Hai, Readers Mate!
Keterlambatan ini bukannya disengaja
Bagaimanapun, sinyal bukan kuasa kita #eh
....
"Apa? Kamu dapat penghargaan siswi teladan?" tanya papa saat kukabari tahun lalu.
Suaranya kadang terdengar putus-putus dari telepon. Meski begitu, nada kebanggaan di ujung kalimatnya cukup tedengar jelas, terasa menghangatkan pipiku.
"Wah, bagus! Beritanya udah dimuat koran, belum? Nanti Papa luangkan waktu kalau kamu diundang talkshow atau perjamuan sama bupati ya!" imbuhnya memudarkan senyumku seketika. Saat itulah aku sadar betapa aku masih jauh dari ekspektasi papa.
"Anu, Pa ... tapi itu cuma penghargaan tingkat sekolah ...," gumamku kian lirih di ujung kalimat.
Hening sesaat, aku tak tahu bagaimana papa menahan tawa remehnya di seberang sana. Tidak tahu dan tidak mau tahu. Karena itulah, sambungan telepon kuakhiri begitu saja. Jika tidak, dadaku hanya semakin terasa sesak.
Namun, sesak yang sesungguhnya mungkin baru terasa sekarang, setelah aku ditertawakan dua kali.
"Hei, maaf ... Kadang emosi Guna bisa tersalur ke aku, Bell. Aku sama sekali enggak bermaksud merendahkan kamu," kata Kevin.
"Jangan jadiin Guna alasan, ah! Ketawa aja kalau aku emang pantas diketawain. Blak-bakan, tuh, kayak Guna!" jawabku, tak memedulikan bantahan Kevin dan terus saja bicara.
"Emang gila aku, 'kan? Enggak bisa apa-apa tapi bisa jadi siswi teladan! Ya, tebak aja, aku pinjem banyak roh kecerdasan. Anak-anak dari klub model, pianis ekskul musik, juga mantanku yang unggul secara akademik sama public speaking!" sambungku.
Biarlah, yang ingin kulakukan hanya mengakui semuanya, membanting harga diriku sendiri sebelum kedahuluan Guna atau Kevin.
"Jangan keras-keras, Bell ...," tegur Kevin, tapi beruntungnya seisi kelas masih sibuk saling tunjuk, memilih pasangan kandidat siswa teladan kelasini. Dari sekitar tiga puluhan siswa yang ada ... sepertinya tidak ada yang berminat?
"Kalian, tuh, diajak tenar malah enggak mau! Padahal di kelas kita udah ada contohnya. Masa enggak ada yang mau ikut jejak si Bella?" keluh Lukman. Semakin terlihat pusing, rambut sekretaris kelas itu terlihat kian keriting.
"Emang segitu pentingnya ya ketenaran buat manusia? Bener-bener enggak habis pikir, deh ... Kamu dulu pengin jadi siswi teladan demi apa, sih, Isabella?" tanya Guna. Sepertinya Kevin juga menunggu jawabanku mengingat dulu dia juga pernah ingin tahu. Beruntunglah Vivi lebih dulu menanyaiku, memberiku alasan untuk kabur dari pertanyaan Guna.
"Menurut kamu gimana, Bell? Sebagai peserta tahun lalu, kamu pasti tahu seseorang yang layak maju jadi kandidat tahun ini," kata Vivi tak mau ambil pusing.
Seketika aku merasakan berbagai sinyal telepati dari tatapan teman-teman sekelas. Mereka yang menolak ditumbalkan menjadi kandidat, menolak terlibat serentetan kesibukan seleksi dan promosi yang lumayan merepotkan. Jangan sampai aku menyebut salah satu nama dari mereka ....
"Um, gimana kalau kamu sendiri, Vi?" jawabku segera disambung seruan setuju seisi kelas. Sepertinya jawabanku memuaskan banyak orang.
"Betul, siapa lagi kalau bukan peringkat satu yang paling layak? Tahun lalu Bella maju jadi kandidat juga karena dia peringkat satu, 'kan?" timpal Firda.
"Jangan bercanda, hei! Ini siswa teladan, bukan pekan ilmiah! Dewan juri enggak cuma nilai seberapa hafal aku sama isomer rantai alkana, seenggaknya aku harus punya keterampilan main alat musik, nari, atau bidang non-akademik lain ... dan kalian tahu aku minim banget soal itu!" bantah Vivi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Novela JuvenilHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
