Semester lalu munculnya nilai-nilai biru menyegarkan pandanganku, tapi sekarang aku harus pandai-pandai menghibur diri. Meski merah mencolok mata, nominal nilai yang kudapat belakangan ini tanpa sumbang sontekan orang lain, tak ada pengkhianatan.
Bukannya bangga dengan nilai memalukan, tapi faktanya, isi kepalaku yang seadanya belum bisa dipaksa-paksa. Setiap satu jam setelah ujian dimulai, asap imajiner seolah mengepul dari kepalaku yang tergeletak di meja, sementara separuh soal yang belum terjawab entah bagaimana nasibnya.
Tak apa, aku hanya perlu menyandar sebentar, setelah itu ... setelah itu bel istirahat terdengar. Untuk pertama kalinya aku ingin mengumpat, tapi demi citra anak teladan, oh ... bukan, siapa yang teladan?
"Udah kuisikan semua, Beb," kata Yudi dengan ponselku di tangannya. Oh, tidak ... dia benar-benar menuntaskan jatah soalku.
Firasat burukku berubah menjadi keterkejutan setelah Yudi menunjukkan perolehan nilai biruku yang pertama sejak dua hari ini, delapan ke atas seperti yang pernah ia janjikan. Ekspresi kacauku perlahan mereda ... dan aku bingung harus berterima kasih atau mengamuknya.
"Bebeb Bell sampe tepar kayak gitu, enggak tega mau kubangunin. Ya udah, Yud-yud bantu kerjain, kebetulan pengawas ujiannya enggak terlalu buas," imbuhnya, tak mengurangi kecurigaanku.
"Kamu kelihatan PD banget dari kemarin, dapet wangsit dari mana?" tanyaku, curiga kalau Yudi diam-diam tahu trik memanipulasi peramban khusus ujian, atau akses kunci jawaban langsung dari server, tapi mustahil tim IT sekolah membiarkan hal itu terjadi berhari-hari.
"Bebeb Bell cuma perlu tahu beres, dapet dari mana-mananya biar jadi urusan Yud-yud!"
"Aku cuma enggak mau terlibat sama cara kotor lebih jauh, tahu! Dan aku juga bukannya seneng kalau temenku terlibat masalah serius gara-gara itu!" tegasku, tapi Yudi malah memamerkan cengir keledainya.
"Makasih perhatiannya ya, Beb! Yud-yud enggak terlibat langsung, kok! Kebetulan aja dapat bocoran soal dari kelompok elite," bisik Yudi, memaksa kepala peningku berpikir sekali lagi. Kelompok elite mana?
"OSIS? Enggak mungkin, deh! Jangan-jangan ... Nir?" tebakku seratus persen benar. Ternyata beberapa dari mereka yang dekat dan loyal dengan guru-guru senior selalu mendapat bocoran soal tiap ujian semester, betapa emasnya!
Meski begitu, bila kuingat kembali situasi Nir dari cerita Rian waktu itu, tentang perseteruan Edo dan Vian ... sepertinya bocornya soal ujian ini bukan pertanda bagus.
"Jangan seneng-seneng, Yud! Mereka enggak seharusnya bagi-bagi jatah istimewa ini ke luar anggota Nir, kayaknya ada yang enggak beres!" ujarku.
"Duh, itu bukan urusan Yud-yud, Beb! Yud-yud kan cuma dikasih!" jawabnya teramat enteng. Entah kenapa tiba-tiba aku sempat mendoakan masa depannya, semoga Yudi tak akan pernah terciduk KPK.
***
Ponsel yang kumatikan sejak pulang sekolah baru kunyalakan lagi. Sesekali aku ingin seperti Vivi yang membatasi main ponsel saat pekan-pekan ujian begini. Terhitung sejak delapan jam lalu, bayangkan saja betapa sekian notifikasi memberondong begitu kunyalakan data selular.
Sejumlah panggilan tak terjawab juga muncul dari beberapa kontak. Ros, Sal, Kevin, Edo, Pa ... Papa? Sensasi merinding meniup tengkukku seketika. Lewati saja, dari sekian panggilan terlewat hanya kontak Kevin yang kurasa perlu kutelepon balik.
Sayangnya, ini situasi impas pertama yang tak kusuka. Beberapa kali kucoba, Kevin juga tidak menjawab teleponku. Tiba-tiba aku menyesal karena sok mematikan ponsel segala. Kutinggalkan pesan, semoga sebentar lagi dia segera merespons ... dan dering yang kuharap-harap terdengar detik berikutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Teen FictionHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
