happy reading all, part ini ga terlalu panjang kok...
____________
"Asha"
Sesuai dengan kesepakatan, hari ini adalah jadwal pertemuanku dengan CEO perusahaan Diandra Corp, Dannis Diandra. Pukul satu siang nanti pertemuannya sedangkan sekarang baru pukul sepuluh pagi. Aku menggeliat ditempat tidurku yang lebar, berguling kesana sini seperti mengukur lebar ranjang agaknya. Setelah nyawa seratus persen terkumpul, aku bangkit lalu duduk bersandar kepala ranjang, mengambil ponsel yang terletak diatas nakas. Membuka note kemudian melihat jadwalku hari ini, bertemu dengan pihak D.Corp sudah pasti, sehabis itu ada talk show dengan radio pukul empat sorenya, malamnya aku bersyukur karena tak ada kegiatan apa-apa, melanjutkan tulisan menjadi wacanaku malam nanti, ya...itupun kalau mood ku bagus.
Puas membuka note, aku tertarik untuk mencari tau tentang D.Corp, hanya sekedar ingin tahu garis besarnya saja karena jujur aku tidak tau sama sekali tentang perusahaan itu. Katanya perusahaan property, hmm..mungkin saja ranjang yang kutiduri ini produk mereka...? Siapa tahu..
Aku membuka aplikasi laman pencarian dan mengetik dua kata, "Diandra Corporation". Selang beberapa detik muncul lah berbagai berita maupun gambar yang berkaitan. Mulai dari ulasan tentang saham perusahaan, luncuran produk terbaru, kerja sama, profil perusahaan, anak cabang, bahkan barisan foto pemimpinnya. Dibagian ini, aku menemukan banyak berita mengenai penggantian CEO baru perusahaan itu yang baru berlangsung satu bulan. Dannis Diandra, nama CEO baru serta fotonya muncul begitu banyak, serta cerita mengenai keberhasilannya hingga bisa mencapai posisi CEO di perusahaan besar diusia tiga puluh tahun.
Aku tiba-tiba teringat saat Dafa bilang kalau pertemuan nanti siang akan dihadiri langsung oleh CEO itu. Entah kenapa aku juga tidak begitu paham, karena selama ini ketika berurusan dengan kontrak kerja, aku tidak pernah sekalipun bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan, kalaupun bertemu itu hanya diacara formal seperti gathering atau talkshow dan diacara amal sesekali. Mengabaikan itu karena tak terlalu penting untuk kufikirkan, aku beringsut keluar kamar, melangkah kedapur untuk sekedar meneguk air putih dikulkas lalu seperti biasa mencari sigaret didalam laci dibawah meja didepan televisi. Duduk di depan layar datar itu, kemudian menghidupkannya dan membiarkan suaranya berisik, aku menghirup kesukaan ku dalam-dalam. Yaaa,, aku sadar kebiasaanku buruk, bukannya kekamar mandi untuk sekedar menggosok gigi atau cuci muka sesusai bangun pagi, malah ini yang aku lakukan setiap pagi. Ritual membersihkan gigi hanya kulakukan ketika mandi, namun ketika berada diluar, aku pastikan selalu membawa obat kumur karena bagaimanapun image yang terlanjur terbangun baik ini tak mungkin kuhancurkan begitu saja dengan sifat burukku yang sulit kuubah.
___________
"Dannis"
Aku bergegas keluar dari ruangan ketika jam ditanganku sudah menunjukkan pukul dua belas tiga puluh. Rey yang baru saja ingin memberitahuku, karena dapat kulihat dari wajahnya mengekor dibelakangku. Belum lagi ia sempat berkata aku sudah mengangguk.
"Aku ingat Rey" kataku terus melangkah memasuki lift dan dia mengangguk paham. Setelah sampai di lantai dasar, aku mempercepat langkah dan Rey mengambil posisi di depanku untuk bersiap membuka pintu utama dan hari ini dia akan menyetir untukku. Beberapa karyawan yang berpas-pasan denganku menyapa dengan hormat sambil sedikit membungkuk, dan kubalas dengan melempar senyum tipisku.
Didepan gedung, Rey membukakan pintu mobil untukku, aku masuk dan kemudian Rey juga masuk kekursi kemudi. Mobil pun melaju membelah jalanan ibukota. Dijalan aku membaca lagi kontrak yang telah kusiapkan untuk Asha, membukanya lembar demi lembar dan baru kusadari ternyata fikiranku tak disana. Akalku telah jauh melanglang menemui gadis kurus itu, entah kenapa aku tidak sabaran bertemu dengannya. Oh, aku baru ingat, yaa.. pertarunganku dengan Judith, yaa Judith yang selalu meremehkanku untuk urusan wanita. Saking remehnya, ia bahkan bertaruh mercy nya padaku. Aku tertawa sinis mengingat wajah Judith yang dengan begitu sombong mengikrarkan diri sebagai pemenang. "Pertarungan baru dimulai dith..kita lihat saja nanti...."
"Kenapa pak...?"
"Ha...?" Aku tersentak mendengar suara Rey.
"Bukan apa-apa" kataku seraya menyusun kembali lembara demi lembaran yang hampir jatuh kelantai mobil. Ya Tuhan, aku merasa kehilangan keeleganan diri detik itu juga, sebagaimana aku yang biasanya tenang bisa jadi karasak krusuk begitu.
"Mmm, ngomong-ngomong kenapa bapak turun langsung menemui Klien kita kali ini pak..?" Rey akhirnya dengan keberanian menanyakan hal yang sedari tadi berputar-putar dikepalanya. Ia sesekali mengintip melalui spion tengah menunggu jawaban bosnya, aku pastinya.
"Bukannya kemaren-kemaren aku selalu melakukannya..., kau lupa..?" Aku menjawab pertanyaan Rey, aku tau ia akan bertanya begitu.
"Yaaa, itukan ketika bapak masih menjabat direktur pemasaran.."
"Lalu apa bedanya..?"
"Jabatannya pak,, selama lima tahun mengabdi di D.Corp baru bapak CEO yang langsung turun gunung..."
"Pernyataanmu berlebihan Rey,," Rey tersenyum tipis, melihatnya dari spion, aku tau ia mentertawakan bahasa nya sendiri yang menurut kami terlalu berlebihan.
"Atau bapak juga nge fans sama Asha,, aku betul kah...?"
What,,aku belum selesai mencerna kalimat turun gunungnya, ketika ia menyuruhku mencerna lagi kalimat yang tidak masuk diakal. Aku..? Fans Natasha Barvi ??? Oh God..., jangan sampai itu terjadi. Rey nampaknya sudah salah paham disini, namun wajar karena ia tidak tahu apa yang sebenarnya kurencanakan.
"Anggap saja begitu....!" Jawabku asal sambil memutar malas bola mataku.
___________
"Asha+Dannis"
Dannis memasuki restaurant tempat mereka membuat janji. Dipintu masuk, ia disambut oleh pelayan yang kemudian menuntunya kelantai dua, tepat nya diruang VIP yang sudah dipesan sebelumnya. Dengan setia Rey mengekorinya. Sesampai diruangan yang pertemuan, ternyata disana sudah ada Asha beserta Dafa. Keduanya langsung bediri memberi hormat. Untuk pertama kalinya, ahh bukan, ini yang kedua bagi Dannis bertemu wanita cantik itu, namun kali ini berbeda, ia lebih cantik dari malam itu, lebih bersinar dan tentu lebih rapi serta tidak ada tali bra yang berantakan sana sini. Asha datang dengan balutan terusan selutut berwarna army dengan lengan pendek. Kerahnya tegak memperlihatkan leher jenjangnya serta kancing baju membelah dari leher sampai keujung dress dengan saku dikanan kiri bagian dada. Rambutnya ia belah tengah dan dibiarkan tergerai membuatnya semakin cantik. Wajahnya dipoles dengan make up tipis, serta lipstik warna pink muda. Senyumnya merekah memperlihatkan barisan gigi yang rapi, membuat Dannis hampir lupa kalau itu hanya pencitraan saja. Berbeda dengan Dannis yang pura-pura terlihat datar, Rey tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Asha, aah tentu saja karena dia pernah bercerita pada Dannis kalau Asha adalah Idolanya.
Pertemuan itu tak berlangsung lama, setelah kegiatan pertama dimulai yaitu makan siang, pertemuan pun langsung menuju pada tujuan awalnya, yaitu penanda tanganan kontrak kerja sama antara D.Corp dengan Natasha Barvi, kontrak eksklusif selama setahun jadi brand ambasador produk terbaru perusahaan itu.
Asha sudah menandatangi kontrak tersebut dilanjutkan dengan Dannis sesudahnya. Kemudian keduanya berjabat tangan dan Rey pun mengabadikan. Hanya sesaat ketika sesudahnya Asha langsung melepas telapak tangan Dannis yang menempel ditangannya. Dannis sedikit kaget dengan gerakan reflek tersebut namun sesudahnya ia tak terlalu ambil peduli karena yang terpenting ia sudah selangkah lebih maju dalam permainan ini. Dan perihal Asha, Dannis merasa wanita itu benar-benar tidak tau sama sekali kejadian malam itu. Tak ada getaran sama sekali padahal malam itu ia bergelayut manja seperti ulat pada Dannis. Mengendus-endus Dannis, melingkar tangan di lehernya dan bersandar didada bidang laki-laki itu. Laki-laki itu menggeleng kecil, mengisyaratkan kalau ia benar-benar tak habis pikir dengan pencitraan yang dibuat sangat apik oleh wanita yang sedang berada didalam pandangannya ini. Persetan dengannya, yang jelas sekali mendayung dua pulau terlampaui sudah. Pertama tentu saja keuntungan perusahaan, kedua mercy...., oh no !!! Bukan itu, bukan benda yang begitu mudah dibeli dengan uangnya, namun ini tentang harga diri.
#karena harga diri tidak bisa dibeli dengan apapun.....
"Bersambung...."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sang Penakluk ( On Going )
RomanceAkhirnya dengan perlahan kucium kembali Asha, penuh hasrat dan nafsu yang membara. Asha menutup mata perlahan sambil membuka mulutnya, membiarkamku masuk menjelajah semua yang ada didalamnya. Bibir atas, bawah, bahkan lidah kami saling bergelut, ber...
