Chapter 7

587 26 0
                                        

Ketika Arabella sudah menyelesaikan urusannya di cafe, Lucifer menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir, dia mengantarkan Arabella untuk mengemasi barang-barangnya.

Arabella menolak Lucifer untuk mengantarnya dan mengatakan akan menggunakan subway saja, tapi Lucifer mematahkan pendapatnya dan mengatakan akan lebih mudah kalau dia mengantar Arabella.

Dan di sinilah Arabella, duduk dengan gugup di kursi empuk mobil yang terbuat dari kulit asli.

"Kenapa kau tidak memakai sabuk pengamanmu?" Lucifer melirik, saat berhenti di lampu merah.

"Huh?" Arabella tersadar dari lamunannya.

Alih-alih mengulang perkataannya, Lucifer malah mencondongkan tubuhnya dan membantu memasangkan sabuk pengaman Arabella.

Arabella terdiam dengan pipinya langsung terasa panas, menatap rambut tebal Lucifer yang tertunduk di dekatnya. 

Aroma parfum Lucifer menyentuh indera penciumannya, wanginya lembut tapi maskulin, dan tiba-tiba saja membuat sesuatu dalam diri Arabella terasa aneh.

ღ ღ ღ ღ ღ

Hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai di tempat tinggal Arabella yang terletak di pinggir kota. Tapi jika menggunakan subway bisa sampai 1 jam.

Lucifer  sedikit mengerem ketika Arabella bergumam,"Itu, berhenti di situ." 

Arabella menunjuk ke area parkir yang kebetulan kosong di dekat tempat mini market yang biasa dia kunjungi untuk membeli kebutuhan. 

"Dimana kau tinggal?" tanya Lucifer ketika mobilnya sudah terparkir.

Arabella menunjuk ke sebuah gedung apartemen kumuh di sebrang tempat mereka parkir. 

"Aku tinggal di lantai tiga. Kau bisa menunggu di sini, aku tidak akan lama."

"Aku ikut," bantah Lucifer sambil membuka pintu mobilnya.

"Jangan!" suara Arabella yang setengah berteriak itu membuat gerakan Lucifer terhenti, dia menoleh dan menatap Arabella dengan kerutan di keningnya.

"Kenapa jangan? Kau takut kekasihmu tahu?" tanyanya singkat.

"Apa? Aku tinggal sendiri dan tidak memiliki kekasih," bantah Arabella.

"Lalu kenapa?" tanya Lucifer dengan sabar.

Sebenarnya Lucifer bukan pria penyabar. Terutama ketika apa yang akan dia lakukan di cegah atau di bantah.

Pipi Arabella kembali terasa hangat, merasa malu menjelaskannya pada Lucifer.

"Di sana kotor dan mungkin tidak menyenangkan untuk orang sepertimu." 

Lucifer mengamati Arabella kemudian bergumam keras kepala, "Bukan masalah. Aku akan mengantarmu. Setidaknya aku bisa membantumu membawakan barang-barangmu, jadi kau tidak perlu bolak-balik."

Pria itu memang tidak bisa di bantah, Arabella mendesah dan kemudian menganggukkan kepalanya.

ღ ღ ღ ღ ღ

Lucifer dan Arabella memasuki gedung kumuh itu.

Lucifer langsung mengernyit ketika mencium bau yang tidak sedap. Dan dia sedikit terkejut karena bukan hanya penampilan luarnya saja yang kumuh, ternyata dalamnya juga.

Lorong-lorong dengan pencahayaan minim dan lift yang tidak bisa di pakai sama sekali, jadi mereka harus menaiki tangga untuk sampai ke lantai tiga.

Ketika Arabella membuka pintu tempat tinggalnya, kerutan di dahi Lucifer semakin dalam. Tempat itu sangat kecil. Bahkan jika di bandingkan dengan kamarnya di penthouse.

Tapi tempat itu bersih, tampaknya Arabella merawatnya dengan baik. Hanya terdapat 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur dan yang mungkin di sebut ruang tamu menyatu tanpa sekat. Bahkan tidak ada meja makan di sana.

"Silahkan duduk." Arabella bergumam gugup dan canggung, menyadari bahwa Lucifer sedang mengamati tempatnya yang sangat sederhana itu. 

Lucifer memandang sebuah sofa yang sudah sangat lusuh, lalu dia duduk dan mengamati Arabella yang masuk ke kamar tidur tanpa pintu dan tampaknya dia sedang memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. 

Setelah selesai, Arabella mengemas barang-barang lainnya, alat mandi, beberapa buku yang ada di ruang tamu, dan juga beberapa peralatan makannya.

"Tinggalkan itu." Lucifer yang sejak tadi hanya duduk diam dan mengamati kegiatan Arabella tiba-tiba bergumam.

Arabella mendongakkan kepalanya, kegiatannya memasukkan peralatan makan itu berhenti karena perkataan Lucifer.

"Apa?"

"Peralatan makan itu, kau tidak memerlukannya." Lucifer melirik kearah piring dan gelas milik Arabella.

Demi Tuhan, untuk apa Arabella membawanya? 

Di penthouse-nya dengan peralatan makan kualitas terbaik, beberapa bahkan belum pernah di pakai sejak di beli. Arabella bisa menggunakan itu.

Sejenak ekspresi Arabella tampak terhina dan ingin membantah. Tapi gadis itu menarik napas panjang dan menurut. Di letakkannya kembali peralatan makan itu dan menutup resleting tasnya.

"Baiklah, semua sudah di kemas."

Lucifer melirik tas kain Arabella dan menatap takjub.

"Hanya itu barangmu?" 

Lucifer pernah punya kekasih yang memiliki banyak sekali pakaian dengan berbagai warna, parahnya mantan kekasihnya itu bahkan menyesuaikan warna pakaiannya dengan tas dan sepatunya.

Melihat Arabella yang bisa mengemas pakaiannya hanya dalam satu tas kain berukuran sedang membuat Lucifer merasa miris.

Dan entah kenapa ide gila yang dia buat itu membuat Lucifer lega. Karena sudah membawa Arabella keluar dari tempat ini.

"Hanya ini." Arabella melangkah keluar dari tempat itu, dan Lucifer mengikutinya. Arabella lalu mengunci pintunya, "Kau bisa langsung ke mobil, aku akan mengembalikan kunci ini pada pemilik apartemen." 

"Aku perlu ikut?" kata Lucifer ketika mereka mulai menuruni tangga.

Arabella langsung menggelengkan kepalanya. 

"Aku tidak akan lama."

Dan untunglah untuk kali ini, Lucifer menurut. Tapi sebagai gantinya dia langsung mengambil tas yang di bawa Arabella dan langsung melenggang pergi sebelum Arabella bisa protes.

ღ ღ ღ ღ ღ

Aku juga mungkin ga bisa konsisten nulis..

Mungkin akan ada waktu dimana, cerita ini gantung sampe bertahun-tahun atau mungkin tamat dalam beberapa bulan..

Tergantung mood dan kesibukan juga, karena aku juga kerja. Jadi nulis ceritanya sambil di sela-sela waktu kerja..

Terimakasih sudah baca..

Love KRN

His LoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang