Bianca
Hampir sebulan aku berpacaran dengan Erlang. Aku merasa belum ada yang berubah dengan pertemanan kami berempat, aku, Dion, Erlang, dan Anna.
Saat jam istirahat, Dion masih tidak mau duduk bersamaku dan Erlang. Saat aku mempertemukan Dion dan Erlang dengan sengaja pun, mereka masih saja diam tak saling sapa sedikitpun. Erlang masih begitu dingin dengan Dion, begitu pun sebaliknya dengan Dion. Entah sampai kapan keadaan ini akan bertahan.
Mendekati ujian akhir, masa-masa SMA-ku semakin terasa hambar. Aku dan Dion sama-sama fokus untuk belajar. Aku pun lebih banyak menghabiskan waktu dengan Erlang. Sehingga aku dan Dion sekarang seakan memiliki kehidupan sendiri-sendiri.
"Kamu serius mau masuk teknik mesin Bi?" lagi-lagi Erlang menanyakan pertanyaan itu padaku. Sejak kami jadian, kami mulai saling membuka diri. Erlang menjadi lebih tahu banyak hal tentangku dan sebaliknya aku pun menjadi jauh lebih banyak tahu tentang Erlang.
Erlang terkejut saat mengetahui aku ingin sekolah di jurusan teknik mesin. Sama seperti yang lainnya, ia meragukan keinginanku.
"Perlu aku jawab lagi?" jawabku ketus. Aku bosan ditanya hal itu terus.
Erlang tersenyum. "Gak usah ngambek dong, aku kan cuma nanya," ucapnya sambil mengelus-elus kepalaku.
Saat ini kami berdua sedang berada di perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah kami tidak begitu luas, hanya berukuran ruang kelasku. Buku-buku tertata di rak yang tersandar di dinding. Di tengah ruangan kursi dan meja berjajar rapi.
Kami berdua beberapa hari terakhir selalu berada di tempat ini sepulang sekolah. Kami mempersiapkan diri untuk ujian akhir satu minggu lagi. Sebenarnya belajar seperti ini bukan kebiasaanku. Aku lebih suka belajar di saat memang aku ingin belajar, bukan di jam yang terjadwal seperti ini.
Erlang begitu berambisi untuk masuk sekolah kedokteran. Aku tidak tahu bagaimana cara aku mendukungnya selain sekedar menemaninya belajar.
"Bi," Erlang memecah lamunanku. "Ngambek beneran?" tanyanya sambil tersenyum geli.
"Jangan ngambek dong," kali ini ia mencubit lembut pipiku. "Oke, sekarang kita cari es krim, aku yang traktir deh, mau gak?"
Erlang mencoba menyuapku dengan es krim, itu tidak akan berhasil. Sesekali ia harus diberi silent treatment.
"Aku beliin lima scoop, gimana?"
Aku masih tidak menjawabnya.
"Sepuluh scoop?"
Aku tetap diam.
"Sepuasnya kamu deh sampe kamu mabok es krim, gimana?"
Erlang melipat tangannya di dada. Ia menghela napas dalam. Aku kasihan melihatnya. Erlang adalah orang yang sangat mudah merasa bersalah, terutama padaku. Setiap kali aku ngambek, atau sekedar pura-pura ngambek, ia selalu tampak begitu lemas. Ia tidak akan berhenti meminta maaf atau menghiburku sampai aku mau bicara lagi dengannya.
Ia memperlakukanku benar-benar seperti seorang tuan putri. Ia sangat memanjakanku. Terlalu memanjakanku.
"Aku gak mau rasa cokelat ya, baru kemarin kamu beliin es krim cokelat," ucapku tanpa mengalihkan mataku dari buku yang sedang aku baca.
Senyum lebarnya langsung terkembang. Ia bergegas merapikan barang-barangnya dan barang-barangku lalu menarikku keluar dari perpustakaan.
***
Dion
Besok hari terakhir sekolah sebelum aku menghadapi ujian akhir. Akan tetapi semangat belajarku justru semakin merosot. Aku benar-benar tidak tertarik untuk membuka buku pelajaran. Apalagi saat aku memasuki perpustakaan sekolah yang tiba-tiba ramai oleh siswa-siswi yang akan menghadapi ujian besok.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Lesson For Us
Roman pour AdolescentsKata maaf kadang menjadi pelajaran untuk Bianca dan Dion. Pelajaran untuk lebih tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh keduanya. Hidup dua orang remaja memang tidak akan begitu kompleks. Akan tetapi waktu terus berjalan. Tak ada yang...
