Kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Namun bagaimana jika kepercayaanmu dihancurkan, diluluhlantakkan oleh dia yang begitu kau percaya? Akankah kau memberinya kesempatan kedua?
Ini tentang Alga, seorang ketua geng para berandalan bernamak...
"Pada akhirnya aku hanya akan menjadi seseorang yang kamu datangi setiap kali kamu terluka. Pada akhirnya kisah kita hanya sebatas ucapan terima kasih."
- Irenia Alsyara
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sekali lagi tangan lembut itu mengobati lukanya. Memberinya ketenangan dan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan Alga tidak bisa berhenti berharap agar waktu berhenti detik ini juga. Demi apa pun dia tidak ingin kehilangan ketenangan dan kedamaian yang untuk pertama kali ia rasakan. Bertahun-tahun sudah ia menanti dan baru sekarang dia benar-benar merasa damai. Lalu bagaimana mungkin ia rela kehilangan kedamaian itu?
"Selesai," ucap gadis itu setelah menempelkan plester luka di dahinya.
"Terima kasih." Alga berujar tulus. Saat Alsyara menjauhkan tangannya dengan segera Alga meraih tangan gadis itu. Seakan-akan ia begitu takut kehilangan tangan mungil itu.
"Terima kasih kembali." Gadis itu membalas, hendak melepaskan tangannya dari genggaman Alga. Namun Alga tak mau kalah. Digenggamnya tangan gadis itu dengan erat. Lalu ia mendudukkan gadis itu di sebelahnya.
"Jangan pergi." Itu bukanlah perintah, melainkan sebuah permintaan. Suara Alga yang terdengar lirih melemahkan Alsyara. Dan ketika manik jernihnya bertemu dengan manik hitam pekat milik Alga dia tahu bahwa Alga jauh lebih terluka dari yang terlihat. Entah apa yang membuat laki-laki itu begitu terluka.
Alsyara membiarkan Alga menggenggam tangan mungilnya. Gadis itu sama sekali tidak bertanya perihal dari mana Alga mendapatkan luka di dahinya. Tidak juga bertanya perihal kenapa Alga tidak mengizinkan dia pergi. Karena tanpa bertanya pun dia tahu bahwa Alga sedang ada masalah yang tidak bisa ia ceritakan pada orang lain. Terlebih orang asing sepertinya. Alga berhak memiliki privasi dan dia tentu tidak bisa melewati batas privasi itu. Kendati demikian dia tahu bahwa Alga membutuhkan seseorang untuk membuatnya menyadari bahwa dia tidaklah seorang diri di dunia ini. Dan Alsyara dengan senang akan menjadi seseorang itu. Tanpa diminta, tanpa syarat.
"Al ...." Setelah cukup lama terdiam akhirnya Alsyara memberanikan diri untuk bersuara. Setidaknya dia sedang berusaha untuk memulai percakapan di antara mereka.
"Hm?" Alga hanya menanggapi dengan deheman singkat. Kendati demikian dia tidak pernah melepaskan pandangannya dari Alsyara.
"Kalau kamu punya kesempatan untuk dilahirkan kembali kamu mau jadi apa?" Alsyara bertanya.
Alga tampak berpikir sejenak. Ia menerawang pada sesuatu yang sama sekali tidak Alsyara ketahui. Hingga akhirnya dia menjawab, "Koala."
"Kenapa?" Alsyara kembali bertanya hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Karena koala bisa tidur sepuasnya. Tanpa takut akan ada seseorang yang memarahinya. Tanpa takut akan tatapan sinis orang-orang. Tanpa takut jika hari ini, besok, dan seterusnya enggak seperti yang dia inginkan. Tanpa takut enggak mendapat nilai sempurna. Tanpa takut enggak diterima di sekolah atau universitas yang dia inginkan. Tanpa takut enggak punya pekerjaan di masa depan. Jadi koala pasti menyenangkan." Untuk pertama kalinya Alga menyuarakan keinginannya. Keinginan yang kerap kali ia sembunyikan di balik sikap penuh kuasanya.