Mungkin ini menjadi liburan paling bersejarah dalam hidupku, ketika aku berhasil mencicil belajar materi kesukaan dua bab lebih awal. Hanya satu mapel, sisanya sudah coba kupelajari, tapi tak ada yang mengalami kemajuan sebagus biologi.
Yah, setidaknya aku bisa mengawali semester dua dengan sedikit kepercayaan diri, meski harus menahan sedih karena absen dari penghargaan juara kelas. Tidak ada nama Isabella Maharani saat tiga besar dari XI MIPA 2 diumumkan.
Tidak banyak yang berubah dari tiga besar ... dan hanya aku yang tak bisa bertahan. Vivi masih di nomor satu, bahkan peringkat satu paralel MIPA. Faris menggantikanku di nomor dua, sementara Rian masih betah di urutan ketiga. Kevin yang terhitung baru juga bisa bertengger di peringkat lima, dengan wajarnya mengalahkanku.
"Enggak pernah ada nama Rosalita Ningrum tiap kali tiga besar XI MIPA 2 diumumkan, tapi waktu tetap berputar, dunia belum kiamat, dan segalanya tetep harus diperjuangkan," kata Ros tiba-tiba menyikutku, yang sejujurnya tak begitu kumengerti, tapi mungkin ... dia sengaja menghiburku?
"Tenang aja, Beb! Kamu tetep nomor satu di hati Yud-yud, enggak bakal tergeser!" celetuk Yudi yang tak pernah kehabisan cadangan gombalan. Demi sedikit menghargainya seperti yang pernah diminta Ros, aku hanya balas tersenyum meski teramat memaksa, lanjut menyimak pengumuman para juara.
Ternyata bukan hanya aku yang tidak bisa bertahan. Baim juga tidak lagi menempati peringkat satu paralel IPS, bertukar posisi di nomor dua dengan sahabat karibnya, Alfredo Teguh Lesmana alias Edo, tapi yang paling mengejutkan adalah pengumuman peringkat satu paralel kelas sepuluh MIPA.
Satu nama itu selalu mengundang kegaduhan tiap kali menjadi bagian dari pengumuman penting. Seolah berbakat mengejutkan siapa pun, Alvian Maulana alias Vian selalu melampaui penilaianku, melampaui penilaian semua orang. Kali ini di peringkat satu paralel, semoga tidak ada desas-desus miring yang akan menyasar Vian setelah ini.
Acara 'Menonton Orang Lain Dapat Penghargaan' pun usai, menjadi rangkaian akhir upacara dan barisan dibubarkan setelahnya. Kembali ke kelas, mau tidak mau aku harus mengucapkan selamat pada Vivi selaku sohibku yang selalu juara satu, juga pada Rian si juara tiga dan teman sebangkuku yang baru. Yah, posisi duduk termasuk hal yang harus selalu diatur ulang tiap awal semester.
Kali ini dipilih secara acak, entah kebetulan macam apa yang membuatku sebangku dengan iblis game online ini, sementara Yudi yang mendapat keberuntungan sebangku dengan Kevin cukup membuatku iri.
Andai kesempatan itu bisa ditukar ... karena aku semakin butuh Kevin untuk selalu di sekitarku menuju detik-detik ulang tahun, menuju tenggat terakhir ditemukannya roh kecerdasanku yang belum menunjukkan tanda-tanda. Jangan salahkan aku bila selalu terlihat gusar belakangan ini.
Kegusaran itu semakin memuncak saat aku terbangun pada sebelas Januari tanpa firasat apa-apa. Untuk pertama kalinya hari ulang tahunku terasa begitu menegagkan, hingga aku benar-benar tak berselera meladeni ucapan HBD plus gombalan Yudi yang begitu nyampah sejak tengah malam.
Telepon dari Sal pun sebenarnya tak ingin kuangkat jika tidak kena pencet lebih dulu. Segera menyerbuku dengan doa-doa dan harapan baik, sejujurnya aku lebih ingin Sal berdoa demi kembalinya roh kecerdasanku, sih ....
"Papa yang belum balik pasti sengaja nunggu hari ini buat ngerayain ultah kamu, Bebi! Have a nice time ya, kalian berdua!" kata Sal, benar-benar perlu diberi tahu kalau papa bahkan tidak di rumah sejak penerimaan rapor hari itu.
Lengking keterkejutan Sal segera memenuhi telinga begitu bahasanku sampai tentang Tante Sintia yang mungkin sudah diperistri papa, tapi Sal yang tidak tahu apa-apa justru lebih mengejutkan.
"Kupikir anak kesayangan lebih tahu segalanya?" sindirku.
"Faktanya papa kasih tahu kamu duluan. Lihat? Kamu yang lebih disayang!" jawab Sal, ternyata memang tidak tahu menahu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Teen FictionHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
