Pagi ini Evie terduduk dengan sahabatnya, Eric. Orang yang dia lihat dengan kondisi yang sangat buruk dalam mimpinya kemarin. Evie tak bisa tidur nyenyak semalam, bahkan bisa dibilang dia tak tidur sama sekali. Kilasan mimpi itu selalu muncul setiap dia menutup mata. Bahkan orang-orang rumah pun menanyainya mengenai apa yang telah terjadi padanya. Evie mati-matian menghindarinya dan mengatakan kalimat "Bukan apa-apa. Cuma mimpi", sebanyak ribuan kali malam itu. Dia bertekad, dia berniat mengatakannya didepan Eric langsung. Terserah Erck mau percaya atau tidak, yang pasti hal seperti itu sangat sulit jika ditanggung sendiri.
Eric duduk disampingnya dikursi taman yang berada didepan kolam ikan. Wajahnya tampan karena pengaruh ayahnya yang berasal dari Inggris. Dia juga sangat baik dan humoris. Evie dan Eric sudah bersahabat sejak saat mereka masih kanak-kanak. Evie sangat mengenal Eric dan begitu pula sebaliknya. Mereka berdua sangat dekat satu sama lain sehingga akan sulit rasanya ketika mencoba menyembunyikan sesuatu diantara mereka. Banyak orang yang mengatakan bahwa Evie sangat cocok berpasangan dengan Eric. Ketika mendengarnya keduanya malah tertawa, rasa sayang mereka berdua melebihi rasa sayang orang-orang yang sedang menjalin kasih.
"Kamu kenapa sih?". Tanya Erik yang membuat Evie terkejut. Eric agak khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. Tak biasanya ia diam begitu lama. Tanpa Eric ketahui, Evie sedang memikirkan mimpinya yang kemarin, dan dia sedang mencari cara yang tepat untuk memulai menceritakan mimpinya.
"Eric, aku bermimpi tentangmu..". Jawab Evie lembut dan penuh keraguan. Dia takut setelah menceritakan ini Eric berbalik membencinya.
"Mimpi apa? Mimpiin aku jadi presiden ya". Kini Eric tertawa.
"Bukan Ric. Bukan itu". Evie menundukkan kepalanya dan mulai menangis.
"Ada apa? Tolong tenang sedikit". Eric menarik tubuh Evie ke pelukannya dan menenangkannya.
"Katakan saja. Ceritakan semuanya. Aku akan mendengarkan".
Akhirnya dengan susah payah dan disertai sesenggukan, Evie menceritakan kepadanya mengenai mimpi yang dialaminya kemarin. Mimpi yang membuatnya takut menutup mata biarpun hanya sekejap. Mimpi yang begitu riil, sampai-sampai Evie kesulitan untuk mengetahui mana yang mimpi dan mana yang nyata. Eric bengong dan dari raut wajahnya menunjukkan bahwa ia jelas sangat tidak percaya dengan mimpi sahabat karibnya tersebut.
"Cuma mimpi. Vie". Erik nenepuk-nepuk punggung sahabatnya.
"Semoga saja. Aku selalu berdoa agar mimpiku yang ini tak akan jadi kenyataan".
---
Ternyata, tanpa diketahui Evie dan Eric, Bobby sudah pulang kerumah dan mendengarkan pembicaraan mereka secara diam-diam. Dia tersenyum menyeringai dengan tatapan jahat ketika mencuri dengar pembicaraan adik dan sahabatnya tersebut. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Tak ada satupun yang tau. Dan tak ada satupun yang menduganya.
YOU ARE READING
DREAM
Mystery / Thriller"Menyukai berarti membunuh, mencintai berarti membunuh, menyayangi berarti membunuh, mengasihi berarti membunuh". Kutukan apa yang melarangnya merasakan hal yang manusiawi? Bagaimana cara ia menghadapinya?
