EPISODE 20 - Terwujudnya Separuh Harapan

1K 354 192
                                        


Sampai detik ini keherananku belum sedikit pun mereda. Kupikir fail pengumuman finalis siswa-siswi teladan yang diteruskan Edo sore itu hanyalah prank. Terlalu sulit dipercaya sebab dewan juri menjanjikan akan mengumumkan esok harinya.

"Jangan remehin aku soal begituan, Bell. Kalau urusan orang dalem, Edo selalu punya koneksi!" katanya sesumbar di depanku, tepat setelah pengumuman resmi benar-benar dirilis.

Persis, benar-benar tak ada yang berubah dari isi pengumuman itu, padahal aku berharap dewan juri khilaf menuliskan nama Vian lalu akan merevisi dengan nama Sekar.

Ya ampun, apa yang harus kukatakan pada gadis manis itu? Setelah semua optimisme yang kutanamkan padanya, setelah dia lebih banyak berusaha, kenapa Sekar tidak seberuntung Vian? Bahkan Vivi yang kupikir punya banyak kelebihan ternyata jug tidak muncul sebagai finalis. Sebaliknya, apa yang sudah dilakukan Vian sampai bisa merebut hati dewan juri?

"Maaf, Kak Bell ... aku enggak bisa kasih tahu! Dewan juri juga nyuruh aku buat rahasiain itu dari mentor," jawab Vian saat kutanya. Entah kenapa aku selalu punya firasat buruk dengan senyum miringnya.

"Biar jadi kejutan," imbuhnya.

"Jangan mengada-ada, Yan! Mana mungkin juri punya ide kayak gitu! Aku bener-bener bingung gimana harus menggiring dukungan buat kamu. Apa yang musti kupromosikan kalau kamu main rahasia-rahasiaan begini?"

"Enggak usah dipromosiin juga enggak apa-apa ... enggak butuh, kok!" jawab Vian remeh.

Sungguh, harusnya dia ikut nominasi 'Siswa Paling Menjengkelkan' saja. Namun, kurasa tidak sepenuhnya kata-kata Vian salah. Dia yang tak pernah memperhatikan arahanku saat mentoring kenyataannya bisa melangkah sejauh ini. Mungkin untuk tahap selanjutnya ... Vian memang tak membutuhkanku lagi.

"Ngapain pasang tampang butek gitu? Bukannya malah enak? Kak Bell enggak perlu ribet!" kata Vian tiba-tiba.

Sekilas memang terdengar menguntungkan, tapi bila orang-orang bertanya bagaimana caraku menjinakkannya, aku harus menjawab bagaimana? Kenyataannya tak banyak yang kuperbuat untuk Vian, termasuk motivasinya memenangkan kompetisi ini, termasuk apa pun yang dia lakukan di ruang seleksi, semua itu berasal dari Vian sendiri ... dan campur tanganku memang sedikit sekali.

Jadi, kesimpulannya ... mentoring kemarin tidak bermakna ya? Hatiku semakin menciut saja. Bagaimana kalau tujuan asliku dalam mentoring itu malah tidak tercapai? Berbagi aset pengetahuan untuk menggandakannya, kurasa tak ada yang mengganda ketika itu menjadi niat utama. Sepertinya aku memang lebih menadah hasil daripada menuai usaha.

"Apa pun yang udah kamu lakukan, makasih banget, Yan! Tim ini jadi punya kebanggan karena ada satu anggotanya yang lolos!" ujarku setidaknya harus mengakui hal itu, sekaligus mensyukurinya.

Mungkin ini bisa jadi kesempatan kedua bagiku, agar aku lebih ikhlas berbuat hal yang seharusnya. Tak peduli meski ada seribu rahasia atau Vian bilang tak butuh bantuanku, tanggung jawab sebagai mentor itu tetap ada ... dan mentor yang tak dibutuhkan ini akan terus campur tangan demi kemenangannya!

"Makasih, hm? Terus aku harus bilang apa? Sama-sama?" tanya Vian sejenak terdengar menggelikan, seolah dia baru pertama kali mendapat ucapan terima kasih.

"Oke, sama-sama, Kak Bell! Eh, bukan, harusnya ... Sama-sama Kak, traktirannya mana?" imbuhnya kembali ke mode menjengkelkan, tapi yah, mungkin tak ada salahnya merayakan kemenangan kecil ini.

Mengiyakan idenya, kami bergegas ke kantin tanpa melupakan Sekar. Kupikir cewek itu butuh hiburan setelah namanya tak tertera sebagai finalis, tapi ternyata tak ada yang kukhawatirkan karena Sekar sama sekali tidak kelihatan sedih. Dia bahkan turut mengucapkan selamat dan bilang akan terus mendukung Vian. Huhu, aku suka kekompakan macam ini!

Expert MateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang