Sebuah Rasa.....

61 2 0
                                        

"Natasha Barvi...."

Seperti biasa ditemani secangkir kopi dan sigaret, aku sedang menulis bagian akhir dari cerita ketigaku. Kurang dari sebulan lagi perusahaan sudah harus menerbitkan novel ini, jadi akupun mau tak mau harus menamatkan cerita ini sebelum nanti melewati proses editing. Aku menyeruput kopiku dalam-dalam kemudian meloloskan asap sigaret dari mulutku. Bab terakhir dari novel ini menceritakan bersatunya dua insan yang dimabuk asmara setelah begitu banyak aral melintang yang mewarnai kisah cinta mereka. Tanganku begitu lincah menari diatas keyboard, mengetik kata demi kata hingga menjadi rangkaian kalimat yanv mempunyai makna. Dan ketika aku mulai menyadari bahwa adegan demi adegan yang kutulis mengingatkanku pada kejadian dua hari yang lalu, dipagi buta yang penuh gairah, jari-jariku berhenti mengetik. Kusave semua yang kutulis tadi lalu kumatikan komputerku.

Kuhampiri lemari pendingin dan mengambil air mineral didalamnya. Kunyalakan sigaret dan ku beralih duduk ditepi jendela ruangan besar dirumahku yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruangan menonton televisi. Sungguh aku kembali teringat malam saat pertama kali Dannis menciumku. Jujur itu adalah ciuman pertamaku dengan seorang pria. Lima belas tahun lamanya aku hidup dalam kesendirian, tak pernah lagi merasakan kasih sayang, apalagi dengan lawan jenis.

Dannis Diandra, entah dari mana orang itu berasal, tiba-tiba masuk kedalam hidupku dan merubah segalanya. Aku juga masih belum menerima penjelasan kenapa ia memaksaku jadi pacar pura-puranya. Ia juga tak menunjukkan sikap baik saat kami benar-benar hanya berdua. Lalu malam itu apa.. ? Aku benar-benar melihat sesuatu yang lain dari matanya. Tatapannya, pelukannya, kecupannya, bahkan  saat kami berciuman, aku hampir tak bisa melupakannya.

Dua hari sudah aku tak bertemu dia, meski dia tak pernah lupa mengirimiku pesan agar aku mau meminum obat. Aku tau dia adalah orang nomor satu diperusahaannya, dia punya begitu banyak hal untuk dikerjakan. Tapi entah kenapa aku ingin bertemu dia lagi, ingin menatap wajahnya lagi, ingin merasakan sentuhan itu lagi, wajahnya selalu bermain-main dikepalaku. Ya Tuhan...., aku cukup pintar untuk mengetahui bahwa apa yang kurasakan ini adalah rasa suka, atau bisa dibilang aku jatuh cinta pada laki-laki itu., pada pacar pura-puraku itu.
_______

"Author......"

Dannis Diandra baru saja keluar dari meeting room dan bermaksud hendak kembali keruangannya di lantai dua pulu tujuh ketika didepan lift dia bertemu dengan nyonya Saraswati Diandra, ibunya. Dannis mengangkat sebelah alisnya mengisyaratkan tanda tanya kenapa ibunya bisa berada diperusahaan setelah sekian lama.

"Mammy....? What are you doing here...?" Serunya membalas pelukan Saras yang langsung menghambur kepelukan anaknya ketika mereka berpas-pasan.

"Ya mau ketemu kamu lah....." Saras memberikan pelukan hangat pada putra bungsunya kemudian menghadiahi ciuman dipipi kanan dan kiri juga kening.

"Iya kan mammy bisa telfon aku, jadi biar aku yang kerumah..." keduanya kemudian masuk kedalam lift dan Rey mengekori mereka dari belakang.

"Ada yang mau mammy omongin, emm tepatnya mau mammy tanyain sama kamu..." Saras tak melepas pelukannya dipinggang Dannis bahkan ketika keluar dari lift dan sampai dilantai teratas dimana ruangan CEO berada.

"Rey, tolong ambilkan minum untuk mammy saya ya..." perintah Dannis pada Rey

"Air putih hangat, jangan lupa ya bujang...." Sarras tersenyum manis pada Rey. Ia memang sering menggoda sekretaris Dannis itu, karena di usia yang hampir menginjak tiga puluh lima tahun, belum ada tanda-tanda Rey akan mengakhiri masa bujangannya.

"Tidak pernah lupa nyonya Diandra,," Rey berlalu menuju pantry kecil disudut ruangan sambil memutar bola matanya malas. Nyonya besarnya itu memang sering menggodanya, tanpa ia sadari bahwa kedua putranya juga masih membujang sampai saat ini. Sementara itu Dannis tersenyum-senyum tipis melihat Rey bersungut-sungut.

Sang Penakluk ( On Going )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang