EPISODE 13 - Pesaing Alami

1.4K 382 197
                                        

Hai, Readers Mate!

Coba kita asah otak dulu sebelum baca Expert Mate. Ini teka-teki yang udah di-posting di Instagram kita nih. Tapi belom ada yang tahu jawabannya, kasih jawaban lewat komentar bagi yang tahu ya.

Teka-tekinya...

Negara, negara apa yang kecil/mini?

Udah itu aja :D 

She bilang jangan suka basa-basi ntar bisa diguna-guna wkwk~

Enjoy and happy reading!

....

Terkadang jejeran angka di kalendar terlalu menyeramkan untuk kutengok. Semakin dekat menuju ultahku, semakin kusadari betapa sedikitnya langkah yang kubuat. Kevin yang kuharap akan lebih banyak membantuku, mulai sekarang mungkin akan lebih banyak membantu dirinya sendiri.

Sejak terpilih menjadi kandidat siswa teladan kelas, bisa kutebak Kevin akan banyak menghabiskan waktu dengan Vivi. Yah, dilihat dari sudut pandang mana pun ... keduanya memang pasangan yang cocok untuk kompetisi itu.

Kevin yang serba bisa diandalkan, baik pikiran dan keterampilannya, juga Vivi si pembelajar cepat. Cewek itu pasti bisa menguasai hal-hal yang tidak dimengerti dalam waktu singkat.

Cocok banget ya! Jika dibandingkan denganku ... ternyata memang tidak ada apa-apanya! Ah, sekarang malah diriku sendiri yang membanding-bandingkan, tapi mungkin ini memang persaingan yang lebih adil daripada persainganku dengan Sal.

Ketika aku dan Vivi ada di tingkatan yang sama, ketika aku dan Vivi memulai dari garis start yang sama. Seketika aku tahu harus menang dari siapa. Sejak kelas sepuluh dulu memang Vivilah pesaing alamiku.

Yah, mungkin dengan kepala kosong tanpa bantuan roh kecerdasan orang lain, aku tidak akan layak menjadi saingannya. Karena itulah, demi memenangkan pertarungan yang sebenarnya, demi Kevin dan Guna-guna ... aku memang harus serius menemukan roh kecerdasanku!

Masalahnya ... roh kecerdasanku itu spesialis apa?

Tebak-tebakanku dengan udara terinterupsi getar ponsel. Panggilan masuk, dari pesaing alami. Wah, ternyata sejak tadi sore dia sudah nyepam permintaan maaf padaku.

"Bella, kamu enggak apa-apa? Maaf banget soal pemilihan tadi ya! Aku sendiri bukannya senang-senang amat jadi pasangan Kevin, kok!" kata Vivi setelah teleponnya kuangkat. Sudah kuduga dia akan membahas soal itu!

"Santai aja, ah! Kenapa kamu malah merasa bersalah?" tanyaku harus menahan tawa.

Mana ada cewek yang tidak suka jadi pasangan Kevin? Jika kata-kata Vivi benar-benar bisa dipercaya, berarti dia memang cewek paling kuat iman sepanjang yang kutahu!

"Sejujurnya aku emang enggak minat jadi kandidat, apalagi setelah dipasangkan sama orang yang ditaksir sahabat ...."

"Yah, Vi ... profesional, dong! Kompetisi ya kompetisi! Kamu enggak perlu merasa kayak gitu!" jawabku, lagi-lagi paling andal urusan sok profesional.

Kompetisi tetaplah kompetisi, termasuk aku dan kamu, Vi ... tidak boleh ada yang mengalah hanya karena kita sahabat atau apalah. Mulai sekarang aku tidak akan setengah-setengah.

Tepat setelah Vivi mengakhiri telepon,  kuambil buku tebal berjudul Biologi, bidang yang sejak dulu ingin kutekuni. Tidak ada bau-bau angka, mapel ini sedikit bersahabat untukku yang tak mengenal logaritma, diferensial, integral, dan kanca-kancanya.

Ya, anggap saja sedang baca dongeng, dongeng dengan tokoh-tokoh sel, berlatar di dalam tubuh dan organ-organ manusia, betul-betul kubaca ulang dari bab awal semester! Kuharap memang inilah asupan pengetahuan favorit roh kecerdasanku.

Expert MateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang