Dion
"Udah kamu baca?" Aku gelagapan saat Bianca menanyakan itu di dalam kelas.
Kemarin Bianca membelikan aku sebuah buku dan ia memintaku untuk membacanya. Aku sangat menghargai apa yang dilakukannya padaku. Aku tak pernah tepikir untuk membaca buku semacam itu. Buku untuk belajar bahasa isyarat bagi tuna rungu.
"Udah aku sangka, pasti belum kan?" katanya sambil bertolak pinggang.
"Yon, aku udah baik loh sama kamu sampai aku mau beliin buku itu," tambahnya. Aku mendengar sedikit nada kecewa.
"Iya, maaf," aku menanggapinya singkat.
"Kamu bawa bukunya?" ia kembali bertanya.
Aku menggeleng perlahan. Tiba-tiba perasaan tidak enak menyerangku.
Bianca terlihat memutar bola matanya dan berkata, "Kamu tuh gak ada usaha banget ya buat Anna, katanya kamu suka sama dia."
Aku tak bisa berkata-kata. Aku benar-benar tertusuk oleh kata-katanya.
"Ya udah, pulang sekolah kamu harus ke rumah aku. Kita mulai latihan bahasa isyarat hari ini."
"Pake latihan segala?" tanyaku singkat.
Bianca menyipitkan matanya. Bulu kudukku berdiri melihatnya seperti itu.
"Oke-oke, aku ngerti Bi," kataku tanpa menunggu Bianca bicara sedikitpun. Wajah Bianca kontan berubah.
***
Sepulang sekolah aku kembali mengayuh sepeda dengan Bianca duduk di jok belakang. Kami sedang menuju rumah Bianca. Sebenarnya aku ingin pulang terlebih dahulu dan mengganti pakaianku, tapi Bianca memaksaku untuk langsung saja ke rumahnya.
Kali ini tak banyak perbincangan di sepanjng perjalanan. Untuk sampai di rumah Bianca, kami harus melewati jalan yang dipenuhi oleh pedagang si sepanjang trotoar. Aku melihat seorang penjual topi. Sejak tadi aku selalu mencuri pandang dan melihat Bianca beberapa kali menghapus keringat yang mengalir dari keningnya.
Aku menepi dan meninggalkan Bianca dengan sepedaku. Aku menghampiri si penjual topi dan membeli satu topi berwarna hijau muda. Aku kembali menghampiri Bianca dan memakaikan topi yang kubeli itu di kepalanya.
Aku melihat gambar wajah Bianca yang kebingungan saat itu. Aku hanya melemparkan senyum padanya dan kembali mengayuh sepedaku.
Kami masih saja saling diam dalam perjalanan ini. Aku sebenarnya tidak betah dengan suasana yang terlalu hening seperti ini. Akan tetapi aku pun tak tahu cara memulai perbincangan dengannya. Aku memang tak punya sesuatu untuk diperbincangkan.
Saat kami sampai di satu tikungan, tiba-tiba sepedaku oleng. Ban belakangku bocor. Terpaksa aku menepi.
"Aduh kenapa pake bocor segala sepedanya?" Bianca mengeluh.
Aku hanya memutar-mutar ban belakang sepedaku. Aku mencari sesuatu yang membuat ban itu bocor. Aku pun menemukan satu paku kecil yang menancap. Aku mencabutnya dan memasukkannya ke kantong seragamku.
"Kenapa disakuin?" tanya Bianca.
"Terus harus gimana? Lempar ke jalan biar ada yang kena lagi?"
Bianca mengerucutkan bibirnya. Ia gemar sekali menunjukkan wajah seperti itu.
"Gimana dong Yon?"
Aku berdiri dan berkata, "Ya mau gak mau harus didorong sepedanya."
Bianca menghela napas. Ia tampak kecewa dengan kejadian ini. Akan tetapi tak ada lagi yang bisa kami lakukan selain membawa sepeda ini ke tukang tambal ban. Kami pun mulai berjalan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Ficção AdolescenteKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...
