Keseruan setelahFestival Budaya seolah lenyap tak berbekas. Halaman sekolah yang dua malam lalu dipenuhi hiruk-pikuk kemeriahan sekarang kembali normal, bersih dan siap untuk berlangsungnya upacara. Sisa-sisa suka cita juga semakin lenyap setelah pembina upacara dalam pidatonya mengumumkan jadwal UAS.
UAS pertama yang kulalui tanpa bantuan Vivian atau Rianez ... bakal seperti apa jadinya? Mungkin akan seperti ulangan biologi yang berujung remedi seperti hari itu, tapi aku sama sekali tidak siap bila harus remedi untuk semua mapel.
Jadwal ujian yang masih tiga pekan ke depan itu juga mengajakku melompat ke satu pekan setelahnya. Penerimaan rapor ... dan pertemuan wali murid. Jelas-jelas papa bakal pulang seperti semester-semester sebelumnya, membawa oleh-oleh teror yang akan tertinggal beberapa hari bahkan setelah dia pergi lagi.
"Kamu pucet banget, Bell! Istirahat dulu, yuk! Daripada pingsan," kata Vivi yang berbaris di sebelah, hanya kubalas geleng saat dia mengajakku mundur ke UKS.
Terpapar panas di sini jauh lebih sehat daripada menyumbang bau keringat di UKS. Aku tak yakin bisa lebih membaik di sana, tapi ternyata Vivi hanya semakin mengkhawatirkanku.
"Serius, aku enggak apa-apa, Vi!" ujarku meyakinkannnya sekali lagi.
"Tapi baru pertama kali ini kamu bener-bener kelihatan kusut, Bell. Pokoknya kalau ada apa-apa kamu harus cerita ya!" Seolah dia adalah mama, sama sekali tak ada yang bisa kusembunyikan darinya.
"Makasih udah khawatirin aku, Vi! Kenyataannya emang enggak ada apa-apa ...."
"Beneran? Kupikir kamu dinyinyirin orang-orang karena Alvian kalah secara tak terhormat malam itu. Parah banget ... banyak yang nuduh dia macem-macem!" kata Vivi segera kumenegerti detik berikutnya.
Ketika barisan upacara dibubarkan, sebaris kelompok di sudut lapangan masih tetap tinggal. Cukup kutahu kalau mereka adalah anak-anak bermasalah, langganan penertiban hari Senin.
Dengan penampilan bermacam-macam mulai dari yang tidak pakai topi, jas almamater, hingga seragam dengan coret-coretan mencolok. Beberapa yang tampak normal mungkin ada di sana karena datang terlambat, salah satunya Vian ....
"Lihat, tuh ... Untung aja dia enggak menang! Kelakuan sama sekali enggak teladan!"
"Model kayak gitu bisa-bisanya jadi finalis, padahal masih pantes kandidat dari kelasku ... Nyogok apa gimana, sih?"
"Enggak tahu, deh! Kasihan banget kandidat tahun depan yang dapet mentor dia!"
Komentar-komentar itu tak luput dari pendengaranku, juga tatapan yang merendahkan Vian. Jangankan mereka yang bukan siapa-siapa, aku sendiri sebagai mentor Vian bahkan tak banyak tahu soal penjurian seleksi pertama. Karena itulah, kupikir tak perlu banyak bicara ketika tak tahu apa-apa.
"Tuh, Bell ... Nyinyiran yang kayak gitu! Awas aja kalau kamu sampai kebawa-bawa!" gerutu Vivi yang sama sekali tak kumengerti. Memangnya aku ini teman macam apa hingga harus dibela sedemikian rupa?
"Udahlah, nanti mereka juga diem sendiri kalo udah capek! Thanks ya, Vi!" ujarku segera mengalihkan perhatiannya, menjanjikan obrolan seru.
"Soal kembaran Kevin, Vi ...," bisikku lirih, berharap semoga dia belum banyak tahu.
"Oh, si Erwin!" sahut Vivi seketika.
Sudahlah, mengalahkan Vivi dalam hal 'Serba Tahu' sepertinya tak akan pernah kumenangkan. Tidak ada yang bisa kubanggakan ketika Vivi menjadi yang paling tahu soal Kevin.
"Kamu juga tahu soal Erwin, Bell? Kevin sendiri yang cerita? Wah, dia mulai membuka diri, tuh! Kayaknya bentar lagi kamu diajak belajar bareng ke rumahnya," celoteh Vivi tak sedikit pun membuatku tersanjung.
Ketika Kevin lebih dulu membuka diri padanya, bukankah selama ini aku hanya orang asing?
"Meski kami temen sebangku, tapi Kevin emang jarang cerita soal keluarganya. Aku tahu soal Erwin pertama kali dari ketua OSIS malah!" sambungnya membuatku terperanjat seketika.
