Sepertinya aku harus menghubungi Judith, ia harus segera menyiapkan mercy nya itu,,aku tersenyum.., meraih ponsel dari saku celana, namun belum lagi menemukan nomor Judith untuk ku dial, dia sudah lebih dulu mendialku...
"Panjang umur dia..."
__________
*Author*
Dannis berencana untuk menelfon Judith, namun baru saja ia akan mencari nomor di ponselnya, benda pipih itu bergetar dan menampilkan nama Judith di layarnya. "Panjang umur dia..." gumamnya kemudia menerima panggilan itu.
"Dan, kau dimana sekarang, aku di kantormu..." Suara Judith terdengar serius diseberang sana.
"Aku masih dikantor, panjang umur kau dith, aku baru saja akan menghubungimu..." jawab Dannis tersenyum seraya melonggarkan ikatan dasinya, membayangkan Judith datang sebentar lagi dengan muka tegang ia tak dapat menghentikan senyumnya yang semakin melebar.
"Ok, aku naik keatas.." Kemudian Judit memutus sambungan sepihak. Dannis tak mampu lagi menahan dan akhirnya tawanya meledak, sebentar lagi Judith akan datang dan ia bersiap untuk melihat wajah penuh kekalahan itu.
Tak berapa lama pintu ruangan Dannis terbuka, Judith muncul dari balik pintu. Penampilannya tak serapi tadi, jas kerjanya sudah tak tampak lagi, ia datang dengan kemeja yang lengannya sudah tergulung sampai siku dengan dua kancing atas yang terbuka. Judith langsung duduk di kursi diseberang meja Dannis, menatap sahabatnya itu lekat-lekat seolah menuntut penjelasan. Sementara itu Dannis duduk santai dikursi kebesarannya dengan wajah penuh kemenangan, bersiap untuk menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan Judith.
"Dann, please tell me what happened ?"
"Seperti yang kau lihat,, you're lost brother...haaa"
"Ok, aku kalah tapi aku berhak tau apa yang terjadi, kenapa sampai wanita itu takhluk padamu..."
"Kau hanya terlalu meremehkanku soal wanita dith,, hanya karena kau lebih sering bermain dengan mereka dari pada aku.." Dannis bangkit dari kursinya, lalu pergi ke pantry kecil sudut ruangannya untuk mengambil minuman.
"Kau mau ini..?" Dannis menawarkan alkohol berkadar rendah pada Judith, laki-laki itu sedikit kaget kemudian memilih mengangguk, ia heran sejak kapan Dannis menyimpan alkohol dikantornya.
"Sejak kapan kau menaruh alkohol di kantormu ?" Tanya nya sambil menerima gelas berisi minuman berwarna ungu itu.
"Pemberian klien, katanya ini anggur terbaik....oh ya, tentang Asha, aku paham kau terkejut, tapi itulah kenyataannya, aku dan dia berkomunikasi lebih intens setelah penanda tanganan kontrak beberapa waktu lalu..." Dannis meneguk anggurnya, berjalan kearah dinding kaca kemudian memandangi pemandangan sore yang cerah diluar sana, dia mengatur ekspresi sedemikian rupa agar kelihatan meyakinkan. Sesungguhnya Dannis tak pernah melakukan hal licik seperti ini sebelumnya, ia adalah lelaki yang mengutamakan kejujuran diatas segalanya, namun entah kenapa untuk kali ini pemikirannya itu bergeser sedikit, Dannis memberi pengecualian untuk hal-hal seperti ini, namun untuk urusan perusahaan, dia selalu mengutamakan fair play.
"Hmm.,, baiklah,, karena kita dari awal tak meletakkan syarat apa-apa mengenai pertaruhan ini, tentang dan bagaimana cara kita menakhlukkannya, maka aku mengakui kemenangananmu, tadi pagi dikantor Arvan juga menghujani karyawan di departemennya dengan hadiah, katanya moodnya sedang baik karena Asha akhirnya memiliki kekasih, dan ternyata itu kau Dann, selamat bro... you're the winner..." Judith mengikuti Dannis memandangi pemandangan dibalik dinding kaca, "chers", kedua laki-laki itu sepakat untuk mengakhiri permainan mereka.
Dannis cukup kaget mendengar cerita Judith, segitu bahagiannya Arvan mendengar adiknya memiliki seorang kekasih, sampai rela memberi bonus kesemua karyawannya yang tidak sedikit itu. Dannis memang tidak tau banyak tentang Asha meski gadis itu sangat populer menurut cerita Judith, sampai akhirnya mereka bertemu di Sky Club dan Judith membuat permainan konyol ini. Awalnya Dannis memang menganggap ini main-main belaka, iseng-iseng berhadiah mercy, namun entah kenapa keberuntungan selalu berpihak padanya dan jalan menuju kemenangan begitu mulus. Anggap saja jalannya cukup licik, namun dari awal keduanya tak pernah meletakkan syarat apa-apa, yang penting Asha bisa ditakhlukkan dan yang berhasil mendapatkan gadis itu akan keluar sebagai pemenang.
Sore menjelang senja itu ketika langit Jakarta perlahan menggelap, Judith dan Dannis sepakat mengakhiri taruhan mereka, Tiga hari lagi genap satu bulan sejak dimulainya permainan konyol namun cukup menyita fikiran dan membuat keadaan mereka menjadi cukup rumit terutama Dannis. Namun diluar semua itu, ia tengah bersiap menyambut mercy limited edition yang akan diantarkan Judith besok pagi ke apartemennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Penakluk ( On Going )
RomanceAkhirnya dengan perlahan kucium kembali Asha, penuh hasrat dan nafsu yang membara. Asha menutup mata perlahan sambil membuka mulutnya, membiarkamku masuk menjelajah semua yang ada didalamnya. Bibir atas, bawah, bahkan lidah kami saling bergelut, ber...
