Bagian #12/24 - Bukan Waktunya, Lagi?

2.4K 194 9
                                    

Bianca

Sudah pukul setengah sepuluh malam. Dion dan Anna masih belum kembali. Aku memutuskan untuk mencari mereka.

"Bi," Erlang memanggilku saat aku hendak membuka pintu resto. "Mau kemana?" tambahnya sambil berjalan mendekatiku.

Aku berbalik dan menghadapkan tubuhku padanya. "Anna dan Dion belum balik lagi Lang," jawabku.

"Emang mereka kemana? Kok aku gak lihat perginya sih," ucap Erlang heran.

"Gak tahu, tadi Anna ke luar duluan, terus Dion nyusulin dia."

Erlang diam sejenak. Ia tampak berpikir. "Mungkin Anna gak nyaman ya sama suasana pestanya," ucap Erlang.

Aku mengangguk perlahan.

"Ya udah, ayo cari mereka, kayanya sih mereka belum pulang," ucap Erlang sambil menarik lenganku keluar dari resto.

Aku mengikuti langkah Erlang. Kami menyusuri trotoar jalan braga yang dipenuhi oleh orang-orang. Langkah Erlang cukup lebar dan cepat. Jika ia tidak memegang pergelangan tanganku mungkin aku sudah tertinggal jauh di belakang.

"Itu mereka," ucap Erlang sambil menunjuk pada Anna dan Dion yang sedang duduk berdua di kursi di seberang jalan.

Aku segera melangkah hendak menyeberang jalan. Tangan Erlang yang sejak tadi sudah terlepas dari lenganku terasa kembali menarikku.

Aku menoleh. Aku melihat pandangan Erlang terpaku pada Dion dan Anna.

"Apa tidak sebaiknya kita biarkan mereka berdua dulu?"

Aku kembali melihat ke arah Dion dan Anna. Dion tampak sedang memberikan sesuatu pada Anna. Benda itu seperti sebuah earphone.

"Apa-apan Dion?" aku sedikit terkejut saat melihat Dion menyerahkan sebuah earphone pada Anna yang jelas-jelas tidak bisa mendengar.

Erlang melepaskan tanganku dan bergerak menuju kursi kosong di sisi jalan. Ia duduk di situ. Perlahan aku mengikutinya duduk di kursi tersebut. Kini kami duduk berseberangan dengan Anna dan Dion.

Dari sini kami dapat dengan jelas melihat Anna dan Dion. Kami berdua sama-sama memperhatikan Anna dan Dion yang sedang memasangkan earphone di telinga mereka masing-masing.

"Dion itu gila. Apa dia gak mikirin gimana perasaan Anna. Dia kan tahu Anna itu..."

"Gak usah khawatir Bi," ucap Erlang memotong kalimatku. "Dia tahu yang dia lakuin," tambahnya.

Erlang tampak tenang memperhatikan Anna dan Dion. Disaat Anna mulai meneteskan air mata, aku mulai gemas pada Dion yang tampak begitu tidak peka. Bukan menyeka air matanya atau memeluknya, ia malah memalingkan wajahnya ke arah yang lain.

Tiba-tiba Erlang terbahak. Sontak aku terkejut.

"Bi, ko ngeliatin mereka sampe kaya gitu sih, udah kaya nonton drama aja," ucap Erlang dan kembali tertawa lepas.

Aku mengerucutkan bibir. "Aku bener-bener gemes sama dia Lang, kok dia diem aja sih Anna nangis begitu."

"Dion, bukan tipe cowok romantis Bi, waktu ada cewek nangis di sebelahnya, gak akan langsung dia peluk kaya di film-film," jawab Erlang sambil tersenyum tipis.

Walaupun aku mengiyakan kata-kata Erlang, tapi aku masih saja heran dengan sikap Dion. Ia tetap membiarkan sebelah earphone-nya terpasang di telinga kanan Anna di saat satu persatu air mata Anna jatuh dari pipinya.

"Dion tuh suka sama Anna udah dari dulu," ucap Erlang tiba-tiba.

"Aku tahu," ucapku dalam hati.

A Lesson For UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang