EPISODE 18 - Cara Terhormat

1.2K 355 163
                                        

Sebagai satu-satunya kesempatan bagus yang kupunya, kegiatan mentoring itu harus kumaksimalkan. Mungkin tidak semata-mata demi kepentinganku sendiri, tapi juga tanggung jawabku terhadap Pak Hakim dan jajaran pembina.

Melaporkan bahwa hanya Sekar yang selalu hadir sementara Vian entah ke mana ... aku tak bisa membiarkannya.

"Kamu dekat sama dia, 'kan, Yan? Cara bikin dia nurut gimana, sih? Dia suka cola kayak kamu, enggak?" cecarku pada Rian. Sohib dekat Vian ini pasti tahu banyak. Namun, alih-alih menjawab, Rian malah tidak bisa menahan tawanya.

"Tanya sendiri, tuh, sama orangnya!" jawab Rian dan jantungku berasa mencelus seketika. Orang yang kubicarakan ada di sini?

Oke, kalem ... dia cuma adik kelas. Harusnya tidak ada yang kutakuti, tapi entah kenapa Vian di sebelah pundakku kali ini ... seolah bisa melahapku hanya dengan tatapannya.

"Dipawangin biar nurut, hm? Kakak pikir aku beruang sirkus?" jawab bocah itu, yang entah kenapa tidak enak sekali menyebutnya bocah sementara aku harus mendongak demi beradu pandang.

"Ah, iya juga, sih! Kontes enggak guna sekolah ini emang cuma buat tontonan hiburan aja, 'kan? Bodo amatlah siapa yang mau menang, asal deket sama juri, prestasi pas-pasan pun enggak masalah ...," imbuh Vian dan ... paru-paruku terasa menciut seketika.

Hiburan katanya ... aku hanya tontonan yang memuaskan ekspektasi banyak orang. Terlepas dari itu ... apa sejatinya dia tahu soal kecuranganku? Untuk pertama kalinya ada yang berani bilang hal semacam itu langsung di depanku, tiba-tiba aku ingin lenyap saja.

"Ya ampun, udah masuk kelas orang sembarangan, ngomong tanpa dikunyah pula! Rian, tolong kondisikan adik kamu ya!" sahut Vivi diam-diam mengepalkan tangannya.

"Demi apa? Aku harus ngulang seribu kali kalau kita bukan kakak-adik! Dan ini pertama kalinya aku benar-benar malu sama kelakuan kamu, Yan!" kata Rian tak kusangka angkat bicara.

"Kamu sadar abis ngomong apa, 'kan? Emangnya kamu udah kenal Bella kayak gimana? Kamu yakin dia sama-sama enggak bener kayak Edo? Terus kamu bisa perlakuin Bella kayak gini?" tegasnya sekali lagi.

Jujur saja, seorang Rian akhirnya rela buang-buang napas sebanyak itu hanya untuk membelaku, aku janji akan membelikannya lebih banyak cola.

"Iya, Mas ... Maaf, Vian salah," jawab bocah itu tak kusangka melunak detik berikutnya.

Sepertinya aku dan Vivi kompak sama-sama menganga, tak percaya akan semudah itu Vian minta maaf setelahnya. Ternyata satu-satunya orang yang bisa memawangi Vian cuma kakak yang tidak mau mengakuinya! Bagaimana aku tidak percaya kalau mereka memang bersaudara?

"Minta maafnya sama Bella ...!" perintah Rian tanpa dibantah sedikit pun ... dan aku benar-benar merasa menang saat Vian menundukkan kepala di depanku.

"Maaf udah bersikap enggak sopan, Kak Bell ... harusnya aku juga enggak ngomong macem-macem soal kompetisi itu cuma karena beberapa hal enggak bener di dalamnya," kata Vian merendahkan suaranya. Tak kusangka tampang macan sangarnya bisa menjinak dalam sekejap.

"Iya, maaf juga kalau ada kata-kataku yang salah. Yang kumaksud sebenernya cuma pawangin etika kamu, tahu. Bahkan meski kamu bukan kandidat siswa teladan ... enggak seharusnya anak sekolah ngomong hal-hal seliar itu. Selalu ada cara terhormat buat memprotes sesuatu," balasku, tanpa sengaja bicara soal 'cara terhormat' yang sejatinya ... aku sendiri sedikit tahu.

"Siap, Kak Bell ... mentoring nanti sore aku bakal hadir," jawab Vian, diam-diam menerbitkan senyumku. Kena kamu sekarang!

Aku dan Vivi pun memisahkan diri dari mereka setelahnya, membiarkan dua gamers itu lanjut mengobrol tentang turnamen game atau entah apa saja yang di luar jangkauanku. Sesekali masih kudengar decak tak percaya Vivi, terlalu heran Rian bisa demikian dihormati.

Expert MateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang