Sweater Merah Jambu

126 23 6
                                        

"Dannis"

Pagi ini seperti pagi-pagi sebelumnya, pukul delapan pagi aku sudah sampai di gedung Diandra Group, tempatku berkantor. Didepan pintu utama, dua keamanan yang biasa berjaga menyapaku dengan hormat. Aku menyerahkan kunci mobilku pada salah satunya agar ia parkirkan ditempatnya. Meski telah lebih dari sebulan menjabat sebagai orang nomor satu diperusahaan, aku belum berniat untuk mencari supir, entah kenapa aku lebih nyaman berkendara sendiri meski sekretarisku sudah sering menawariku. Memasuki gedung, para pegawai yang datang berbarengan denganku menyapa sopan dan memberi hormat padaku, yaa..pemandangan setiap pagi setelah menyandang status sebagai CEO Diandra Group.

Sampai diruangan kerjaku setelah menaiki lift khusus CEO, aku memulai aktifitas ku, memimpin sebuah perusahaan properti yang cukup diperhitungkan dinegara ini. Perusahaan kami menyediakan produk-produk properti rumah tangga maupun kantor. Barang-barang seperti sofa tamu, meja kerja dan sejenisnya dengan kualitas nomor wahid yang diperuntukkan untuk konsumen kelas menengah keatas. Dalam waktu dekat ini aku berencana meluncurkan produk untuk ruang baca. Sebuah konsep ruang membaca untuk mereka yang hobi membaca, baik itu untuk dirumah maupun dikantor. Aku sangat antusias dengan proyek baruku ini, karena ini gebrakan pertama yang kulakukan setelah sah sebagai CEO baru.

Mendekati jam istirahat, aku memutuskan untuk tetap diruangan dan menyuruh sekretarisku memesan makan siang. Tak lama kemudian, pintu ruanganku di ketuk dan makananku datang, bukan sekretaris yang membawakan tetapi malah Judith.

"Apa yang terjadi semalam Dann..?" Tanyanya sembari menaruh makananku diatas meja didepan sofa.

"Seperti biasa.., mabuk dan tak sadarkan diri..." jawabku enteng sambil membuka jas dan menggantungnya digantungan baju. Aku berjalan kearah Judith yang duduk di sofa.

"Bukan itu yang kumaksud, tapi gadis yang jadi bahan taruhan kita, apa dia mabuk seperti yang kuceritakan padamu..?"

"Kau datang kemari hanya untuk menanyakan itu dith..? Kau sudah gila kurasa..." jawabku sambil membuka bungkusan makananku. Sekretarisku membelikanku hamburger tanpa sayur seperti yang kupinta. Ngomong-ngomong "sudah gila", aku sebenarnya yang sudah gila jika mengingat apa yang sudah kulakukan tadi malam.

"Maafkan aku lost control Dann.., kita sudah cukup lama tidak keluar berdua untuk minum.., oh ya apa kau yang mengantarku pulang..?"

"Lalu siapa lagi menurutmu..?" Aku mengunyah hamburgerku

"Thanks temanku..." Judith tersenyum lebar dan menepuk pundakku. " you're the best.." tambahnya.

"Mmm.." anggukku.

"Jadi bagaimana dengan Asha..? Ia diantar lagi oleh bartender..?"

"Mm...begitulah" jawabku datar untuk menyembunyikan kebohonganku.

"Kalau begitu mulai hari ini kita start untuk mendapatkan dia, dan tenggat waktunya hanya satu bulan.. deal..?"

What...? Aku hampir tersedak mendengar kalimat Judith. Ia sangat serius dengan ucapannya tadi malam ternyata. Aku bahkan hampir memasang bendera putih untuk tidak melanjutkan perjanjian ini. Mengingat apa yang kusaksikan tadi malam, betapa berantakan nya hidup gadis itu.

"Kau yakin..? Kau serius..? Aku pikir kita hanya bergurau tadi malam.."

"Sejak kapan aku suka main-main Dann,, aku serius.., aku juga serius soal mercy ku..."

"Kenapa kau ngotot sekali ingin menakhlukkannya..?"

"Menguji kemampuanku..., ya menguji kelelakianku, info valid yang kudengar dia tak ingin didekati oleh siapapun, dia memasang standar yang tinggi dalam memilih laki-laki, Arvan bahkan sudah memilihkan banyak laki-laki untuk adiknya itu tapi dia menolak.., aku jadi penasaran.." Judith begitu berapi-api dengan keinginannya, andai ia tau bagaimana Asha sebenarnya, mungkin saja alasan gadis itu menolak siapapun karena tak ingin orang-orang tau bagaimana dia yang sebenarnya.

Sang Penakluk ( On Going )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang