Kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Namun bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan, diluluhlantakkan oleh dia yang begitu kau percaya? Akankah kau memberinya kesempatan kedua?
Ini tentang Alga, seorang ketua geng para berandalan bernamak...
"Bahkan setelah kamu pergi dan memulai cerita di buku yang baru kamu masih menjadi tokoh utama dalam ceritaku."
─ Alana Pramoedya
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading💜
Kita adalah tokoh utama dalam cerita kita sendiri. Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Kenyataannya Alana bukanlah tokoh utama dalam ceritanya sendiri. Karena dia telah menjadikan Alga sebagai tokoh utama dalam ceritanya. Bodoh memang. Bagaimana mungkin dia bisa mengabaikan dirinya sendiri demi laki-laki berengsek seperti Alga? Namun apalah daya. Cinta benar-benar telah menjadikannya gila. Dia telah kehilangan seluruh kewarasannya. Tidak! Alana tidak pernah kehilangan kewarasannya. Melainkan dia sendiri yang memberikan kewarasannya pada Alga.
Hari ini adalah halaman baru dalam ceritanya. Ceritanya yang baru. Sebuah cerita di mana Alga tidak lagi menjadi miliknya. Namun dia akan tetap berusaha untuk membuat laki-laki itu kembali padanya. Mentari pagi menyambut dengan senyum cerah seperti biasanya. Alana terduduk di sebuah halte bis seraya menggoyangkan kakinya. Ya, sekarang Alana memang sudah terbiasa berangkat ke sekolah dengan bis. Bukan lagi mobil mewah seperti dulu. Maklum, sekarang keluarganya benar-benar sedang berada di titik terendah. Bahkan Alana sudah mulai mencari pekerjaan paruh waktu untuk membantu perekonomian keluarganya. Waktu benar-benar hebat, ya. Dia mampu mengubah segalanya dalam sekejap.
Tak lama kemudian sebuah bis berhenti di sana. Alana pun dengan segera masuk ke dalam bis itu. Namun tanpa dia sadari sejak tadi ada seorang laki-laki yang memperhatikannya dari jarak yang lumayan dekat dari halte bis itu. Dan laki-laki itu adalah Agam.
Ya, Agam memang sudah berada di sana jauh sebelum Alana datang. Tujuannya tentu saja untuk melihat sang pujaan hati. Sejak beberapa hari belakangan ini dia memang selalu memperhatikan Alana. Bahkan dia tahu dengan benar jam dan menit Alana tiba di halte bis itu. Tersenyum lebar, Agam pun ikut masuk ke dalam bis itu. Wajahnya kian berseri kala mendapati Alana tengah duduk di kursi belakang dekat jendela. Lalu dengan langkah lebar dia menghampiri gadis itu.
"Pagi," sapanya seraya duduk di kursi sebelah Alana.
Alana tampak terkejut akan kehadiran Agam yang benar-benar di luar dugaannya. Namun dia tetap tersenyum dan membalas sapaan laki-laki itu. "Pagi."
"Lagi dengerin lagu apa?" tanya Agam.
Alana yang masih dapat mendengar pertanyaan Agam meskipun sedang memakai earphone pun menjawab, "Lagu Korea."
"Apa judulnya?" tanya Agam lagi.
"Life Goes On-BTS," sahut Alana.
"Boleh ikut dengerin enggak?" Alana terdiam sejenak kala mendengar pertanyaan Agam. Bingung. Haruskah dia mengizinkan Agam atau tidak? Namun pada akhirnya gadis itu memilih untuk menganggukkan kepalanya. Lalu ia melepas earphone di telinga kirinya dan memberikannya pada Agam. Agam tersenyum lalu memakai earphone itu di telinga kanannya. Lagu Life Goes On-BTS langsung mengalun indah menemani perjalanan keduanya. Agam menoleh, menatap pada Alana yang lebih memilih untuk melihat pada jalanan. Rasanya ingin sekali dia berkata pada Alana akan betapa dia mencintai gadis itu. Namun apalah daya, Alana telah memiliki seseorang yang bertahta di hatinya.