"Ketua OSIS? Baim?" tanyaku tak percaya. Jadi ... Baim juga tahu? Pantas saja dia tidak sungkan-sungkan saat pertama ketemu Kevin dulu.
"Iya, Baim mantan kamu, Bell! Dia temen sekelas Erwin waktu masih SD. Mereka tetep jaga pertemanan meski beda SMP, sampai akhirnya Erwin meninggal tiga tahun lalu gara-gara kecelakaan rombongan marching band-nya," jelas Vivi, masih mengejutkanku soal satu fakta itu.
"Kupikir ... Erwin enggak tinggal di kota ini tiga tahun lalu. Kevin baru pindah ke sini sebulan lalu, 'kan?" tanyaku, segera dijawab kalau Erwin dan orang tua mereka memang tinggal di sini, sementara Kevin sejak kecil tinggal dengan kerabatnya di luar kota, hanya bertemu saat libur sekolah saja.
"Pernah denger suatu mitos kalau anak kembar sebaiknya hidup dipisah? Kalau enggak, salah satu dari mereka bakal kurang beruntung, mulai dari sakit-sakitan sampai meninggal. Sayang banget ya! Kenyataannya meski udah dipisah... yang namanya ajal emang enggak bisa ditawar-tawar!" imbuh Vivi, semakin membuatku mengerti.
"Dan mitos ternyata emang cuma mitos ... Harusnya mereka tetep bisa hidup sama-sama tanpa harus ada yang diasingkan. Harusnya Kevin juga bisa sedeket Erwin sama orang tuanya ...," jawabku lirih.
"Harusnya kalian enggak ngomongin orang mati ...," sahut makhluk transparan yang tiba-tiba nimbrung ini. Jantungku berasa mencelus hanya karena wajah Guna yang serupa Kevin atau Erwin muncul di sebelahku tanpa permisi.
"Ka ... Kamuuu! Bisa agak sopan, enggak?!" semburku kesal, detik berikutnya menyadari Vivi yang menatapku horor.
"Bell ... Yang kamu marahi barusan ... bukan Erwin, 'kan?" tanyanya sambil menggosok tengkuk ... dan semoga cengiran bisuku tidak kian memperburuk perasaannya.
***
Tugas diskusi Miss Zahira mempertemukan kami berenam dalam satu kelompok. Oh, sudah lama sekali sejak kami sibuk dengan urusan Festival Budaya.
Mulanya hanya ada lima orang, Aku, Vivi, Kevin, Ros, dan Rian ... kemudian Yudi dengan tampang keledai memelasnya sampai memohon-mohon agar diizinkan bergabung dengan kami.
"Gabung sama grup genjrang-genjreng kamu aja sana! Sok sibuk banget, belakangan ini jarang ngumpul. Kirain udah lupa sama kita-kita!" sindir Vivi kesal, pasti karena Yudi menolak undangan makan-makannya waktu itu.
"Oke, maaf ya, Vi ... Bebeb Bell dan yang lain juga, tapi kalian harus ngerti betapa aku lagi berjuang!" kata Yudi sok serius banget, malah terdengar menggelikan. Berjuang katanya?
"Kalau aku enggak ngejar passion dari sekarang, gimana aku bisa setara sama cowok-cowok keren di sekitar Bebeb Bell? Ketua OSIS, siswa teladan, sementara aku cuma S3 Perbucinan? Enggak, Bebeb Bell ... Tenang aja, aku lagi berproses jadi superstar yang nanti bakal kamu kejar-kejar!"
Perutku tiba-tiba mules hanya karena mendengarnya, semakin sebal setelah yang lain bertepuk tangan mendukung Yudi. Lagi-lagi aku harus menengok ke dalam, mencari sesuatu yang ia kagumi dari orang sepertiku, dan lagi-lagi harus merasa asing ... tapi jika Yudi bisa sok keren bilang 'Lagi berjuang', sepertinya aku juga harus.
Mungkin tak hanya di tempat Kevin, di sini pun, di mana pun, semuanya bisa disebut kesempatan. Sampai hari ketika aku tak lagi menjadi orang asing bagi diri sendiri, sampai akhirnya kutemukan Bellain ... Eh? Bellain?
Ternyata seleraku menamai roh-roh kecerdasan memang buruk ya ....
.Bersambung.
[This is She]
Hai, Readers Mate! I know, episode kali ini cukup pendek, tapi tenang aja, karena besok masih up lagi, mungkin lebih ekstra dari biasanya.
Terima kasih sudah mampir, semoga yang pendek ini tetap berkesan. Sampai jumpa besok~
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Fiksi RemajaHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
