Memang, aku terlanjur sakit hati. Ternyata ini yang membuat ku tak nyaman tidur akhir-akhir ini. Ya, aku selalu punya alasan klasik dalam setiap masalahku. Tak pernah aku bicarakan sepeser pun rasa sakit hati yang kulalui sendirian.
Alasan klasik yang ku utarakan selalu saja menunggu ayah pulang atau tidak untuk absen saat pembelajaran. Klasik ! Kau bahkan berbohong pada dirimu sendiri. Itu yang buat kau tak nyaman ialah seenggok luka.
Luka yang menginginkan aku tidak di situasi saat ini. Ya, aku tahu. Aku ini gendut dengan tinggi yang biasa saja. Gila saja jika aku tidak iri pada mereka yang punya solek ideal. Gila ! Aku ingin ada pada diri mereka.
Sejak ku mendengar tentang luka ini aku menjadi kurang percaya diri. Jelas saja, fisik fisik fisik ! Mereka selalu berkata semacam itu padaku. Gila kalau aku tak sakit hati. Kau tau, aku berbohong terus berbohong untuk menutupi luka ini.
Layaknya robot, aku harus sempurna seperti mereka. Siapa yang bilang aku tak mau sempurna? Tentu saja aku mau. Sangat ingin rasanya menjadi sempurna.
Semua upaya telah ku lakukan. Tapi tak kunjung pula ada keistimewaan. Selalu gendut, tinggi dan besar. Yaa, demikianlah kata orang.
Aku yang mungkin ingin terlihat sempurna atau orang lain yang ingin terlihat sempurna didirinya sehingga ia mengatakan hal demikian.
Aku jadi berfikir, emang kenapa kalau gendut ? Kan yang penting sehat. Emangnya kalau gendut itu ga sempurna ?
Huft, ingin sekali ku bungkam omongan orang orang yang masih saja mengritik orang lain. Biasanya hal semacam ini di temui saat ia ingin basa basi. Tapi basa basi itu sangat membekas di hati.
Insyekur, kadangkala aku merasa demikian. Hanya karna postur tubuh yang tidak sesuai dengan idealnya orang orang menjadikan kita sebagai pemilik postur tidak sesuai menjadi bahan ledekan yang tak mengenakkan.
Mungkin bagi mereka aku tak apa jika diperlakukan demikian. Sayangnya kau salah, sakit hati ku selalu ada hanya saja tak ku ungkapkan. Jika aku mendengar 'ledekan' itu, hanya kutanggapi dengan tersenyum miris tak ku balas. Karena untuk apa ? Ingin terlihat hebat ? Atau mau bagaimana ?
Entahlah, mungkin saja aku yang terlalu ingin dipandang sempurna oleh manusia lain ? Aku tak tau.
Aku sudah menyerah. Mau bagaimana lagi ? Aku ingin sekali jika tak memikirkan 'basa basi' mereka itu, hanya saja aku tak bisa. Sialnya, 'basa basi' itu selalu saja terngiang ngiang di fikiranku. Ya, akan selalu ada di otak ku. Dan aku terus saja mendapatkan luka dari 'basa basi' yang tak mengenakkan.
Semoga aku kuat ;)
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Dengan Kata |End|
PoetryAku membuat karya ini sebagai bentuk rasa sayangku kepada diriku sendiri. Karena disini tempat aku menceritakan apa yang aku dapatkan dari kejamnya dunia. -Arani-
