Bagian #11/24 - A Little Secret

2.5K 192 5
                                    

Dion

"Dion!"

Aku menoleh ke belakang. Aku melihat Erlang yang mengenakan jas hitam berlari ke arahku. Pakaiannya sangat rapi. Dibalik jas itu ia mengenakan kemeja putih dan dasi hitam bercorak garis merah.

"Telat setengah jam Lang," ucapku datar.

"Sorry sorry... aku tadi kena macet," ucap Erlang sambil menjulurkan lidah.

Erlang memiliki kebiasaan yang sulit diubah. Ia memiliki hobi terlambat. Tidak peduli acara apapun itu. Bahkan di acara penting seperti malam ini. Acara ulang tahunnya sendiri.

"Mana Anna dan Bianca?" tanya Erlang sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut lobby hotel.

"Anna lagi di toilet sama Bianca," jawabku.

Erlang tampak menghela napas dalam. "Aku kira Bianca gak akan dateng," ucapnya.

Tak lama Anna dan Bianca kembali dari toilet. Anna tampak begitu cantik malam ini. Gaun selutut tanpa lengan yang berwarna hitam membalut tubuhnya. Begitupun dengan Bianca yang mengenakan gaun berwarna krim.

"Wah wah, aku gak tahu Bianca bisa secantik itu," ucap Erlang setengah berbisik kepadaku. Dalam hati, aku menyetujuinya.

"Akhirnya kamu dateng juga Lang," ucap Bianca. "Kamu yang ngundang kami ke pesta ulang tahun kamu, tapi malah kamu sendiri yang telat. Kan kasian Anna yang udah nyiapin semuanya."

Pesta ulang tahun ke-17 Erlang yang diselenggarakan di sebuah resto di daerah braga ini bukan sepenuhnya keinginan Erlang. Anna yang diminta oleh orang tua Erlang untuk menyiapkan semua ini untuk Erlang.

"Iya, maaf," ucap Erlang sambil cengengesan

Pestapun di mulai. Acara yang disusun oleh Anna berjalan rapi. Dekorasi yang menghiasi resto ini begitu elegan. Pesta ulang tahun ini benar-benar hebat.

Tiba saatnya untuk Erlang meniup 17 batang lilin kecil di atas kue coklat yang tampak lezat. Sejak awal acara, Erlang meminta Bianca terus di sampingnya. Ia terang-terangan mengucapkan pada Bianca, bahwa potongan pertama kuenya akan diberikan padanya.

Setelah momen pemotongan kue, barulah Erlang sibuk dengan teman-temannya. Bianca pun menghampiri aku yang sejak awal acara hanya duduk di kursi bagian belakang resto.

"Dion, ayo gabung ke depan. Acara masih panjang," ucap Bianca.

"Gak deh, aku lebih suka di sini."

Bianca mengangguk mengerti.

"Anna dimana?" tanya Bianca sambil melihat ke setiap sudut ruangan.

Aku baru menyadari bahwa Anna sudah tidak ada di sampingku. Sejak tadi Anna menikmati acara hanya dengan duduk di sampingku. Kini dia menghilang.

Aku ikut mengedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan.

"Itu Anna," ucap Bianca sambil menunjuk ke arah pintu keluar resto.

Anna tampak berjalan keluar dari resto. Aku dan Bianca terdiam sejenak.

"Kejar dia Yon," ucap Bianca.

Aku mengarahkan pandanganku pada wajah Bianca. Bianca tampak tersenyum. Tak lama, aku berjalan meninggalkan Bianca dan keluar dari resto.

Aku mengikuti langkah Anna. Anna berjalan menyusuri trotoar jalan braga yang cukup ramai, hingga ia menemukan sebuah kursi panjang di depan sebuah mini market. Anna duduk di kursi itu.

Aku ikut duduk di samping Anna. Kami saling diam hingga Anna mengeluarkan ponselnya dan mulai sibuk dengan itu.

Ponselku bergetar.

From: Anna

Kenapa kamu ikut keluar? Acaranya belum selesai.

Sejenak, aku menatap Anna yang duduk disampingku. Lalu aku membalas pesannya.

To: Anna

Aku bosan di dalam

Tak lama setelah itu ponselku kembali bergetar.

From: Anna

Bosan kenapa?

To: Anna

Aku gak suka musiknya

From: Anna

Oh gitu ya

Kami kembali terdiam. Untuk beberapa saat tak ada saling berbalas pesan diantara kami. Hingga sepuluh menit berlalu, barulah satu pesan dari Anna kembali masuk ke ponselku.

From: Anna

Boleh aku bilang sesuatu?

To: Anna

Silakan

From: Anna

Agak miris waktu kamu bilang gak suka musiknya. Aku udah lupa seperti apa yang namanya musik.

Aku sedikit tercekat membaca pesan Anna. Rasa bersalah menjalar di seluru tubuhku. Aku bingung. Tak tahu harus membalas apa. Entah apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku membahas musik dengan Anna.

Ponselku kembali bergetar.

From: Anna

Kali ini boleh aku minta sesuatu?

To: Anna

Tentu

From: Anna

Aku ingin pinjam earphone kamu.

Entah apa yang ingin ia lakukan, aku langsung memberikan apa yang ia minta.

Anna tampak menghubungkan earphone-ku dengan ponselnya. Aku melihatnya memutar musik dari ponsel tersebut lalu memasangkan earphone-ku di telinga kanannya.

Anna tampak menyodorkan sebelah earphone yang ia pakai padaku. Aku menerimanya dan memakainya di telinga kiriku. Terdengar sebuah lagu melantun lembut.

Anna tampak menghentak-hentakkan kakinya mengikuti irama tertentu. Ia terlihat seolah sedang menikmati musik itu. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya aku menyadari ada bulir bening yang meleleh di pipi Anna.

***

Pukul sepuluh malam. Aku dan Anna masih duduk di samping jalan braga yang semakin malam justru semakin ramai. Kali ini kami tidak sedang menggunakan earphone. Kami hanya duduk dan saling diam.

Lagi-lagi ponselku bergetar.

From: Anna

Maaf ya Dion

Aku tak tahu harus membalas apa. Suasana seperti ini membuatku benar-benar canggung.

To: Anna

Maaf kenapa?

From: Anna

Gak apa-apa, maaf aja :)

Kami kembali terdiam. Aku tidak tahan dengan keadaan seperti ini. Aku mengambil kembali ponselku dan mengirim pesan pada Anna.

To: Anna

An, aku mau bilang sesuatu.

Anna tampak heran membaca pesanku.

From: Anna

Bilang aja

Aku merasa ini waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengetikkan semua yang ada di kepalaku dan mengirimkannya pada Anna.

Pesan yang kutulis cukup panjang. Anna mambutuhkan waktu yang cukup lama untuk membacanya. Tapi saat Anna selesai membaca pesanku, aku melihat ada senyum tipis melengkung di bibirnya. Melihat raut wajahnya itu, aku merasa lega.

***

" Faith won't make a confession, you do."

***

A Lesson For UsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang