EPISODE 21 - Festival Budaya

1.1K 352 159
                                        


Aku sudah sangat menanti-nanti dipanggilnya Vian untuk unjuk bakat terbuka. Tak pernah memberi-tahuku apa pun yang dia tampilkan saat unjuk bakat tertutup, katanya itu akan menjadi rahasia sampai diungkap menjadi kejutan malam ini. Kerja bagus, dia benar-benar membuatku terkejut.

"Itu tadi penampilan unjuk bakat dari finalis terakhir. Kami sangat menyayangkan terdiskualifikasinya kandidat dari X MIPA 1 atas pelanggaran serius pada tata tertib debat," kata MC sok manis itu.

Tidak, aku tak bisa menyalahkannya. Kuakui Vian memang agak lepas kontrol, tapi tidak seharusnya dia disingkirkan seperti ini, bahkan sebelum kami melihat apa yang bisa dia tunjukkan.

Kuharap masih ada yang bisa kulakukan. Memprotes atau membujuk juri agar ada satu kesempatan lagi untuk Vian, tapi seseorang lebih dulu membaca gerakanku, menghadang sebelum aku menemui juri.

"Interupsi di saat-saat seperti ini jelas enggak sopan. Kupikir kamu udah tahu itu, adik ipar!" kata Edo. Ada pin satgas keamanan tersemat di kemejanya.

"Aku juga mau protes secara sopan. Kupikir enggak apa-apa, Do!" bantahku, akan mengomelinya belakangan atas panggilan menggelikan itu.

"Protes soal apa? Alvian melanggar aturan debat, dia nyaris mencemarkan nama baik sekolah di acara sebesar ini! Kalau kamu enggak mau dia dieliminasi, harusnya kamu mentori dia yang bener! Kasih tahu mana yang boleh dan yang enggak!" tegas Edo dan pundakku mengendur seketika.

"Jadi ... semua ini gara-gara salahku yang enggak bener?"

"Sorry, mungkin kamu udah kasih tahu Alvian ya? Tapi emang dasar dia suka cari masalah . Ya, semua orang juga tahu itu, tenang aja ... enggak bakal ada yang nyalahin kamu, kok!" jawab Edo yang segera kutepis tepukannya di pundakku. Jelas-jelas ada yang menyalahkanku barusan.

"Tapi tetep aja enggak adil! Kenapa Vian harus disingkirin sebelum dia tunjukin sesuatu yang dia bisa? Sesuatu yang bikin dia berhasil maju sejauh ini ... harusnya biarin orang-orang tahu kalau dia bukan cuma bisa rusuh!" bantahku sekali lagi, belum berhenti serius, tapi Edo malah tertawa setelahnya.

"Ya ampun, kamu bener-bener sepercaya itu sama Alvian, hm? Sesuatu yang dia bisa? Yang bikin dia lolos jadi finalis?"

Ekspresi Edo yang berubah datar tiba-tiba membuatku merinding.

"Sesuatu yang enggak seharusnya kamu tahu, Isabella ... Itu menyangkut nama baik sekolah ini dan orang-orang yang kulindungi. Kami selalu nyoba buat berdamai, tapi bahkan setelah dikasih kesempatan seistimewa ini ... Alvian tetep enggak bisa dijinakkan," jawab Edo.

Butuh beberapa saat sampai aku sedikit paham kata-katanya, sedikit sekali.

"Yah, aku enggak ngerti ada masalah apa atau siapa yang paling buruk," jawabku sekadar mengangkat bahu.

"Tapi ketika sekolah rela memfasilitasi satu kursi finalis buat suatu persekongkolan ... entahlah, aku seneng Vian enggak bisa dijinakkan. Ternyata emang enggak semua orang mau diperbudak ketenaran," imbuhku buru-buru pergi setelah tak sengaja melihat rahang Edo mengeras.

Tersinggung? Padahal aku sedang membicarakan diri sendiri ... diriku yang berusaha keras memperoleh ketenaran hanya untuk menyadari satu hal, ternyata bukan itu yang kubutuhkan. Ternyata ada hal yang lebih penting untuk dicari ... roh kecerdasanku sendiri.

"Halo, Kak Bell ... aku udah pulang, enggak usah dicariin!" kata Vian segera menjawab teleponku. Heh, pantas saja dia tak terlihat di mana-mana!

"Dasar bocah! Seenggaknya pamit dululah!" omelku.

"Ngapain? Emangnya kakak siapa? Setelah aku terdiskualifikasi, urusanku sama Kak Bella selesai ...."

"Alvian!"

Expert MateCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang