Kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Namun bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan, diluluhlantakkan oleh dia yang begitu kau percaya? Akankah kau memberinya kesempatan kedua?
Ini tentang Alga, seorang ketua geng para berandalan bernamak...
"Jangan tanya aku perihal keras kepala! Karena bahkan saat hatiku dengan lantang berkata bahwa kamu sudah tidak lagi berdiri di tempat di mana kisah kita berada, dengan bangga aku akan tetap mencintaimu dengan cara yang sama."
─ Alana Pramoedya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading 💜
Jika kamu punya masalah dan kamu tidak punya seseorang yang kamu percaya untuk menjadi tempat bagimu menceritakan masalah itu maka pergilah pada Tuhan. Ceritakan semua keluh kesahmu pada-Nya. Mungkin Dia tidak akan menjawabmu secara langsung. Mungkin Dia tidak akan menyemangatimu secara langsung. Mungkin Dia tidak akan memberimu kekuatan secara langsung. Tapi Dia juga tidak akan menghakimimu. Dia juga tidak akan membandingkan masalahmu dengan orang lain. Dan kamu tidak perlu takut Dia akan memberitahu masalahmu pada orang-orang. Karena Tuhan adalah pendengar dan penjaga rahasia terbaik yang pernah ada.
Dan karena itulah Alana lebih memilih untuk pergi ke gereja daripada berkeluh kesah pada manusia. Karena Alana tahu Tuhan selalu mendengarnya. Dengan melipat kedua tangannya dan memejamkan mata Alana pun mulai berdoa. Menceritakan segalanya sekaligus berterimakasih atas nikmat Tuhan yang tiada habisnya. Dan ketika Alana membuka matanya dia merasa sedikit lebih tenang. Memang benar, Tuhan selalu bisa memberinya ketenangan.
Alana berterimakasih sekali lagi sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari sana. Namun saat baru saja membalikkan badannya dia melihat Agam duduk di kursi paling belakang gereja itu. Tatapan laki-laki itu tampak sendu. Sepertinya dia sedang ada masalah. Alana pun menghampirinya.
"Mau berdoa juga?" Agam mengangkat pandangannya, menatap pada Alana yang kini telah berdiri di dekatnya.
Laki-laki itu menggeleng. "Gue masih marah sama Dia."
"Marah karena apa?" Agam tidak menjawab. Namun sorot matanya membuat Alana menyadari bahwa laki-laki itu tidak ingin menceritakan apa pun padanya. Akhirnya Alana pun memilih untuk duduk di sebelah laki-laki itu.
"Enggak papa kalau masih marah tapi jangan sampai lo membenci Tuhan karena itu," katanya halus. Dan entah kenapa Agam merasa tenang mendengarnya. Dia sudah mendengar begitu banyak nasihat dari orang-orang. Bahkan dia sampai muak dibuatnya. Namun hanya Alana satu-satunya yang bisa memberinya ketenangan.
"Datang lagi kalau marahnya udah selesai." Alana tersenyum. Senyum hangat yang selalu bisa membuat Agam merasa tenang dan damai. Alana adalah satu-satunya kedamaian di antara semua kekacauan dalam hidupnya. Dan andaikan saja kedamaian itu bisa menjadi miliknya. Namun tidak! Karena Alana memiliki kedamaiannya sendiri.
♡As Long As Live♡
"Mama gue gila." Langkah kaki Alana yang baru saja keluar dari gereja hampir terhenti kala mendengar apa yang Agam ucapkan. Gadis itu menoleh hanya untuk memastikan bahwa Agam baik-baik saja. Kendati sebenarnya dia sangat tahu bahwa Agam tidak mungkin baik-baik saja.