Bagian #6/24 - Bahasa Rahasia

3.1K 233 7
                                    

Bianca

"Ayo Yon, serius dong latihannya," ucapku dengan nada agak tinggi.

Aku kesal melihat Dion yang tampak ogah-ogahan berlatih bahasa isyarat denganku.

"Ini konyol Bi, kita gak perlu kaya gini kali, Anna kan..." ucapnya malas.

"Udah lakuin aja sih, kamu jadi cowok gitu banget, usaha dikit lah kalo mau dapetin Anna," aku memotong kalimatnya yang belum ia ucapkan secara utuh.

Dion tampak melanjutkan latihan kami dengan terpaksa. Ia tampak tak memiliki semangat untuk latihan ini. Aku heran, apa yang salah dengan belajar bahasa isyarat. Aku memintanya melakukan ini pun agar ia bisa memiliki nilai lebih untuk mendapatkan Anna.

***

Satu bulan sudah kami menghabiskan waktu untuk berlatih bahasa isyarat bersama. Perkembangan aku dan Dion begitu pesat. Saat ini kami sudah menguasai beberapa kalimat dan frase dalam bahasa isyarat.

"Kamu udah siap Yon," ucapku sambil tersenyum.

"Siap?" ia bertanya kebingungan. "Siap untuk apa?" tambahnya.

"Siap nembak Anna," ucapku singkat.

Ia tampak terkejut. Matanya terbelalak.

"Aku? Nembak Anna?" Dion tersenyum miris lalu kembali berkata, "Kamu gila Bi."

"Kenapa lagi? Kamu suka sama dia, masa kamu gak mau jadian sama dia?" tanyaku heran.

Aku melihat keraguan di wajah Dion. Ia tampak tak percaya diri.

"Gampang ko Yon, sekarang anggap aku Anna, kamu cuma perlu pegang tangannya terus lihat ke matanya," kataku sambil meraih tangan Dion.

Dion tak berontak. Ia justru menggenggam tanganku lebih erat, lalu ia menatap lurus ke mataku lekat. Aku merasa aneh dengan pandangannya itu. Aneh, tapi hangat.

Tak lama setelah kami saling pandang, aku menarik tanganku dari genggamannya.

"Kamu udah siap Yon," aku kembali berkata sambil tersenyum tipis.

Dion menghela napas dalam sambil terpejam.

***

Hari ini kami berjalan bertiga. Aku, Dion, dan Anna. Suasana sore di taman ini sungguh aneh. Aku tak berbicara sedikitpun dengan Dion maupun Anna. Begitupun dengan Dion yang tak berbincang sedikitpun denganku dan Anna.

"Dion," aku memecah keheningan. "Kamu mau mulai kapan?"

Dion menoleh ke arahku sejenak dengan wajah datar. Lalu ia kembali menatap ke depan tanpa menjawab apapun. Aku mulai kesal dengan kelakuan cuek orang itu. Aku menarik tangan Anna yang sejak tadi berjalan beberapa langkah lebih depan dari kami berdua.

Anna menoleh kearahku sambil tersenyum. Lalu kubawa dia ke satu bangku taman tepi kolam. Aku mengajaknya duduk di sana.

Dion hanya diam, berdiri memandang kami berdua sampai Anna melihatnya dan bergeser memberi ruang untuk Dion duduk.

Dion berjalan perlahan menghampiri kami berdua. Dia duduk di samping Anna.

Aku mengeluarkan secarik kertas dan menulis sesuatu di sana.

Dion mau bilang sesuatu sama kamu An.

Aku memberikan kertas itu pada Anna.

"Apa-apaan kamu Bi?" ucap Dion gelagapan. Tampaknya ia juga dapat membaca tulisanku.

Saat Anna menghadapkan wajahnya pada Dion, aku berdiri dan mengacungkan kedua ibu jariku untuk Dion. Sebelum aku pergi meninggalkan Dion bersama Anna, aku memberikan gerakan kecil bibirku untuknya.

A Lesson For UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang