Author POV
"Kak..." isak Adeline sambil memeluk kakak nya itu
Chandra menghujani adiknya itu beberapa kecupan di pucuk kepala nya, mengusap punggung adiknya itu perlahan dengan tatapan nya yang mengarah tajam ke Ayahnya sendiri
Hari ini ibu nggak ikut mengantar Chandra ke bandara, wanita itu nggak sanggup mengantar anaknya untuk pergi dari rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk Chandra
Chandra dan Nathan diantar oleh Ayah dan Adeline. Bahkan sedari mobil tadi, Adeline nggak melepaskan Chandra dari gandengan tangannya, seakan menahan kakak satu satunya itu supaya nggak pergi meninggalkannya
Chandra menangkup kedua pipi adiknya itu, wajah Adeline menjadi sedikit berantakan karena sekarang hidungnya memerah dan pipi nya basah
"Nangis mulu, heran gue" kata Chandra mengajak adiknya itu bercanda
"Ya lo mikir dong masa iya gue nggak nangis!" Bentak Adeline yang langsung disambung dengan tangisnya lagi
"Yahh malah tambah nangis, gimana sih lo. Udah ahh cape nangis mulu" balas Chandra sambil membawa adiknya itu ke pelukannya lagi
"Ya lagian kenapa lo nurut nurut aja sih disuruh pergi?! Lo tuh nggak salah! Tapi--"
"Sssttt udah jangan marah marah lagi kan udah gue bilang gue gapapa"
"Lo yang gapapa tapi gue enggak kak!! Lo nggak ngebunuh siapapun!! Lo--" Bentak Adeline lebih keras
"Adeline!!" Bentak Ayah
"Apa?! Kenapa ayah nggak sekalian ngusir Adeline aja sih dari rumah?!"
"Hei udah, gue nggak ngajarin lo buat ngelawan Ayah dek. Jangan gara gara gue lo jadi bentak bentak Ayah kaya gini" Chandra menasehati adiknya itu
"Lo yang nggak usah ngebelain Ayah. Dia nggak butuh pembelaan dari lo!"
"Lin" Nathan kini ikut bersuara, dia memanggil nama sepupu nya itu dan menggeleng. Menyuruhnya untuk berhenti
"Kalian semua sama aja. Nggak ada yang ngertiin gue" kalimat terakhir Adeline ditutup dengan dirinya yang berjalan meninggalkan mereka semua dan berjalan ke parkiran bandara
"Dek"
"Lin"
Kedua panggilan itu nggak digubris oleh Adeline dan dia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka
Chandra menghela nafas. Agaknya, semakin banyak saja yang membencinya
"Hati hati. Bilang kalau perlu sesuatu" kata Ayah
"Iya om--" omongan Nathan terpotong oleh Chandra
"Nggak perlu Yah. Chandra bisa sendiri. Lagian kenapa baru sekarang nanyain nya? Ayah pernah nggak sih nanya sekaliii aja yang Chandra mau apa? Tenang aja Yah, Chandra bakal selalu ikutin apa yang Ayah mau. Tapi jagain Adeline sama ibu buat Chandra, karena sekarang cuma mereka yang Chandra punya"
Chandra menutup kalimatnya dengan pergi meninggalkan Ayah yang mematung. Tanpa pamit apalagi menyalami nya, beda seperti Nathan yang mengucapkan kata pamit pada pamannya itu
Chandra memakai topi nya selagi berjalan, seakan menutup matanya yang berkaca kaca. Melihat itu Nathan mensejajarkan langkah nya sambil merangkul sepupunya itu
🌻
Clarissa melihat kalung di genggaman nya. Dia berharap kalung itu hilang saja dari pandangan nya, dia kira setelah dia melemparnya ke rumput kemarin malam, kalung itu akan tersapu oleh bibi atau seseorang akan mencuri nya
KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Eunoia | Haechan ✔
Fanfiction"Berapa lama lagi gue sembunyiin perasaan dibalik kata sahabat?" ♡ Eunoia (n.) Beautiful thinking; a well mind Highest rank: #1 eunoia #1 czennies #3 nctlokal Start: 27 november 2020 End: 21 Februari 2021
![[1] Eunoia | Haechan ✔](https://img.wattpad.com/cover/249302332-64-k124987.jpg)