Bagian #22/24 - Not A Confession

2.6K 182 11
                                    

Bianca

Setelah semalaman aku terlelap dengan tubuh yang begitu lemah, akhirnya aku tebangun di pagi hari. Aku merasa lebih segar. Entah kemarin aku kenapa. Mungkin efek dari begadang semalaman mempersiapkan ujian. Setelah tidur cukup, aku langsung merasa lebih baik.

Aku keluar kamar dan melihat ibuku hendak membawa makanan dan minuman serta obat ke kamarku.

"Loh kok kamu turun dari kasur?" tanya ibuku heran.

"Aku udah gak apa-apa mam, aku cuma butuh istirahat kemarin," jawabku lembut.

Ibuku tersenyum. "Ya tapi tetep kamu harus banyak istirahat Bi, kemarin kamu sampai pingsan loh," ucap ibuku dengan nada khawatir.

"Untung Erlang langsung gotong kamu ke dalem," tambahnya membuat mataku sedikit terbelalak.

"Erlang?"

"Iya, Erlang. Dia kelihatan panik banget waktu kamu pingsan. Mama aja kalah panik sama dia," ibuku terkekeh.

Aku bergumam dalam hati. Bukankah yang membawaku masuk adalah Dion?

Aku mencoba mengingat-ingat kembali kejadian kemarin, tapi tidak ada gunanya. Aku tidak bisa mengingat apapun. Tapi bukankah kemarin juga Dion merawatku? Atau aku hanya mimpi?

"Terus kemarin Dion pulang jam berapa?" aku bertanya pada ibuku penasaran.

"Dion?" ibuku mengerutkan dahi. "Kemarin gak ada Dion, cuma ada Erlang."

Aku semakin terkejut. Apa aku benar-benar bermimpi? Tapi jika itu mimpi, mengapa terasa begitu nyata?

"Bi," ucap ibuku memecah lamunanku. "Kok ngelamun?" tambahnya.

"Oh, enggak," jawabku singkat sambil mengambil nampan makanan, minuman, dan obat dari ibuku.

"Jangan lupa diminum obatnya ya," ucap ibuku.

Aku mengangguk mantap lalu kembali masuk ke dalam kamar. Aku meletakkan nampan yang ku bawa di atas meja belajar.

Aku duduk di sisi tempat tidurku. Aku masih berusaha mengingat-ingat kejadian kemarin. Tapi tetap saja, tidak berhasil.

***

Masa ujian memang sudah lewat. Bahkan sebenarnya sudah tidak ada lagi yang bisa di lakukan di sekolah. Tidak ada lagi jadwal belajar di dalam kelas. Semua pelajaran SMA-ku sudah habis. Akan tetapi aku masih enggan meninggalkan sekolah ini. Aku masih selalu datang ke sekolah meskipun hanya untuk duduk-duduk di kantin ataupun perpustakaan.

Sudah tiga hari tidak ada kabar dari Erlang. Ia tidak pernah meneleponku. Bahkan teleponkupun tidak bisa terhubung. Aku tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba menghilang.

Aku sempat bertanya pada Anna. Anna adalah sepupu Erlang. Ia pasti tahu Erlang kenapa. Anna memberi tahuku bahwa handphone Erlang baru saja hilang. Baiklah, jadi itu sebabnya.

Tapi aku masih tak habis pikir. Apa ia tidak bisa meminjam hp Anna hanya untuk sekedar mengabariku?

Hari ini aku memutuskan untuk mendatangi rumah Anna. Aku ingin bertemu langsung dengan Erlang. Kalau saja Erlang tidak tinggal serumah dengan Anna, aku pasti tak akan bisa menemukannya di saat-saat seperti ini.

Taksi yang aku naiki berhenti tepat di depan rumah Anna. Perumahan rumah Anna cukup luas. Untuk orang asing yang tidak memegang alamat lengkap rumah Anna pasti tersesat. Aku saja yang mungkin sudah datang ke tempat ini beberapa kali masih kesulitan jika harus menunjukkan jalan pada sopir taksi. Aku lebih memilih memberikan tulisan alamat lengkap rumah Anna pada pak sopir.

A Lesson For UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang