Bagian #9/24 - Friend Zone (part 1)

3.2K 205 14
                                    

Bianca

Aku lebih banyak menghabiskan dua minggu sisa waktu liburanku bersama Erlang. Aku mendengar banyak cerita tentang Dion dan Anna darinya. Aku semakin memahami seluk-beluk cerita Dion dan Anna dan aku pun semakin paham bagaimana Dion bisa begitu manis pada Anna disaat ia begitu tak acuh pada orang-orang lain yang ada disekitarnya.

Sedikit demi sedikit, tanda tanya tentang Dion yang bersarang dibenakku sejak lama mulai terjawab. Semua berkat pertemuanku dengan sosok Erlang ini. Aku benar-benar senang bisa berjumpa dengannya.

"Kamu serius? Dion pernah makan belalang hidup-hidup cuma gara-gara ditantang Anna?" aku bertanya sambil memasang raut terkejut.

Erlang mengangguk mantap. Sontak aku terbahak hebat. Aku benar-benar tak menyangka Dion bisa sekonyol itu dulu.

"Ya itulah Dion, dia benar-benar teman yang luar biasa, dia selalu bisa buat aku dan sepupuku Anna ketawa," kata Erlang setelah tawa kami reda.

Kami saling diam sejenak. Mencoba mengendurkan otot perut yang menegang karena terlalu banyak tertawa.

"Kayanya aku terlalu banyak cerita ya?" ucap Erlang lembut.

Aku menggeleng. "Enggak ko, aku seneng bisa denger cerita dari kamu," aku tersenyum.

Erlang membalas senyumku dan kembali berkata, "Sekarang gantian, aku ingin denger cerita kamu."

Aku mengangkat alis dan berkata, "Aku? Cerita apa?"

"Apapun," jawabnya singkat.

Aku memutar otak dan aku tak menemukan satupun hal menarik yang bisa kuceritakan. "Aku gak tahu harus cerita apa Lang, maaf."

Erlang tersenyum dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Kalau gitu, aku ingin tahu gimana kamu bisa deket sama Dion dan Anna? Okelah kalau Anna, ini Dion, kamu bisa jadi temen deketnya itu sesuatu yang sangat hebat," ucapnya. "Mungkin Dion bisa punya banyak temen, tapi gak pernah lihat loh yang bisa sedeket aku, Anna sama dia, kecuali kamu."

Aku kembali menelusuri memoriku. Momen-momen bersama Dion itu terus muncul silih berganti seperti putaran film di kepalaku. Spontan aku menceritakan tentang pertemuan kami di taman untuk pertama kali, tentang ospek yang kita lewati, hingga kejadian-kejadian di kelas yang mendekatkan aku dengan Dion.

Sesekali Erlang terkekeh mendengar ceritaku.

"Kamu suka sama Dion?"

Deg!

Ada sesuatu yang mengganggu jalan napasku saat Erlang mengajukan pertanyaan kecilnya itu. "Kenapa kamu nanya gitu? Aku... gak mungkin lah... aku cuma seneng temenan sama dia," jawabku agak gelagapan.

Erlang memutar bola matanya. "Ya, siapa tahu aja," Erlang terkekeh.

"Berarti aku punya kesempatan ya?" kali ini ia tampak tersenyum geli.

"Tentu," ucapku singkat.

Erlang tampak langsung menegakkan posisi duduknya. Wajahnya tampak berubah, cengiran gelinya menghilang.

"Aku gak tertarik sama Dion, jadi kamu punya kesempatan buat deketin Dion," tambahku diikuti tawa lepas.

Tulang punggung Erlang tampak melunak. Tubuhnya kembali tersandar di kursinya. Ia kembali tersenyum.

***

Masa liburan benar-benar berakhir. Aku sudah harus mulai bersekolah lagi pagi ini.

Koridor sekolah masih sepi. Sepertinya aku datang terlalu pagi. Aku melangkah perlahan sambil melipat tanganku di dada. Udara dingin pagi ini benar-benar menusuk hingga ke tulang.

A Lesson For UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang