I need you....

86 2 0
                                        

Entah apa yang merasukiku, tiba-tiba sudah berada didepan pintu apartemen Asha. Dadaku seketika berdenyut mendapat pesan darinya. Ya, hanya sapaan selamat malam, pesan pertama yang ia kirim padaku sejak kami bertemu hampir dua bukan lalu. Jantungku memompa lebih cepat dari pada biasa, mengirimkan sinyal-sinyal bahagia sampai keotak dan berakhirlah disini, kutekan bel interkom apartemennya. Tak lama kemudian wajah cantik muncul dan pintu pun terbuka.

"I miss u..." ketidakwarasanku masih mendominasi, kupeluk ia sambil mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sudah lama tak pernah lagi kusampaikan pada seseorang yang spesial kecuali pada orang tuaku. Asha tak bergeming, tubuhnya menegang karena tidak siap menerima pelukanku yang begitu tiba-tiba, tapi tak ada gestur penolakan, seperti sebelum-sebelumnya. Mungkin sudah terbiasa dengan keberadaan dan sentuhanku.

Beberapa detik sesudahnya, kulepas pelukanku dan kutatap matanya yang tak berekspresi.
"I miss u, Asha..." kataku sekali lagi.

Ia tersenyum dengan maksud yang tak kumengerti tali aku lega.

"Silahkan masuk Dann..." katanya menuntunku menuju sofa. Aku mengekor dibelakangnya. Asha yang menggunakan piyama satin berwarna abu-abu, mempersilahkan duduk dan menawarkan minuman.

"Kamu mau minum apa...?" Tanyanya lembut

"Tidak perlu repot-repot..." jawabku karena aku kesini memang bukan untuk meminta minum.

"Tidak repot...., ayo mau minum apa..?"

"Kalau begitu yang dingin-dingin aja...."

"Sebentar ya.." kemudian Asha berjalan menuju kulkas dan datang kembali beberapa saat kemudian dengan membawa minuman dingin dan sepiring potongan buah-buahan.

"Maaf ya Dann, aku ga punya stok makanan selain buah-buahan..." Asha menyodorkan satu kaleng minuman dingin bersoda padaku kemudian ia ikut duduk di sofa yang sama disebelahku. Asha terlihat mulai nyaman berdekatan denganku. Ya,, entah kali keberapa kami saling berinteraksi bahkan pernah sekali sangat intim.

"Sudah tau..." kataku tersenyum sambil membuka kaleng minuman.

"Sudah tau..?" Asha bertanya dengan nada sedikit antusias, ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan merubah arah kearahku. Siku tangan kirinya ia taruh di sandaran sofa sembari menopang kepalanya. Dengan posisi dia yang seperti ini, kami terlihat seperti dua orang yang sudah kenal lama sedang mengobrol. Hilang sudah rasanya penyakit Asha yang takut berdua saja dengan orang lain. Aku senang dengan perubahannya yang terjadi padanya.

"Mmm,..." anggukku.

"Ingat waktu aku menginap disini ketika kamu pingsan di gathering nya Arvan, paginya kan aku yang nyiapin sarapan buat kamu, aku liat dikulkas isinya buah semua..." sambungku

"Ooo iya,, kayak nya kamu sudah tau semua tentang aku Dann...." katanya sambil tersenyum. Asha yang dihadapan ku ini sangat berbeda dengan Asha yang kukenal dua bulan lalu. Memandang wajahnya sedekat ini membuatku semakin yakin bahwa ada yang lain dengan perasaanku.

"Kenapa kamu ngeliatin aku terus.. ? suara Asha membuncah semua lamunanku. Aku mengerjap kemudian cepat-cepat mengambil minum kemudian meneguknya habis. Setelah kaleng nya kosong, kutaruh lagi dimeja. Aku kemudian beringsut mendekat ke Asha, dan kuraih tangannya yang tadi menopang kepalanya dan kugenggam kuat. Aku dapat melihat ekspersi Asha berubah, ia menegang dan kegugupannya tergambar jelas.

"I miss u...., really miss u..." kubawa tangan cantik itu kebibirku dan kuciumi sambil terus menatap matanya.

"Aa... aku..." Asha tak tau harus berkata apa. Tentu saja, tentu saja ia tak tau harus berkata. Aku juga tak tau apa yang terjadi padaku, tiba-tiba merindukan gadis itu belakangan ini.

"Kau bingung..? Aku juga, aku tak tau kenapa kata-kata itu terlontar, tapi itulah yang kurasakan saat ini, dua hari tidak bertemu dengan mu aku benar-benar kepikiran. Tapi pekerjaan dikantor begitu banyak hingga baru malam ini aku bisa menemuimu..." aku mengecup kembali tangan lentik itu, kemudian kuelus pipi kanannya dengan tangan kiriku sambil membawa anak rambutnya kebelakang telinga. Asha tetap tak bergeming dengan perlakuanku, ia hanya memandangku lekat-lekat seperti mencari jawaban dari kedua bola mataku.

Beberapa detik setelahnya, aku menggeser semakin dekat padanya, tanganku yang tadi mengelus pipinya kini menjalar ketengkuknya, meraihnya untuk mendekatkan wajahnya ke wajahku, kemudian kukecup bibir yang tetap merah meski sering menghisap rokok itu. Tak ada penolakan dari gestur Asha, ia memegang bagian depan kemejaku untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tak lama, hanya beberapa detik lalu kulepas kecupan itu, dan kutatapi lagi kedua netra coklatnya. Bukan untuk mengakhiri kegitan romantis ini, tapi aku menginginkan lebih dari itu. Akhir-akhir ini aku selalu bergairah dengan sosok cantik dihadapanku ini, entah itu ketika ia hanya menggunakan pakaian minim, atau ketika memakai sweater oversize sekalipun, ia membuat naluri ku sering bangkit.

Akhirnya dengan perlahan kucium kembali Asha, penuh hasrat dan nafsu yang membara. Asha menutup mata perlahan sambil membuka mulutnya, membiarkamku masuk menjelajah semua yang ada didalamnya. Bibir atas, bawah, bahkan lidah kami saling bergelut, bertukar saliva pun tak terhindarkan. Aku semakin dalam menekan tengkuk Asha, tangan kananku meraih pinggang rampingnya kemudian mengangkat gadis itu kepangkuanku tanpa melepas ciuman kami. Asha mengalungkan kedua tangannya dileherku dan sesekali meremas rambutku disela-sela ciuman kami.

Aku bergairah, sangat bergairah dengan situasi ini, wanita cantik mendesah pasrah dipangkuanku ketika ciumanku berpindah keleher jenjangnya, menyapu setiap jengkalnya bahkan sampai ketelinga. Satu tanganku masuk kedalam piayama bagian belakang Asha dan meraba punggung mulus itu. Terus naik keatasnya sampai aku menemukan pengait pakaian dalam yang menutupi dadanya. Ya Tuhan... aku menginginkannya sekarang....
___________

Tanpa melepas ciumannya, Dannis mengangkatku kepangkuannya. Aku biarkan tangan besarnya menrengkuh pinggangku sementara tangan lainnya memegangi tengkukku seakan tak ingin ciuman ini berakhir. Tanganku kuhampirkan kelehernya dan sesekali meremas rambut bagian belakangnya. Aku benar-benar menikmati setiap sentuhan Dannis padaku, rasanya tak bisa kugambarkan dengan kata-kata karena ini terlalu baru untukku. Namun ketika tangan Dannis menyusup kedalam piyamaku kemudian menemukan pengait bra ku, dan ada gerakan hendak melepaskan pengait itu, aku langsung menegang.

Reaksi tubuhku yang kentara membuat Dannis menghentikan kegiatannya. Akhirnya tangannya keluar dari dalam piayamaku.

"ma...maaf..." kata maaf keluar dari mulutku meski tidak tau apakah aku harus benar-benar minta maaf atau ketidaknyamananku terhadap apa yang baru saja dilakukannya.

Dannis tersenyum. Senyum yang mengisyaratkan kalu ia memahami reaksiku. Ia mengelus kedua lenganku kemudian beberapa detik sesudahnya membawa tubuhku kedalam pelukannya.

"Yang seharusnya minta maaf itu aku...." dia mengelus punggung dan rambutku.

Nyaman..., satu kata itu mengartikan apa yang aku rasakan saat ini. Berada dipangkuannya, dipeluknya dan memeluknya, aku ingin seperti ini terus. Terlepas dari apa dan bagaimana arti dari hubungan yang kami jalani sekarang, aku tidak mau pusing. Bagiku ini sudah lebih dari cukup, ada Dannis disampingku dan aku merasa tidak sendirian lagi. Point pentingnya, Dannis benar-bebar membuatku sembuh dari trauma yang bertahun-tahun ini terus menghantui.

Aku merenggangkan pelukan kami, dan tanpa turun dari pangkuannya, aku menangkup wajah Dannis dengan kedua tanganku. "I need you,... i need you here...." satu pengakuan meluncur dari mulutku.

Dannis menegakkan badannya yang tadi bersandar di tangan sofa, kedua tangannya merengkuh kembali pinggangku dengan erat. " i need you too...." balasnya.

Akhirnya bibir kami kembali bertaut, hangat, basah, emosional dan dada kami berdebar.

*i'm in love.....,,

Bersambung.....

Sang Penakluk ( On Going )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang