Bel pulang siang ini terdengar membahagiakan bagi beberapa orang. Bel yang sekaligus menjadi pertanda berakhirnya UAS harusnya juga membuatku merasa hal yang sama, tapi untuk pertama kalinya, ujianku terasa belum selesai, mungkin baru saja dimulai.
Harus remedi untuk hampir separuh dari mapel yang diujikan benar-benar bukan sesuatu yang bisa dibanggakan, apalagi hanya untuk diketahui teman-teman. Keberadaanku di ruang remedi pasti bakal jadi bahan omongan sepanjang koridor.
Belum lagi reaksi papa setelah nanti tahu hasil scan raporku. Meski tidak bisa pulang, cepat atau lambat amukan dinginnya pasti akan segera sampai. Bisa jadi papa tiba-tiba rela pulang hanya untuk menghukumku. Demi separuh kewarasan, mungkin sebaiknya aku tidak menerima telepon orang itu dulu.
"Langsung balik aja, Beb? Biasanya kita ngumpul-ngumpul dulu tiap abis ujian gini," kata Yudi yang selanjutnya disempurnakan Rian.
"Biasanya selalu traktiran tiap abis ujian gini," timpalnya, benar-benar tak bisa membaca muka kusutku.
Beralasan tidak enak badan, tak banyak lagi yang kujelaskan sebelum angkat kaki, sementara Vivi dan Ros yang sama-sama tak menyuarakan apa pun hanya saling pandang. Entahlah, yang perlu kulakukan sekarang hanya pulang, cepat-cepat menemui bantal dan memendam segala kegelisahan di sana.
Namun, baru turun dari tangga, segera kusadari kalau ponselku tidak ada di saku, juga setelah kuperiksa di dalam tas. Terdiam lama setelah mengerjakan soal tadi, sepertinya aku belum memasukkannya lagi.
Mau tidak mau haru kembali mengambilnya, aku malah terhenti di ambang pintu dan tak sengaja mendengar semuanya.
"Fix, no debat! Bella semakin berjarak dari kita sejak ada Kevin! Cowok sok kegantengan itu ngerebut Bella dari kita!" kata Ros, sama sekali belum berhenti menyalahkan Kevin.
"Jangan nyangka yang enggak-enggak, dong! Bella bukan tipe orang yang ninggalin temen demi gebetan. Dulu masih pacaran sama ketua OSIS dia enggak kayak gitu, 'kan?"
"Makanya, Vi! Satu-satunya hal enggak beres emang ada di Kevin! Aku makin curiga kalau cowok itu enggak sebaik kelihatannya! Jangan-jangan ... Bella udah kena guna-guna?"
"Bebeb Bell terlalu suci buat kena guna-guna, tahu! Apalagi kalo selalu ada aku di dekatnya. Guna-guna mana pun enggak bakal mempan!" kata Yudi pongah, hingga detik berikutnya ia tiba-tiba merogoh laci mejaku, menyadari getar ponselku yang tertinggal.
"Hape Bebeb Bell ketinggalan dan ... calon papa mertua Yud-yud nelepon!"
Buru-buru kusambar, ponsel itu berhasil kuamankan tepat sebelum jempol Yudi sengaja menjawab telepon dari papa.
"Kamu mau ngirim aku ke neraka, ha?" semburku sebal, sementara getar ponselku belum mereda, sama seperti tatapan masam Ros sejak ia menyangka diriku yang tidak-tidak. Karena itulah, kupikir tak ada salahnya meninggalkan lebih banyak penjelasan ....
"Maaf, temen-temen ... Jarak yang kubuat ini bukan salah siapa-siapa. Aku juga berharap enggak ada yang berubah dari pertemanan kita," ujarku, tanpa sadar kian lirih hingga berubah menjadi bisik. "Untuk sementara ini, kasih aku ruang buat sendirian dulu ya ...."
Kasih aku ruang buat menerima diri sendiri dan berdamai dengannya. Kalian mungkin juga butuh waktu buat menerima diriku yang sebenarnya, sosok asliku yang ... bisakah kalian menerimanya?
"Iya, Beb!" tegas Yudi, lumayan mengejutkan karena menjadi yang pertama menjawabnya. "Yud-yud ngerti Bebeb Bell bukannya sengaja menjauh. Beberapa hal kadang emang cuma bisa diberesin sama diri sendiri, 'kan?"
"Enggak, salah banget! Kamu enggak bisa nyimpen semuanya sendiri, Bell! Sekecil apa pun, enggak usah sungkan-sungkan cerita kalau emang kita masih sedekat dulu! " bantah Ros, segera ditegur Vivi agar berhenti memaksaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Ficção AdolescenteHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
