Bagian #20/24 - Ini Dia

2.5K 162 22
                                        

Bianca

Berjalan di koridor sekolah sambil menggandeng tangan Erlang cukup membuat dadaku berdegup lebih kencang. Beberapa mata melirik ke arah kami. Mungkin mereka heran, mengapa cowok seperti Erlang mau bersama cewek yang sejak kelas sepuluh diketahui jarang dekat dengan cowok selain Dion.

Aku mencoba melonggarkan genggaman tanganku. Akan tetapi saat tangan kami hampir terlepas, justru Erlang yang menguatkan genggamannya. Aku sedikit heran dengannya. Biarpun dia berhasil mendapatkanku dan jelas-jelas memilih untuk bersamanya, dia masih saja tampak begitu takut kehilanganku.

Sikapnya yang begitu tekun menjagaku membuatku semakin yakin akan hal itu. Apa ia benar-benar takut aku akan meninggalkannya.

Kami sampai di ujung koridor sekolahku. Erlang tiba-tiba melepaskan tangannya dari tanganku dan tampak mencari sesuatu di kantong baju dan celananya.

"Cari apa?" tanyaku singkat.

"Kunci motor," jawab Erlang. "Kayaknya ketinggalan di kelas," tambahnya.

"Ya udah, ayo cari di kelas kamu," ucapku.

"Gak usah, aku aja yang balik ke kelas. Kasian kalau kamu harus naik lagi tiga lantai cuma buat anterin aku," ucapnya lalu tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

"Tunggu di sini ya," Erlang mengusap kepalaku lalu beranjak meninggalkanku.

Dengan sabar aku terus menunggu Erlang. Sudah lebih dari sepuluh menit aku berdiri di tempat ini. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk berjalan kecil menuju tempat parkir motor Erlang.

Aku tahu betul di mana ia selalu memarkirkan sepeda motornya. Tempatnya tidak sama dengan tempat biasa Dion memarkirkan sepedanya. Erlang selalu memilih tempat parkir di sisi lapangan sepak bola.

Dari kejauhan aku sudah bisa melihat sepeda motor Erlang yang terparkir di antara dua motor bebek berwarna hitam. Aku melanjutkan langkahku hingga aku dapat menyentuh sepeda motor Erlang.

Kali ini aku menunggu Erlang dengan duduk di sepeda motornya. Sepuluh menit lainnya sudah berlalu. Ini sudah terlalu lama. Bagaimana bisa ia mencari kunci motor sampai dua puluh menit begini. Aku mencoba meneleponnya.

"Lang, lama banget sih," aku menggerutu melalui telepon.

"Maaf Bi, gak ketemu di kelas, sekarang aku lagi di ruang petugas kebersihan, siapa tahu ada yang lihat."

Aku mendengus. Sepertinya suara dengusanku itu terdengar sampai telinga Erlang.

"Maafin ya Bi," ucap Erlang dengan suara yang lemas.

"Iya, gak apa-apa," ucapku. Ingin marah, tak enak dengan Erlang yang sudah terlalu sering berlaku baik padaku. "Kalau udah ketemu, kabarin aku ya,"

"Siap tuan puteri," ucap Erlang di telepon. Tak lama sambungan telepon kami pun terputus.

Aku beranjak dari sepeda motor Erlang. Aku ingin mencari tempat teduh. Siang ini cukup terik. Belum sempat aku meninggalkan motor Erlang, aku melihat sesuatu di lubang kunci motor Erlang. Kunci motornya tergantung di sana. Aku menghela napas panjang.

Aku  menarik kunci motor itu dan mencoba kembali menghubungi Erlang. Belum sempat aku menekan nomor Erlang di ponselku, mataku langsung menangkap seseorang yang sedang berbaring di tepi lapangan.

Aku menyipitkan mataku. Aku mencoba menerawang siapa dia. Sepertinya aku kenal. Itu seperti Dion.

Aku berjalan perlahan menghampirinya. Benar saja, itu Dion. Semakin dekat, semakin jelas terlihat Dion sedang berbaring di bawah bayangan pohon yang cukup rindang.

A Lesson For UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang