Dion
Aku bergerak tergesa-gesa pagi itu. Aku menyumpal mulutku dengan selembar roti tawar sambil mengikat tali sepatu. Seragam putih biru yang kukenakan tampak berantakan. Aku benar-benar belum siap untuk berangkat sekolah pagi ini.
"Pelan-pelan nelen rotinya Dion," ucap ibuku.
"Aku udah telat bu," kataku tak jelas karena mulutku masih dipenuhi oleh roti yang belum juga mampu kutelan.
"Suruh siapa kamu bangun siang banget," ucap ibuku sedikit menyeramahiku.
Tali sepatuku sudah terikat. Aku bangkit dari sofa tempatku duduk tadi dan segera meraih tas selempang hijau yang tergeletak di lantai.
"Awas jangan ada yang ketinggalan," kembali ibuku memperingatkanku.
"Gak ada yang ketinggalan kok," ucapku ringan.
"Buku PR?"
"Udah," jawabku singkat.
"Uang?"
"Udah," aku memegang kantong kemejaku.
"Bekal makan siang?"
"Gak usah bu, nanti aku bisa beli makan di sekolah."
Ibuku berkacak pinggang.
"Aku pergi ya bu," ucapku lembut sambil menarik dan menyalami telapak tangan ibuku.
Aku bergerak cepat menuju meja tamu. Pandanganku kuedarkan ke setiap sudut meja itu.
"Kunci motor mana bu?" tanyaku.
"Buat apa?" alih-alih menjawab, ibuku justru bertanya balik padaku.
"Aku pinjam motor buat hari ini aja bu, kalau pake sepeda pasti telat."
Ibuku sedikit memelototiku. "Kamu belum punya SIM, Dion," ucapnya khawatir.
"Gak apa-apa bu, sekali ini aja, lagi pula aku udah lebih jago dari ibu kok bawa motornya," ucapku mengelak.
Akhirnya mataku terhenti pada kunci motor yang tergeletak di ujung meja tamu. Aku menyambar kunci tersebut dan langsung bergerak menuju sepeda motor yang diparkirkan di depan rumah.
Aku segera mengenakan helm yang tergantung dan melirik sedikit ke arah ibuku. Aku melihat ada sedikit kekhawatiran di mata ibuku. Segera aku tersenyum lebar mencoba meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Setelah itu langsung kutarik pedal gas dan saat sepeda motorku mulai melaju, aku mendengar suara ibuku setengah berteriak.
"Hati-hati, Dion."
***
Gerbang sekolah masih terbuka lebar. Artinya aku masih belum terlambat. Saat tinggal beberapa jengkal lagi dari gerbang tersebut, barulah aku teringat sesuatu. Guru piket tak pernah mengizinkan seorang siswa pun untuk membawa sepeda motor ke sekolah.
Aku membanting kemudi motorku dan melaju ke gang sempit samping sekolah. Aku membawa motorku ke satu toko tempat biasa aku dan teman-temanku nongkrong.
Aku meminta izin pada pemilik toko untuk memarkirkan motorku di tempatnya. Untung saja, bapak pemilik toko itu adalah orang yang baik. Aku senang motorku bisa kuparkirkan di tempat aman.
Aku berjalan kembali ke gerbang depan sekolah. Langkah yang kuambil kupercepat. Pintu gerbang masih terbuka. Tepat setelah aku melewatinya, gerbang itu ditutup. Banyak siswa yang terjaring tak bisa masuk karena kurang cepat sepersekian detik. Aku termasuk yang beruntung dapat melewati gerbang itu di detik-detik terakhir.
Tiba-tiba aku kembali teringat sesuatu. Aku segera mengubrak-abrik isi tas. Buku PR sejarahku ada di dalam tas tapi buku sejarah milik Anna, aku tak melihatnya. Celaka, aku meninggalkannya di meja belajarku.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Teen FictionKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...