"Dannis Diandra...."
"Mereka menyeret dan mengurungku digudang sempit dan gelap serta bau, kemudian anak perempuannya melempar banyak mainan boneka padaku. Ketika lampu menyala, ternyata wajah boneka-boneka itu mengerikan dan berdarah-darah. Anak laki-lakinya sering datang kegudang kemudian menyulutku dengan rokok. Kau lihat Dann, tato mawar hitam ini ? Ini hanya kamuflase untuk menutupi bekas luka sulutannya..." Asha memperlihatkan tato wawar dilengan kirinya padaku yang terus menatapnya tak berkedip. Asha kembali melanjutkan ceritanya setelah menghembuskan asap sigaret dan meneguk alkohol.
"Bukan hanya itu, mereka menjambak rambutku, menendangku, tak memberiku makan, mereka...."
"CUKUPPP...!!!" Aku benar-benar tidak tahan mendengar cerita menyedihkan dibalik tawanya yang berderai. Ya, Asha memang dalam keadaan dibawah pengaruh alkohol, jadi tak sulit baginya untuk menceritakan kisah pahit lima belas tahun lalu itu. Aku merengkuh Asha kepelukanku, kuciumi puncak kepalanya, dan ku rasakann dadaku bergemuruh, tanganku mengepal ingin rasanya memukul orang-orang yang telah menyakiti Asha sedemikian rupa, hingga membuat gadis itu mempunyai trauma hebat seperti sekarang.
"Hai...pria,,, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya,," ia mengerling mata khas orang mabuk padaku seraya mencoba melepaskan diri dari pelukanku. Tubuhnya terhuyung dan hampir saja menabrak seseorang dibelakang jika saja tak segera kutarik.
"Bisa-bisanya kau bilang aku mencuri-curi kesempatan nona,, aku itu mencemaskanmu, ah sebaiknya kita pulang...!" Akhirnya aku membawa Asha keluar dari club setelah membayar semua minuman melalui aplikasi diponsel. Kembali kusamarkan penampilan kami agar tak mencolok. Meski club ini sangat privat, bisa saja sesuatu hal terjadi bukan.
Setelah berhasil mendudukkan Asha dikursi penumpang disamping kursi kemudi, aku kemudian ikut masuk. Berniat menurukan sandaran kursi dan memasang sabuk pengaman agar ia nyaman, gadis itu malah membuka sweaternya. Ya Tuhan, lagi-lagi aku tergoda melihat thanktop tanpa tali menutupi dadanya, dan aku yakin tak ada lagi kain dibaliknya. Sesuatu dibalik kain yang lebih mirip kemben itu menantangku. Sekali tarik...., ah shittt ! Aku mengumpat kelekakian dibawah sana ikut bereaksi, sebelum akhirnya suara Asha membuyarkan seluruh fikiran kotorku.
Aku selimuti tubuhnya dengan sweater yang tadi ia lepas, kuturunkan sandaran kursi dan kupasang sabuk pengaman kemudian melaju meninggalkan club. Tak lama berkendara, akhirnya kami sampai diapartmen Asha. Aku menidurkan gadis itu ditrmpat tidurnya dan mengatur suhu ruangan menjadi lebih hangat karena diluar sedang hujan lebat. Sebelum pulang kupandangi sejenak wajah itu. Cantik..... kubelai lembut perlahan dan kupindahkan anak rambutnya kebelakang telinga.
Saat hendak beranjak, tiba -tiba Asha memegangi tanganku. Dengan mata yang masih terpicing, ia menggigau memanggil-manggil ibu. "Ibu jangan tinggalkan aku..." suara itu lembut dan menghiba. Tanganny pun semKin erat memegangi tanganku.
"Baiklah, aku tak akan pergi...." Akhirnya malam ini kuputuskan untuk menginap disini lagi. Untuk kesekian kali....
_______
"Author...."
Jam didinding kamar Asha telah menunjukkan pukul empat pagi, namun hujan masih turun dengan lebat dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Suara petir bersahutan tanpa henti membuat suasana cukup mencekam. Selama itu pula Dannis tidak bisa tidur setelah pulang dari club jam 11 tadi. Setelah memutuskan menginap dirumah Asha dan berbagi ranjang yang sama dengan gadis itu, Dannis belum tertidur sepicingpun.
Bagaimana bisa tidur sedangkan di pelukanmu tidur seorang gadis dengan pakaian minim yang sedari tadi bergerak gelisah. Ya, Asha menggigau sepanjang malam. Sering kali ia terkejut mendengar suara petir kemudian mengetatkan pekukannya dan terus memanggil ibu. Selama itu pula Dannis menenangkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggung mulus itu. Tak jarang pula Asha mengendus-endus dadanya yang terbuka tiga kancingnya. Sungguh gairah Dannis benar-benar dibangunkan oleh makhluk cantik didepannya ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Penakluk ( On Going )
RomanceAkhirnya dengan perlahan kucium kembali Asha, penuh hasrat dan nafsu yang membara. Asha menutup mata perlahan sambil membuka mulutnya, membiarkamku masuk menjelajah semua yang ada didalamnya. Bibir atas, bawah, bahkan lidah kami saling bergelut, ber...
