Anna
"Kenapa semuanya jadi kaya gini?" aku terisak sambil memeluk Bianca. Aku benar-benar merasa bersalah. Semua yang aku mulai berakhir seperti ini.
Mengapa harus menjadi begini? Aku tidak ingin seperti ini. Aku terus membatin.
"An," Bianca mengucap namaku lirih.
Aku tahu Bianca dan Dion pasti sangat terkejut. Aku memang tidak menceritakan apapun. Satu tahun lebih, aku menyembunyikan semuanya dari mereka.
***
"An, bisa dengar saya kan?"
Aku terkejut. Dari awal aku tidak bisa mendengar, sedikit demi sedikit aku bisa merasakan kembali suara, hingga akhirnya kini aku bisa mendengar suara agak jelas.
Aku mengangguk tidak percaya.
Dokter yang sedang berada di hadapanku tersenyum. Ia seperti telah melepas napas lega. Ia menyandarkan kembali dan melemaskan tulang punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki.
Aku melihat wajah ibuku. Matanya berkaca-kaca. Ia tersenyum bahagia.
"Pendengaran Anna sekarang sudah kembali hingga 40% bu," samar-samar aku mendengar dokter berbicara pada ibuku yang disambut air mata haru.
Kemampuan mendengarku sudah pulih hingga 40%. Aku belum bisa percaya itu. Bahkan jika aku terus dengan rutin menjalani terapi ini, dokter bilang kemampuan mendengarku akan terus meningkat. Ia bilang trauma telinga tidak permanen. Aku harus terus berusaha.
Untuk sementara, dokter menyarankan aku untuk mengenakan alat bantu pendengaran. Akan tetapi aku menolak. Aku tak tahan membayangkan bagaimana tatapan orang-orang padaku.
Mengenakan alat bantu dengar menurutku membuat aku terlalu berbeda. Aku tidak suka dipandang berbeda. Lagi pula, aku sudah terbiasa berkomunikasi melalui tulisan.
***
Pagi itu aku mencari rekaman suara yang dibuat Dion untukku beberapa tahun lalu. Aku ingin mendengarnya kembali. Memang masih terdengar agak samar, tapi aku senang bisa kembali mengingat suara Dion itu.
Hari ini Dion dan Bianca mengajakku untuk jalan-jalan di taman. Mungkin ini waktu yang tepat untuk memberi tahu mereka kabar gembira yang aku terima.
Sepanjang hari aku tak bisa menghapus senyum dari wajahku. Terkadang Dion atau Bianca menatapku heran tapi aku tak menghiraukannya.
Selama berjalan di taman, Bianca dan Dion asik mengobrol. Aku bisa menangkap beberapa percakapan mereka. Dan yang mengejutkan adalah mereka sedang membicarakan aku. Bianca mendesak Dion untuk menyatakan perasaannya padaku hari itu. Sontak aku merasa canggung saat itu.
Tiba-tiba Bianca menatapku sambil tersenyum geli. Lalu ia menarikku menuju satu bangku panjang di taman itu. Kami duduk di atasnya. Aku melihat Bianca menulis sesuatu dan menyerahkannya padaku.
Dion mau bilang sesuatu sama kamu An.
Aku sedikit gemetar membaca tulisan tersebut.
Setelah itu, Bianca pergi meninggalkan kami berdua. Aku melihat Dion begitu canggung. Dan kecanggungannya itu berhasil mempengaruhiku juga.
Aku menunggu Dion mengatakan sesuatu. Ia menyiapkan beberapa lembar kertas. Sepertinya ia sungguh-sungguh akan menyatakan perasaannya padaku.
Ia mengangkat lembaran pertama.
An, dari dulu kamu tahu kan aku suka sama kamu?
Diikuti lembaran kedua.
Beberapa kali aku nyatain perasaan aku sama kamu dan kamu nolak.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Fiksi RemajaKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...