Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

11. Luka Lama

218 23 23
                                        

"Luka yang kau torehkan hari itu bahkan belum sembuh dan kau kembali membukanya. Seolah belum cukup, kini kau menambahnya dengan luka yang baru. I'm in pain."

~Algarish Prawiranegara~

Lembayung senja di atas sana lenyap sudah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lembayung senja di atas sana lenyap sudah. Tergantikan oleh gulitanya sang malam yang terlampau mengerikan untuk menjadi singgasana sang purnama dan jutaan bintang yang bersinar terang. Namun tetap saja, malam adalah juara yang sesungguhnya. Kala siang kita hanya bisa berteman dengan sang matahari. Namun malam adalah gerbang utama menuju perjumpaan dengan jutaan bintang. Kendati demikian malam tidak pernah butuh pengakuan. Sebab senyum dari satu sosok manusia sudah lebih dari cukup baginya.

Namun beberapa hari terakhir Alana tidak bisa bahkan hanya untuk memberikan seulas senyum pada sang malam. Tidak! Alana tidak bermaksud jahat. Hanya saja dia tidak lagi memiliki alasan untuk tersenyum. Dunia ini telah memberinya begitu banyak alasan untuk menangis. Sayatan dan luka memenuhi hari-harinya, layaknya tangis dan derita yang menghias kisah tragedi. Dan air mata selalu berkuasa di atas segalanya. Namun sayang, karena bahkan setelah semua air mata itu tidak ada satu orang pun yang bisa menjadi alasannya untuk tersenyum. Bahkan orang yang paling dicintainya sekali pun.

Prangg!!

Alana tidak tahu suara apa itu. Namun dapat ia simpulkan bahwa mama dan abangnya sedang bertengkar, lagi. Entah apa alasannya. Dan tampaknya laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu melempar beberapa barang di rumah ini sebagai pelampiasan atas amarahnya pada sang mama. Sungguh, ini sangat menyakitkan. Sudah delapan belas tahun berlalu. Dan Alana tidak pernah merasakan sakit yang begitu luar biasa ini sebelumnya. Kini ia tahu ada yang tak kalah menyakitkan dari perceraian kedua orang tua. Yaitu saat orang-orang yang kau sayangi tinggal di atap yang sama tapi setiap hari mereka selalu bertengkar, saling berteriak, dan saling menyumpah serapah satu sama lain. Percayalah, rasanya begitu menyakitkan. Lebih sakit dari luka segar yang kembali diberi sayatan.

Alana menutup telinganya, berharap bahwa dia tidak akan lagi mendengar teriakan dan sumpah serapah yang keluar dari bibir mereka. Namun kedua tangan mungilnya itu tidak cukup kuat untuk menjadi tameng. Pada akhirnya suara-suara menyakitkan itu kembali mencapai indera pendengarannya. Tolong, siapa pun bawa Alana meninggalkan tempat ini.

Sudah begitu lama. Dan Alana tidak tahan lagi. Perlahan-lahan isak tangis yang begitu pilu keluar dari bibir mungilnya. Dan detik itu juga Alana meluruh, terduduk di balik pintu kamarnya dan memeluk erat kedua lututnya. Panas tubuhnya bahkan belum turun sejak tadi. Rasa sakit di kepalanya juga masih setia menyerang, menghantamnya bagaikan puluhan bebatuan yang datang dari ketinggian. Namun hatinya yang berdarah lebih buruk daripada apa pun.

Papa, aku kangen. Mama sama Abang selalu bertengkar setiap hari. Aku enggak tahu kenapa mereka bertengkar. Tapi mereka selalu berteriak dan melempar barang-barang di rumah. Aku takut, Pa.

ALGA : As Long As Live Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang