EPISODE 14 - Tempat Seharusnya

1.3K 363 176
                                        

Halo, Readers Mate!

Karena She lagi kemasukan Guna-guna, basa-basinya disimpen aja

Cuss langsung ke cerita, happy reading!

....

Sampai detik ini aku tak percaya akan jadi pembimbing adik kelas. Briefing sekaligus pembagian tim metoring berlangsung di aula beberapa menit lagi dan aku bergegas ke sana.

Tegur sopan sepanjang koridor kubalas senyum ramah. Yang merayu genit atau sekadar menggoda kuanggap tak ada. Biar saja, aku tidak wajib meladeninya.

Satu tahun sejak memenangkan penghargaan siswi teladan (tingkat sekolah), atensi semacam ini masih saja mengelilingiku. Mungkin akan terus begitu meski nanti dinobatkan siswi teladan yang baru. Yah, tenar karena prestasi memang beda daripada viral cari sensasi.

Sayang sekali ... prestasi ini bukan dari kekuatanku sendiri. Itulah yang tak membiarkanku berlama-lama menegakkan kepala, seolah trik dan kebohongan besar di balik mataku tiba-tiba terbongkar dan jadi tontonan sekian mata.

Terbongkar di hadapan Kevin seorang saja duniaku seolah kiamat detik itu juga!

"Hayo, Isabell!"

Sapaan itu lebih terdengar seperti bentakan di telingaku. Tak peduli betapa pun si pemilik suara memamerkan raut ramah, jantungku tetap terteror dengan suaranya.

"Duit kamu jatuh di mana, Bell? Belum ketemu ya? Dari ujung sana jalan sambil nunduk terus, sesekali tengokin aku gitu, kek!" celoteh cowok ini, masih saja percaya diri kelewat batas seperti yang terakhir kutahu.

"Oh, nengokin kamu bisa dapat duit?" tanyaku dan dia hanya berdecak sebal.

"Kelakuan cewek di mana-mana sama aja ya! Emangnya cowok ini mesin ATM?"

"Edo ... kamu sendiri yang pertama bahas soal duit, jangan nyalahin cewek!" bantahku tak terima.

Jika Edo tidak pintar membalikkan kata-kata, cowok ini tak akan memenangkan debat kandidat siswa teladan tahun lalu dan memenangkannya bersamaku.

Entah bagian mana yang harus kusyukuri, memenangkan penghargaan itu dengan kandidat dari kelas IPS yang urakan di belakang panggung ... pernah membuatku sakit kepala.

Bukan hanya suara yang tidak bisa dikondisikan, Edo mengaku suka cari gara-gara, memancing emosi orang lain untuk dijadikan senjata alaminya.

Pernah suatu ketika kami menjadi wakil sekolah dalam event sejenis, Duta Remaja tingkat regional, dan dia hampir saja memulai pertengkaran dengan delegasi tim lain.

Ajaibnya, justru tim lawan yang malah dikecam. Sungguh, aku benar-benar tidak paham, keberuntungan apa yang memberkahinya hingga sejauh ini?

"Bella? Bell! Kamu lagi sakit gigi atau gimana, sih? Nanti junior kita mau dengerin apa kalau kamu makin pendiem kayak gini?" celoteh Edo. Oh, tentu saja ... dia bakal jadi mentor juga. Semoga dia tidak meracuni anak orang sembarangan.

"Yang jelas aku enggak punya kelebihan energi buat dihambur-hamburkan jadi polusi suara," jawabku tak berselera.

"Oh ya, ehem ... Kakak kamu udah balik ke luar negeri ya? Tadi aku lihat di story-nya, dia ada di bandara," kata Edo tiba-tiba, semakin membuatku tak berselera.

Demi apa dia masih menguntit aktivitas maya si Sal? Kupikir Edo hanya bercanda saat dia bilang naksir kakak angkatku itu.

"Selera kamu tante-tante banget, sih! Emangnya cewek seumuran di sekolah ini enggak ada yang mapan?" tanyaku.

Expert MateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang