dapur sambil menggumam heran tentang kelakuanku yang ajaib. Setelah punggung Ibu tak terlihat, Putra langsung melepaskan tawanya yang ditahan sejak tadi di depanku yang sedang dalam suasana hati buruk.

"Puas?!" sahutku ketus.

"Ini kejadian terlucu tahun ini," timpalnya sebelum lanjut terbahak-bahak.

"Udah ketawanya ...! Nyebelin, tahu!" Aku melempar bantal kursi ke Putra. "Awas kalau kamu bocorin ke Tante Ani. Aku bakal bongkar kalau kamu suka langganan majalah bokep ke kios deket stasiun kota."

"Yaa Allaah ... jahat amat kamu, Rin?" Wajahnya langsung berubah memelas.

"Biarin," sahutku sebelum menyambar toples kacang bawang dari atas meja dan memakan isinya. Putra membuang napas dan melipat tangannya.

"Tenang aja kali, Rin. Aku ngerti apa yang kamu rasain," ujar Putra.

"Foto kamu sama seorang cewek dipajang di mading juga?" tanyaku.

"Ya nggak sama persis juga," jawabnya. "Kamu tahulah kalau aku populer banget di sekolah. Banyak cewek yang ngejar dan berharap aku jadi pacar mereka." Aku langsung bete kalau Putra mulai menceritakan kepopulerannya.

Oke, sebagai sepupu, aku juga mengakui jika cowok ini memang tidak bisa ditolak. Taruhan, aku bisa langsung populer kalau mengajak Putra ke sekolahku. Pasti banyak cewek Sarasvati yang minta dikenalkan sama dia dan tiba-tiba mengakrabkan diri denganku yang notabene cuma pemain cadangan di tim voli ini. Tapi, masalahnya, di balik ketampanannya, Putra juga songong. Orang ini sangat sadar jika ia memesona.

"Aku ngerti rasanya dikejar-kejar sama orang yang nggak kita suka. Apalagi yang ngejar aku banyak banget. Kamu bayangin, hampir satu sekolah"

"Bacot!" Aku langsung melempar sebutir kacang padanya. "Kamu kalau mau sombong nggak usah di sini," ucapku ketus. Tapi Putra malah cengengesan sambil meminta maaf.

"Aku nggak bermaksud sombong, Rin. Itu kan kenyataan." Aku melempar tatapan jijik padanya sambil mengunyah. Kok bisa makhluk seperti ini jadi saudaraku? Boleh tukar tambah apa nggak, sih? "Ehem! Tapi, kita lupain soal popularitas aku. Kita bahas masalah kamu dulu. Kayaknya, aku bisa bantu kamu biar teman-teman kamu percaya kalau Rizki itu nyata, deh."

"Caranya?"

"Kasih tahu aku, ciri fisik Rizki yang kamu bikin tuh kayak apa?" Putra mencondongkan tubuhnya. Wajahnya tampak serius saat bicara. "Aku serius, Rin," Ia kembali bicara saat aku belum bereaksi dan malah menatapnya ragu. Well, semoga saja ia benar-benar serius. Pikirku sebelum bicara.

"Dia tinggi," jawabku. "170an. Kayak kamulah. Aku suka cowok tinggi soalnya."

"Ganteng?" tanya Putra.

"Nggak terlalu juga nggak apa-apa. Rambutnya ..." Aku berpikir sejenak. Maunya sih yang persis sama dengan Rifki, tapi nanti khawatir jika Dania akan berpikir macam-macam. "Agak gondrong tapi nggak gondrong," putusku kemudian.

"Kayak Nicholas Saputra?"

"Nah! Kayak gitu!" Aku menjentikkan jari. "Nggak putih juga nggak apa-apa. Pokoknya orang Indonesia. Jago olahraga, cerdas"

"Rin, kita bahas fisiknya dulu. Perkara hobinya apa, doyannya apa, nanti aja." Putra buru-buru menyela ucapanku.

"Oh. Oke, oke. Sorry." Aku berusaha mengendalikan diri kembali. Entah Putra betul serius ingin membantuku atau tidak, tapi diskusi kami tentang sosok Rizki ini membuatku semangat. Hingga tidak terasa, hari sudah menjelang siang.

"Yang kayak Arifin Putra gitu, mau?" Ia bertanya setelah mendapat gambaran ciri fisik Rizki yang aku inginkan.

"Jangan, dong," ucapku. "Yang kayak Samuel Rizal aja, gimana?" pintaku. Seolah Putra bisa menyediakan segala jenis cowok untuk kujadikan pacar.

"Samuel Rizal tuh keker, Rin. Mana ada anak SMA model gitu?" ujarnya sembari memukulkan komik yang kupinjam dari Dania. "Udahlah. Aku pulang dulu aja. Nanti aku SMS. Pokoknya, kamu tahu beres." Ia menghabiskan sisa es sirupnya sebelum berdiri.

"Oke. Thanks, Put. Salam buat Tante Ani, ya." Putra mengacungkan ibu jarinya sebelum menuju dapur dan berpamitan pada Ibu.

Sepeninggal Putra, aku bertanya-tanya apakah ia akan mencarikanku cowok yang sesuai dengan gambaran sosok Rizki? Kalau iya, selanjutnya apa? Apakah kami akan dipaksa jadian? Atau ... ah, aku tidak mau menebak-nebak. Tunggu kabar dari Putra saja. Walau sebenarnya, aku tidak yakin apakah Putra serius atau tidak.

Oke, kami memang saudara sepupu. Tapi, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat mengetahui rahasiaku.

♥ ♥ ♥

*) = Ada-ada saja.

Salah Paham [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang