Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

16. Butterfly

215 21 27
                                        

Aku sadar sekarang aku bukan lagi pacar kamu. Tapi aku masih tidak bisa melihat kamu bersama gadis lain. Aku cemburu.

~Alana Pramoedya~

~Alana Pramoedya~

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy Reading💜

Hidup adalah panggung sandiwara dan semua manusia adalah aktornya. Alga sangat setuju dengan kalimat itu. Karena dia sendiri mungkin adalah salah satu aktor paling hebat di dunia ini. Bertahun-tahun sudah ia bersandiwara. Selama ini dia hanya memperlihatkan amarah dan sikap penuh kuasanya pada orang-orang. Namun di balik semua itu ada banyak rasa sakit yang ia sembunyikan. Rasa sakit akibat pengkhianatan mamanya. Rasa sakit akibat perlakuan kasar papanya. Rasa akibat kebencian kakaknya. Dan rasa sakit akibat kekangan sang kakek. Jujur, setiap detik Alga selalu berharap agar ia mati. Karena tidak peduli meski semengerikan apa pun kematian itu bagi Alga tetap lebih menakutkan bila ia harus berhadapan dengan hari esok yang pastinya akan kembali memberinya luka.  

Menarik napasnya dalam-dalam, Alga turun dari motornya lalu melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Pagi ini lebih dingin dari biasanya. Dan untuk menghindari udara dingin yang hendak menusuk hingga ke tulangnya dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodienya. Tidak ada lagi jaket kebanggannya yang selama ini selalu membalut tubuh tegapnya yang tampak bak ksatria. Namun tak apa. Karena hoodie hitam yang kini ia kenakan sudah cukup untuk menggantikan jaket kebanggannya itu.

Alga berjalan dengan langkah lebar seperti biasanya. Namun saat beberapa langkah lagi dia akan mencapai kelasnya dia berpapasan dengan Alana. Alga melangkah ke kiri namun Alana juga melangkah ke arah yang sama. Berdecak, Alga pun melangkahkan kakinya ke kanan namun Alana juga melangkah ke arah yang ia tuju. Sial! Apa yang gadis ini inginkan? Dengan rasa kesal yang membabi buta Alga pun kembali melangkahkan kakinya ke kiri. Namun lagi-lagi Alana melangkah ke arah yang sama. Alga semakin kesal. Dan kali ini dia tidak lagi mampu menahan dirinya.

"Gadis sialan! Maksud lo apa, hah? Kenapa lo menghalangi jalan gue?" Alga bertanya dengan nada membentak. Demi apa pun gadis ini benar-benar membuat amarahnya naik ke permukaan.

"Aku-"

"Enggak usah pakek aku-kamu! Kita udah enggak pacaran lagi!" bentak Alga. Namun daripada bentakannya yang terdengar kasar, kalimat yang terucap dari bibir laki-laki itu jauh lebih menyakitkan. Alana merasa hatinya tersayat oleh belati tajam kala mendengarnya. Ya, Alana tahu bahwa apa yang Alga katakan memanglah benar. Mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih. Hubungan mereka sudah berakhir tepat saat dia menyakiti Alga dengan foto-foto menjijikkan itu. Namun tetap saja kenyataan yang kini terpampang jelas di hadapannya benar-benar menyakitkan. Alana masih belum bisa menerima kenyataan itu. Alana masih belum bisa menerima bahwa dia dan Alga sudah berakhir. Alana ingin segalanya kembali seperti dulu. Namun apakah bisa? Apakah Alana masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Setidaknya sedikit saja. Dan demi apa pun Alana berjanji bahwa dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu.

ALGA : As Long As Live Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang