"Ini hanyalah awal. Ini hanyalah pintu menuju lorong hitam tanpa jalan keluar. Dan aku membuka pintu itu dengan senang hati tanpa memikirkan resikonya. Masih layakkah aku untuk tempat yang lebih baik?"
~Alana Pramoedya~
♡As Long As Live♡
Happy Reading💜
Sebuah mobil van berwarna hitam berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern yang didominasi warna hitam. Seorang gadis keluar dari mobil itu dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya. Dilihat dari mana pun jelas gadis itu bukanlah orang Asia. Rambutnya yang kecokelatan dan bergelombang tergerai indah. Kedua matanya bersinar, menatap takjub pada rumah di hadapannya. Dia telah melihat banyak rumah di sekitar komplek perumahan ini. Namun tidak ada yang seindah rumah di hadapannya kala ini. Bahkan jika dia menelusuri seluruh kota ini dia tahu bahwa rumah di hadapannya ini akan tetap menjadi yang paling menakjubkan.
Ditatapnya lekat-lekat rumah tiga tingkat itu. Di lantai pertama tampaknya hanya ada gudang dan garasi. Dia pun berjalan menuju tangga di depan rumah itu yang langsung menuju lantai dua. Dia menapaki satu per satu anak tangga itu seraya tiada hentinya berdecak kagum. Lalu saat sampai di depan pintu dia pun segera menekan bel dan tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya membukakan pintu.
"Maaf cari siapa ya?" tanya wanita itu yang tampaknya adalah pembantu di rumah ini.
"Saya mencari Alga. Ada bingkisan untuk dia," jawabnya seraya tersenyum.
"Ooh nyari Den Alga. Silakan masuk, Non." Wanita itu balas tersenyum lalu mempersilakannya untuk masuk ke ruang tamu.
"Silakan duduk, Non." Wanita itu mempersilakannya duduk di sebuah sofa besar berwarna hitam yang ada di tengah-tengah ruangan. "Sebentar ya saya panggilkan Den Alga," kata wanita itu lagi yang dibalas dengan anggukan olehnya.
Sembari menunggu dia menatap dan menelusuri seisi ruangan itu. Dan lagi-lagi ia dibuat takjub kala mendapati interior rumah itu yang tampak begitu elegan nan mewah. Kendati demikian warna hitam selalu mendominasi segalanya. Hanya beberapa sudut yang tampak berwarna putih. Entahlah! Mungkin pemilik rumah ini begitu menyukai warna hitam. Kedua bola matanya terpaku pada meja makan yang berada tak jauh dari sofa. Meja makan itu terbuat dari kayu dengan warna kecokelatan. Lalu di dekat meja makan itu ada dapur. Tidak seperti meja makan, ada kaca bening yang menjadi pembatas antara dapur dan ruangan itu.
Gadis itu menoleh ke sebelah kirinya dan segera melihat kolam renang yang sangat besar. Oh, dan lagi hanya kaca bening yang menjadi pembatas antara ruangan itu dan kolam renang. Dia mengalihkan pandangannya dan kembali menatap seisi ruangan itu. Hampir semua furnitur di ruangan itu terlihat klasik. Benar-benar indah. Apa pemiliknya juga seindah rumah ini? Dan kini dia terpaku pada tangga hitam yang menuju lantai tiga. Di bawah tangga itu ada sebuah piano. Apa mungkin pemilik rumah ini seorang pianis? Lalu bagian yang paling menakjubkan adalah salah satu sisi tangga itu merupakan sebuah rak buku. Sungguh, ini sangat menakjubkan. Gadis itu bahkan tidak pernah berpikir untuk menjadikan salah satu sisi tangga sebagai rak buku. Namun sosok pemilik rumah ini mampu memikirkan hal itu. Ah, tampaknya selain seorang pianis pemilik rumah ini juga adalah seorang kutu buku.
Dia masih setia menelusuri seluruh ruangan itu. Hingga akhirnya ia menjatuhkan pandangannya pada sebuah jam pasir yang tertata rapi di antara beberapa furnitur di sana. Dia kembali mengedarkan pandangannya dan seketika menyadari bahwa sama sekali tidak ada jam dinding di sana. Satu-satunya yang bisa menjadi penunjuk waktu adalah jam pasir itu. Lalu entah mendapat dorongan dari mana hingga dia bangkit dan mengambil jam pasir itu dengan tangan mungilnya. Dia terpesona. Tidak menyangka bahwa ada seseorang yang begitu tertarik pada jam pasir di zaman modern ini. Dan sekarang dia semakin penasaran siapa pemilik rumah ini yang sebenarnya?
KAMU SEDANG MEMBACA
ALGA : As Long As Live
RomanceKepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Namun bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan, diluluhlantakkan oleh dia yang begitu kau percaya? Akankah kau memberinya kesempatan kedua? Ini tentang Alga, seorang ketua geng para berandalan bernamak...
