[DIBUKUKAN] [TERSEDIA DALAM BENTUK PDF]
[NOMIN - JAEYONG - MARKHYUCK]
Kenapa aku selalu diminta menyelamatkan dunia orang lain disaat duniaku sendiri hancur berkeping keping?
⚠️ BXB / NOGENDER
⚠️ M-PREG
⚠️ BAKU
⚠️ MATURE
⚠️ KINGDOM LIFE
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari ke-13 Qishan
Pelatihan Panah sore hari ini bertempat di sebuah Taman Batu yang terletak di salah satu wilayah di Utopia. Taman Batu adalah sebuah taman yang terdapat batu batu besar dengan sungai jernih yang mengalir ditengah tengahnya.
Ada beberapa pondok kecil yang berjejer di sekitaran taman. Pondok itu sekarang dipakai untuk tempat peristirahatan. Untuk pondok yang terletak lebih tinggi dipakai sebagai tempat pengawasan Kang MinJoon.
Wilayah ini begitu elegan dan sejuk. Pohon pinus tanpa ujung serta rerumputan mengelilingi setiap bagian dan menambah kesan hijau di Taman Batu. Bunga bunga seperi Magnolia, Tapak Dara, serta Kaca Piring turut ikut andil menghiasi tempat ini.
Beberapa papan target anak panah sudah dipasang di sekeliling. Ada yang diletakan diantara ranting pohon, diatas batu, bahkan diterbangkan diudara seperti layang-layang.
Semua murid Qishan berpencar mencari lokasi manapun yang dirasa cocok. Sudah 2 minggu mereka menjalani pelatihan, mustahil tidak ada kemajuan sama sekali dalam memanah.
Na Jaemin seperti biasa begitu tenang melepaskan satu persatu anak panah nya tanpa ada satupun yang meleset. Semuanya mengenai target dengan sempurna. Bahkan sampai saat ini tidak ada yang bisa mengalahkan nilai keterampilan Na Jaemin dalam memanah.
Ngomong-omong tentang kejadian mereka di Kota Hantu dan Kota Awan, baik Jaemin maupun Jeno tidak ada yang membuka mulut. Mereka berdua bungkam dan menutup rahasia rapat rapat. Tidak pernah membahas tentang hal itu sedikitpun ditempat terbuka.
Kesimpulan yang mereka ambil adalah, Kota Hantu bukan milik Moors. Dua bersaudara Lee beserta ibunya dibunuh lalu jasadnya disimpan disana untuk kepentingan seseorang.
Dan yang pasti, 'seseorang' ini bukanlah sesuatu yang baik.
Ditengah keramaian, Sebuah benda bulat yang kecil terlempar ke arah Putra kedua Jung.
Alih alih terkena lemparan seperti sebelumnya, Jeno justru dengan cepat menggeser badan. Benda bulat itu terjatuh ke tanah.
Ternyata hanya sebuah Jeruk yang dilempar.
Lalu setelah itu terdengar suara tepuk tangan dari samping, "Wohoo! Kemampuan menghindarmu sudah ada kemajuan, ya?"
Jeno menatap Remaja itu jengah tanpa berniat menjawab.
Remaja usil itu melanjutkan, "Dengan tingkat kekuatan seperti ini, aku bertaruh nama mu akan menjadi salah satu di daftar peringkat nanti"
Jeno merotasikan bola matanya, "Kau sedang memujiku atau apa?"