Kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Namun bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan, diluluhlantakkan oleh dia yang begitu kau percaya? Akankah kau memberinya kesempatan kedua?
Ini tentang Alga, seorang ketua geng para berandalan bernamak...
"Aku mohon, mulai sekarang tolong bersikap seakan-akan kita adalah dua orang asing. Seakan-akan kita tidak pernah saling mengenal. Jangan lihat aku bahkan saat kita berpapasan. Kalau bisa jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Karena setiap kali aku melihatmu aku hanya melihat pengkhianatan."
─ Algarish Prawiranegara
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Daripada siang Alga memang lebih menyukai malam. Bukan apa-apa, hanya saja malam lebih menenangkan. Kendati demikian dia tidak pernah merasa sendirian. Setidaknya ada bintang-bintang yang menemaninya. Ya, walau sejujurnya sulit melihat indahnya bintang di ibukota. Namun Alga belum pernah sesuka itu pada malam hingga malam ini. Bahkan hanya dengan melihat gadis itu tersenyum seraya membawa bunga pemberiannya dia merasa hatinya kian menghangat. Melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah gadis itu membuat Alga merasa dihargai lebih dari apa pun. Alsyara menyukai bunga pemberiannya.
"Aku perempuan keberapa yang kamu kasi bunga?" tanya gadis itu. Langkahnya yang seringan angin menuntun Alga menyusuri trotoar di perjalanan pulang malam ini.
"Keempat," jawab Alga tegas seraya menatap gadis yang berjalan di sebelahnya itu. Sama sekali tidak ada keraguan dalam ucapannya. Seolah-olah dia memang tidak ingin menyembunyikan apa pun dari gadis itu.
"Banyak juga pacar kamu." Alsyara terkekeh geli saat mengatakannya. Tentu saja Alga memiliki banyak pacar. Laki-laki itu sangat tampan. Bahkan sepertinya dia bisa memilih gadis mana pun untuk menjadi pacarnya.
"Bukan pacar," kata Alga yang tiba-tiba menggelitik rasa penasaran dalam diri Alsyara. Jika bukan pacar lantas siapa yang Alga berikan bunga?
"Lalu?" tanyanya pada Alga.
"Yang pertama mama, yang kedua nenek, dan yang ketiga mantan," jawab Alga.
"Siapa nama mantan kamu?" tanya gadis itu lagi yang membuat Alga terdiam seketika. Laki-laki itu bahkan menghentikan langkahnya yang membuat Alsyara menyadari bahwa ia telah melewati batas. Tidak seharusnya dia mempertanyakan masa lalu laki-laki itu. Karena biar bagaimanapun Alga telah meninggalkan masa lalu itu. Dan meninggalkan masa lalu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu yang lama dan usaha yang luar biasa.
"Maaf enggak seharusnya aku mempertanyakan tentang masa lalu kamu," ucapnya penuh penyesalan. Demi apa pun dia tidak bermaksud untuk membuat Alga kembali mengenang masa lalunya yang mungkin saja menyakitkan.
Namun Alga malah merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Lalu ia menunjukkan foto seseorang. "Namanya Alana Pramoedya. Pacar sekaligus mantan pertama gue."
Alana? Dia mantannya Alga? tanya Alsyara dalam hatinya. Dan tentu saja dia sangat terkejut akan satu fakta yang baru saja dia ketahui itu. Namun sebisa mungkin dia menyembunyikan keterkejutannya. Alga tidak boleh tahu bahwa dia mengenal Alana. Lalu mereka berdua pun melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.