Bagian #24/24 - Pada Akhirnya

3.2K 181 8
                                        

Dion

Kedua kakiku lemas saat mendengar semua cerita yang diutarakan Anna. Antara merasa bodoh,  atau dibodohi. Anna sungguh luar biasa dapat menutupi semua itu cukup lama.

Entah apa yang harus aku katakan. Aku tidak pernah mengira cerita di antara kami ber-empat bisa serumit ini. Kisah seperti ini seharusnya hanya terjadi pada cerita fiksi. Aku tidak pernah berharap memiliki cerita seperti ini. Aku hanya ingin hidup biasa. Berteman seperti biasa.

Seredanya isakan Anna, kami berempat berjalan bersama keluar hotel. Alih-alih mengikuti prom yang sudah dirancang, kami malah meninggalkan aula hotel.

Cukup lama kami saling diam di tepi kolam renang tempat kami berada sekarang. Yang berkuasa saat ini hanya aroma kaporit dan suara riakan air. Lalu ada juga sisa isakan Anna yang sekali-kali aku dengar.

Anna duduk di bangku panjang di tepi kolam renang. Di sampingnya, Bianca duduk sambil terus menenangkan golakkan yang terus membuat Anna tampak begitu kacau. Ia membiarkan Anna menyandarkan kepala di pundaknya.

"Kita harus selesaikan sekarang," ucap Erlang memecah keheningan.

Aku tak menanggapinya. Aku hanya sibuk berpikir sendiri. Bagaimana caranya dengan kondisi seperti ini semuanya bisa diselesaikan? Aku ragu.

"Caranya?" ucapku singkat.

"Entahlah," Erlang menjawab tak kalah singkat.

Kami kembali terdiam. Kali ini isakan Anna sudah benar-benar reda. Ia sudah bisa kembali mengendalikan emosinya.

"Sebenernya apa yang salah sama kita?" ucap Anna lirih. "Aku bahkan udah gak inget kapan terakhir kali kita ketawa bareng-bareng," tambahnya.

"Sejak aku muncul ya?" ucap Bianca dengan suara bergetar.

Tak ada yang menjawabnya. Ada sebagian hatiku yang mengiyakannya. Sebagian lagi menolaknya.

"Mau sampai kapan nyari siapa yang salah?" tiba-tiba kalimat itu mengalir begitu saja dari mulutku.

Aku merasakan setiap mata di tempat ini tertuju padaku.

Aku mencoba memandangi satu-satu mata mereka yang menatapku dengan tatapan yang berbeda-beda.

"Setiap orang dari kita punya porsi kesalahan yang sama besar," ucapku. "Gak akan ada gunanya nyari siapa yang salah atau bahkan nyalahin diri sendiri," tambahku.

"Terus kita harus gimana?" Anna kembali bertanya.

Gimana apanya? Aku berpikir semua ini memang sudah seharusnya seperti ini. Tidak ada yang perlu dilakukan.

Entah seperti apa nantinya hubungan kami berempat. Aku tak ingin memikirkannya. Atau lebih tepatnya aku tak berani memikirkannya.

"Ya udah, let it flow aja," tiba-tiba Erlang menimpali dengan ringan.

"Maksudnya?" aku menatapnya heran.

"Dari dulu kita udah sering kan berantem," ucap Erlang. "Walaupun ukuran berantem kita beda kali ini."

Tanpa ia lanjutkan sepertinya aku mengerti apa maksudnya.

Ia ingin kita berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Ia ingin kita menjalani semuanya dari awal lagi. Tapi itu sudah tidak mungkin. Perasaan yang dibawa masing-masing sudah terlalu dalam.

"Itu gak mungkin Lang," ucapku sambil tersenyum miris. "Kita gak bakalan bisa mulai dari awal lagi," tambahku tegas.

Anna dan Bianca tampak tak mengerti dengan apa yang kami bicarakan. Sedangkan Erlang ikut melengkungkan senyum miris.

A Lesson For UsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang