Bianca
Aku mengikuti suatu pameran perguruan tinggi. Aku melihat-lihat setiap fakultas dan jurusan-jurusan kuliah yang dipamerkan di koridor sekolahku. Mulai dari sains, teknik, sastra, sampai pendidikan. Pos yang selalu dipenuhi pengunjung adalah pos jurusan-jurusan dari universitas favorit di Indonesia.
Aku pergi ke pameran tersebut bersama Dion. Awalnya aku mengajak Erlang dan Anna, tapi mereka berdua tidak bisa ikut dengan kami.
Lagi pula jika Anna ikut bersama kami ke tempat ini, aku khawatir ia sedikit tertekan. Semua orang tampak serius mendengarkan penjelasan dari penjaga pos. Dan yang aku tahu, Anna pun tak ingin melanjutkan kuliah. Ia pernah bercerita padaku, menurutnya belajar di kelas itu tidak menyenangkan untuknya. Ia harus melihat sekaligus mendengar dengan matanya. Itu sangatlah sulit.
"Penuh banget Bi," Dion tampak mengeluh melihat orang-orang memadati tiap pos pengenalan jurusan-jurusan perkuliahan.
"Kalau mau sepi, ke kuburan aja Yon," jawabku sambil terkekeh.
Dion tak menanggapiku dan langsung mempercepat langkahnya. Ia membuatku sulit untuk menyamai kecepatannya.
"Buru-buru amat," ucapku setengah berteriak karena suaraku kalah oleh suara orang-orang yang berkerumun di sekitar kami.
Akhirnya Dion berhenti. Aku pun ikut berhenti dan berdiri di sampingnya.
"Kita mau ke pos mana dulu?" ucap Dion. "Semuanya penuh," tambahnya.
Aku melihat ke setiap sudut koridor sekolah yang sekarang ini disulap menjadi tempat pameran. Mataku terhenti pada satu pos bertuliskan Teknik Mesin ITB.
Aku menggenggam erat pergelangan tangan Dion dan langsung menariknya ke pos itu.
"Teknik mesin?" Dion terdengar bergumam. Ia tampak memandangku heran.
Aku dengan semangat menghampiri si penjaga pos. Aku bertanya banyak hal tentang jurusan teknik mesin. Jurusan ini didominasi oleh kaum pria, tapi entah kenapa aku tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang jurusan ini.
Setelah aku puas bertanya, aku kembali pada Dion membawa selembar brosur yang berisi informasi tentang teknik mesin. Dion tampak cengengesan melihatku menghampirinya.
"Kenapa senyum-senyum?" ujarku.
"Gak apa-apa," jawab Dion sambil tetap tersenyum geli.
Aku mengerucutkan bibirku dan menatap tajam padanya.
Dion tersenyum lebar dan menarik pergelangan tanganku. "Sekarang giliran kamu yang anter aku," ucapnya.
Aku hanya pasrah saat Dion menarikku. Aku tak tahu sebenarnya dia ingin pergi kemana. Ia menarikku keluar dari kerumunan dan justru menjauh dari lokasi pameran.
"Kita mau kemana?" tanyaku sambil terus berjalan mengikutinya. Kali ini tangan Dion sudah terlepas.
"Ikut aja," ucapnya singkat.
Kami berjalan menuju area parkir. Aku rasa Dion akan mengajakku keluar sekolah. Setelah ia siap dengan sepedanya, aku duduk di jok belakang. Dion mulai mengayuh.
***
Sepanjang jalan kami saling diam. Bahkan aku tak menanyakan lagi kemana ia akan membawaku, meskipun jalan yang ia ambil tak pernah aku lalui sebelumnya. Jalan ini berbeda dengan jalan yang biasa kami lalui saat Dion mengantarku pulang.
Perjalanan ini cukup panjang. Aku heran dengan Dion yang terus mengayuh sepedanya tanpa lelah. Mungkin karena ia sudah terbiasa menempuh jarak yang jauh dengan sepeda ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Novela JuvenilKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...
