Selamat sore,
Meski aku tahu ini cuma berita update Expert Mate,
Dan gak bisa se-booming berita GD-Jennie lagi nge-date,
Tapi aku harap kalian tetep mau baca sebagai Readers Mate~
Dah-ah!
~Happy Reading~
Menyebalkan memang, hanya XI MIPA 2 yang punya aturan duduk sesuai urutan absen. Lebih tepatnya, kebijakan itu hanya dicetuskan ketua kelas periode ini, Viandini Widyas alias Vivi. Akibatnya Isabella Maharani harus duduk dengan Iswahyudi Suseno alias Yudi sampai akhir semester.
Bukan hanya karena aturan tempat duduk saja yang membuatku berasa ujian setiap hari, tapi Yudi dan tingkah polah mengundang ilfeel-nya adalah ujian itu sendiri. Aku yakin tidak ada yang mengalami kesialan sepanjang enam bulan penuh kecuali aku!
"Pagi, Bebeb Bell! Yud-yud akan membawakan lagu paling romantis untuk mengawali pagi yang cerah ini!"
Jrenggg ... bunyi senar gitar bututnya menyambung monolog tadi. Aku hanya memandangnya setengah hati, sampai kapan pun tak akan tahan dengan semua ini, termasuk sebutan Bebeb atau ide memanggilnya Yud-yud. Panggilan aneh itu sama sekali tidak imut untuk cowok ceking setengah berotot dengan rambut berantakan begitu.
"Maaf, Bang! Enggak ada recehan!" jawabku datar, tapi Yudi tak sedikit pun peduli, lanjut menggenjreng sambil melantunkan lagu entah apa karena sudah tak kudengar.
Beruntunglah earphone penyelamat dengan musik bervolume penuh telah menyumpal telingaku lebih dulu. Suara Yudi yang tidak lebih bagus dari keledai bersin cukup teredam karenanya, tapi ia sama sekali belum berhenti bahkan setelah bel masuk berbunyi.
Karena itulah aku ingin melarikan diri ke bangku belakang milik Vivi. Ada satu bangku kosong di sebelahnya. Namun, baru saja akan angkat kaki, Miss Zahira muncul di ambang pintu, diikuti anak laki-laki yang amat asing bagiku. Oh, sebentar, sepertinya kami pernah bertemu ....
Lupa melepas earphone, perhatianku terlanjur tersedot pada yang berdiri di sebelah Miss Zahira. Beliau mengucap salam, lanjut menuturkan pendahuluan singkat soal teman baru, pindahan dari suatu kota yang luput dari pendengaranku.
Dari sorot matanya ... Oh, dia, sih, cowok bermasker yang keluar dari ruang kesiswaan minggu lalu! Mataku belum berkedip demi mengikuti gerakan bibirnya, tapi aku tetap saja gagal membaca sesuatu yang dia katakan. Serius, deh! Earphone terkutuk dengan volume penuh ini membuatku budeg di saat yang tidak tepat!
"Apa? Apa?! Siapa namanya tadi?!" tanyaku heboh, menjadi bahan tertawaan seisi kelas sementara Yudi hanya memutar bola mata sebal.
"Kevin, Kevin Anggara," jawab cowok itu langsung. Wah, namanya benar-benar mengamini parasnya, perpaduan Kevin Julio sama Dimas Anggara!
"Oooh, Keviiin. Haiii, Kevin!" balasku melagukan namanya. Cowok itu hanya mengulum senyum, tapi cukup untuk menampakkan lesung pipinya.
Iya ... senyum Kevin yang berpotensi menaikkan kadar gula itu cocok terbingkai dengan wajah gentle khas laki-laki, garis rahang tegas, hidung mancung, dan alis tebal bernaung di atas mata sipitnya.
Rambut hitam alami itu juga klop banget dengan kulit kuning langsat yang tidak terlalu cerah atau terlalu gelap, tapi satu hal yang terlewat dari pandanganku karena terlalu buru-buru waktu itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Expert Mate
Fiksi RemajaHai, aku Bella. Hidupku mulai seru sejak ketiban ensiklopedia waktu SMP dulu. Bagai ketiban berkah, aku bisa melihat roh kecerdasan orang lain setelah itu. Sejumlah prestasi kudapat dengan memanfaatkan mereka, sementara roh kecerdasanku sendiri? Tid...
