Dion
Aku menyukai Bianca atau Anna? Tiba-tiba saja pikiranku menjadi begitu rumit saat melihat Anna dan Bianca sedang bertukar tulisan sambil tertawa lepas.
"Oi," seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Aku menoleh dan kulihat senyum geli itu lagi. Erlang.
Aku kembali memalingkan wajahku malas. Bosan melihat wajah itu lagi.
"Ngeliatin doang nih?" ucap Erlang sambil duduk di sampingku.
"Ngeliatin apaan maksud kamu?" aku balik bertanya.
Erlang terkekeh, "Sok-sokan kamu tuh Yon, aku tahu kok kamu liatin Anna sama Bianca, kan. Kenapa gak duduk bareng aja sama mereka?"
"Aku lebih suka di sini," jawab singkat.
"Aku lebih suka di sini," Erlang meniru bicaraku, itu tampak seperti sebuah ejekan. "Gak berubah kamu tuh Yon, masih aja payah kaya dulu," tambahnya.
Terserah, ucapku dalam hati.
"Kalau kamu suka sama Anna, mendingan kamu omongin Yon," ucap Erlang. "Kayanya Anna juga udah suka sama kamu dari dulu," tambahnya.
Aku terdiam sejenak sebelum menanggapi omongannya, "Sok tahu kamu."
Erlang memutar bola matanya lalu berkata, "Aku gak sok tahu Yon, kamu aja yang gak peka sama cewek."
Ada sedikit bagian diriku yang menyetujui kata-kata Erlang. Sepertinya memang aku kurang peka terhadap Anna. Jika diingat-ingat, sikap Anna memang lembut padaku. Bahkan setelah insiden yang dulu terjadi, ia masih bisa kembali lembut padaku.
"Kamu tembak dia besok," ucap Erlang. Lagi-lagi aku menatapnya bingung.
"Takut?" ia membalas tatapan bingungku dengan wajah meledek. Aku tidak menjawabnya. Aku hanya kembali memalingkan wajah.
"Aku bantu deh Yon, nanti kita buat rencananya bareng-bareng," Erlang terus mengoceh dan aku hanya mencibirnya.
"Gila."
Erlang tampak menggelengkan kepalanya. "Ya udah deh, payah kamu udah akut, gak bisa diapa-apain lagi, pantes kamu masih aja jomblo sampe sekarang," ucap Erlang mengintimidasi.
"Kamu juga masih jomblo Lang, gak usah ngatain orang," ucapku membalas cibirannya. Aku terkekeh.
"Idih, enak aja, lihat ya, besok aku bakalan nembak Bianca, nyesel kamu Yon udah ngomong kaya gitu," kali ini ia tersenyum meremehkan.
Aku sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir Erlang tadi. Untuk beberapa saat, aku sulit menelan ludah. Seperti ada yang mengganjal di kerongkonganku.
"Seriusan?" aku bertanya sambil berusaha memasang raut sedatar mungkin. Aku tak ingin tampak terkejut.
"Ya, aku sih kalau suka sama cewek ya bakal aku omongin, gak kaya kamu Yon," Erlang terbahak.
Entah ini hanya kaget atau perasaan tidak mau menerima kenyataan bahwa Erlang akan mengambil sikap atas perasaanya pada Bianca. Ini terlalu terburu-buru. Aku belum sempat menjawab pertanyaanku sendiri, apakah aku menyukai Bianca? Atau Anna?
"Besok pulang sekolah, kamu lihat gimana cara aku nyatain perasaan aku ke Bianca ya, biar kamu juga belajar," ucap Erlang yang lagi-lagi diikuti oleh tawa kecil. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum simpul.
Aku kembali memandangi Anna dan Bianca yang masih asik tertawa berdua. Kali ini pandanganku lebih terfokuskan pada Bianca dengan senyum khasnya. Senyum yang mungkin besok akan menjadi milik orang lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Fiksi RemajaKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...