Baliho Festival Budaya tidak hanya terpajang di persimpangan dekat alun-alun. Yang berukuran lebih kecil menghadang di sebelah gerbang sekolah. Yang berbentuk brosur dan pamflet sudah tertempel di mading. Bahkan seolah tidak cukup, versi digitalnya menjadi unggahan story siswa-siswi sekolah ini, tersebar di mana-mana.
Ya ampun, aku tidak boleh terlalu jujur untuk muak dengan itu semua. Cepat atau lambat, aku pasti juga akan berkampanye, menggiring dukungan untuk Sekar saat dia lolos ke lima besar nanti. Sementara Vian, bocah tengil yang bakatnya bikin naik tensi itu ... aku belum berhenti mendoakannya.
Bukan seperti Sekar yang diajukan jadi kandidat karena memang rajin, sopan, dan diam-diam berbakat menyinden, Vian cuma punya reputasi cemerlang di olahraga basket. Bagus, lalu aku akan menyuruhnya atraksi pakai bola basket di depan juri?
"Udahlah, yang mau diseleksi itu aku ... kenapa Kak Bella yang pusing, hm?" kata Vian selalu dengan hm yang terdengar meremehkan. Mata bosan tak bergairah itu juga semakin mendukung kesan ogah-ogahannya.
Sampai hari seleksi pertama ini aku sama sekali tidak menemukan bakat Vian yang lain, benar-benar kehabisan ide untuk menyulapnya menjadi anak manis, sementara anak manis yang kupunya malah selalu terlihat cemas.
"Sebenarnya ... sebenarnya aku enggak bisa nyinden, Kak ...," cicit Sekar, masih saja ditelan rasa kecil hati.
Aku ingat saat kami pertama bertemu waktu itu, Sekar memang membahas soal audisi sinden ekskul karawitan yang tak begitu kumengerti. Entah apa yang menjadi masalah, sepertinya itu masih menjadi kekhawatiran Sekar ... dan sudah menjadi tugasku sebagai mentor agar membesarkan hatinya!
"Kamu tahu, enggak? Tahun lalu aku juga enggak bisa-bisa banget main piano. Cuma hafal not lagu yang kumainin waktu perform," ujarku setengah berbohong, atau mungkin sepenuhnya berbohong. Berkat roh kecerdasan pianis kenalan Baim-lah aku bisa sok anggun menekan-nekan tuts alat musik itu.
"Semangat ya!" imbuhku ketika Sekar akhirnya dipanggil, mendapat giliran tes wawancara dan unjuk bakat tertutup. Kuharap suara eloknya saat menyinden nanti bisa terdengar dari sini ... dan aku semakin punya alasan kuat untuk mendukungnya.
"Kak Bell, seberapa besar kemungkinanku bisa lolos ke lima besar, hm?" tanya Vian tiba-tiba ... dan sudah sewajarnya kalau akau terkejut.
"Kamu kepikiran bisa lolos?"
"Aku cuma pengin tahu analisis siswi teladan tahun lalu. Menurut Kak Bella, berapa persen kemungkinanku lolos jadi finalis?"
Gawat, dia sengaja mengujiku ya? Bertanya mengenai 'berapa', dia pikir otakku bakal seotomatis Vivi yang paham teori peluang? Sebenarnya gampang, sih ... kalau ada dua puluh kandidat siswa teladan dan hanya lima yang bisa jadi finalis, maka peluang Vian sebesar ....
"Lima puluh persen!" jawabku percaya diri, yang anehnya malah dia tertawakan.
"Segede itu ya, Kak Bell?"
"Iyalah, orang-orang aja yang suka ngecilin peluang! Enggak peduli meski ada ribuan peserta atau bakal cuma terpilih satu orang, kemungkinannya cuma ada dua, 'kan? Lolos atau enggak, itu aja. Hitungannya satu per dua, lima puluh persen!" tegasku.
Vian sempat terdiam beberapa saat hingga akhirnya lagi-lagi tertawa.
"Salah, aku mau seratus persen. Lima puluh persen itu kalau cuma setengah niat. Kalau sepenuh niat bakal jadi seratus persen, 'kan?" tanyanya terlalu mengherankan. Dia akhirnya ... benar-benar serius?
Aku tak sempat menjawab karena berikutnya giliran Vian dipanggil, bersamaan dengan keluarnya Sekar dari ruang seleksi. Dia tadi jadi nyinden atau tidak ya? Wajah muram cewek itu mengurungkan niatku bertanya-tanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Ficção AdolescenteHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
