"Kak Ana. Udah ngisi KRS belum? Aku bingung nih mau pilih dosen siapa di mata kuliah Kimia Medisinal." tanya Fera, teman seangkatan Ana yang sekaligus teman satu kosnya. Teman-teman Ana di kelas, rata-rata memanggilnya dengan sebutan "Kakak". Hal ini karena Ana berusia satu tahun di atas teman-temannya yang lain. Penundaan kuliah selama setahun karena bekerja selepas lulus SMA membuat gadis itu sedikit lebih dewasa dari teman-teman kuliahnya yang lain.
"Loh kenapa, Fer? Kok bingung?"
"Ya iya lah, Kak. Secara dosen Kimia Medisal pasti kan sama orangnya kayak pas mata kuliah Farmakologi II, Pak Bambang juga, Kak. Killer banget gak sih sama dia. Kak Ana pilih dosen siapa? Buruan loh kak nanti keburu abis kuotanya!"
"Kamu ada-ada aja, Fer. Tapi iya juga sih ya. Ada dosen lainnya gak?"
"Di sini sih ada dua dosen kak yang tersedia. Pak Bambang sama Bu Rita. Dua-duanya sama-sama killer, Kak. Aduh gimana nih?" tanya Fera kembali dengan ekspresi kebingungan. Tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang terbungkus jilbab berwarna putih.
"Yaudahlah, Fer. Sama siapa aja juga kan sama aja. Kalau kitanya bener masa iya diomelin juga. Kita ambil sama Bu Rita aja yuk!"
"Haah? Serius, Kak?"
"Yaa... menurut aku sih, daripada Pak Bambang, masih mending Bu Rita. Pak Bambang kan paling-paling-paling ditakuti di kampus ini, Fer. Udah gitu tampangnya nyeremin banget. Eh... Astaghfirullah... Jadi ngomongin orang begini. Kamu sih!" ungkap Ana pada Fera sambil keduanya terkekeh.
Mereka pun sepakat memilih Bu Rita untuk dosen Kimia Medisinal. Namun, saat mereka meng-klik nama Bu Rita, rupanya kuota mahasiswa di kelas itu sudah penuh. Dengan penuh berat hati, akhirnya mereka mengikhlaskan diri memilih kelas Pak Bambang. Wajah mereka berdua kemudian mendadak kecut.
Tersebutlah Pak Bambang. Dr. Bambang Djojosoebroto, M.Si., pakar obat-obatan, seorang dosen yang usianya, lima tahun lagi, genap enam puluh tahun. Di Akademi Farmasi Jakarta, dia terkenal sebagai dosen yang tidak berperikemahasiswaan. Tatapannya tajam seperti elang–memburu dengan tegas setiap sasaran yang disorotnya. Kumisnya melintang mantap dengan jambang yang menjulur putih sampai ke pipi. Perawakannya tidak terlalu tinggi, tapi memiliki perut yang membuncit seperti sedang hamil tiga puluh delapan Minggu.
Untuk masalah akademik, kedisiplinan, dan keilmuan, Pak Bambang tidak kenal kompromi. Tidak peduli mahasiswa itu laki-laki, perempuan, remaja, dewasa, bertampang melas, aktivis, keponakan anggota DPRD, keponakan menteri, keponakan pejabat ini-itu, jika melakukan kesalahan, maka hardikan dan sumpah-serapah mencuat dari mulutnya yang bersuara lantang, menggema hingga ke sudut-sudut kampus. Bahkan, jika diandaikan, lantang dan menggemanya suara Pak Bambang bisa masuk ke gorong-gorong kampus membentak tikus-tikus got sampai mereka pergi tunggang-langgang mencari suaka baru. Begitu menakutkan.
Belajar dengan Pak Bambang tidak boleh dekat-dekat dengan kata 'salah'. Banyak sudah mahasiswa yang terisak, berurai air mata karena tidak bisa menjawab pertanyaan seperti, "Kenapa obat antihipertensi bernama propanolol tidak dianjurkan untuk penderita asma?". Baginya, saat pertanyaan lisan dia lontarkan ke salah satu mahasiswa di kelas, berpikir lebih dari lima belas koma sepersekian detik, artinya tidak tahu. Tidak tahu artinya tidak belajar, tidak belajar artinya malas, dan malas berarti dungu. Padahal, sebenar-benarnya, tidak jarang juga pertanyaan yang diajukan pada dasarnya dipahami mahasiswa. Namun, karena yang bertanya Pak Bambang, maka lidah si mahasiswa itu menjadi kelu, kaku seperti lafaz tauhid yang sulit dilafalkan si pendosa menjelang ajalnya.
Pernah beberapa kali mahasiswa aktivis memprotes keganasan Pak Bambang kepada ketua jurusan, bahkan kepada direktur. Namun, tidak ada satu pun petinggi kampus berani mengusik cara Pak Bambang dalam mengajar, terlebih memberi teguran. Alasan bahwa Pak Bambang lah salah satu orang yang berjasa membangun Akademi Farmasi Jakarta dari nol, adalah yang paling logis kenapa tidak ada yang berani berhadapan langsung dengan beliau.
KAMU SEDANG MEMBACA
FARMAKOLOVA
Roman d'amourPada akhirnya Ana harus menunggu pujaan hatinya pergi ke negeri orang untuk melakukan penelitian guna menemukan obat kanker. Tetapi, lelaki itu lantas menghilang tanpa kabar. Janji Ana pada pertemuan terakhir membuatnya terbelenggu, akan menunggu...
