Chapter 11

501 23 0
                                        

"Sampai jumpa nanti sore sayang," kata Lucifer dan langsung berbalik.

Entah kenapa Lucifer sangat ingin mengatakan itu. Anggap saja dia mulai membiasakan diri bersikap romantis pada pelayannya.

Bukan. Bukan sekedar pelayan.

Arabella sekarang sudah menjadi kekasihnya.

Kekasih pura-puranya.

Tapi entah kenapa, itu membuat hati Lucifer menghangat. Dia tidak pernah memiliki perasaan seperti itu sebelumnya, bahkan saat dia memiliki kekasih sesungguhnya dulu.

Dan orang lain yang mengenal Lucifer pasti sudah menganggapnya gila, karena meminta seorang pelayan menjadi kekasihnya.

Tapi Lucifer hanya ingin Arabella. Karena dia tahu, Arabella tidak akan menuntut lebih padanya.

Atau mungkin, Lucifer lah yang akan menuntut lebih pada Arabella.

ღ ღ ღ ღ ღ

"Aku ingin kau besok siang ikut denganku," kata Lucifer muncul di ambang pintu dapur saat jam menunjukkan pukul 3 sore.

Rambutnya masih basah, pertanda dia baru selesai mandi.

"Ikut kemana?" kata Arabella yang baru saja selesai menyusun muffin di atas piring.

"Ke toko pakaian milik temanku," jelas Lucifer sambil menghampiri Arabella, dan matanya langsung melihat muffin yang sudah tersusun rapih di atas piring.

"Untuk?" tanya Arabella sambil meletakan piring penuh muffin di depan Lucifer.

"Kita akan berbelanja pakaian untukmu."

Arabella mengangguk, mengerti.

"Kau ingin kopi atau teh?" tawar Arabella ketika Lucifer mulai memakan muffin yang ia buat.

Bukannya menjawab, Lucifer hanya menatap Arabella dan mengernyitkan dahinya.

"Apa?" tanya Arabella bingung. "Apa muffinnya tidak enak?"

"Ini enak. Aku hanya bingung, kenapa kau tidak protes," jelas Lucifer.

"Karena akan percuma. Karena kau tidak suka di bantah."

Lucifer yang mendengar jawaban Arabella, terkekeh geli.

"Wah... kita baru tinggal bersama tiga hari, tapi kau sudah mengingat apa yang tidak ku suka dengan baik," katanya dengan senyum lebar.

Arabella pun mendengus sebal.

Dan entah mengapa, semakin Arabella bersama Lucifer, semakin dia merasa nyaman.

Lucifer bahkan tidak pernah protes dengan sikap tidak sopannya itu.

"Kau ingin makan malam apa?" tanya Arabella.

Sebelumnya, Lucifer selalu tinggal sendiri. Bahkan jika dia memiliki kekasih pun, dia tidak pernah membawa kekasihnya kemari.

Dulu ketika dia masih tinggal bersama ayahnya pun, pelayan yang bekerja di rumahnya tidak pernah menanyakan pertanyaan itu padanya.

Tapi Arabella. Gadis mungil yang ia tolong dan menjadi pelayan sekaligus kekasih pura-puranya. Menanyakan hal sederhana yang membuat Lucifer langsung mengingat sosok ibunya.

Perasaan yang selalu ia rindukan, serasa terobati dengan pertanyaan sederhana Arabella.

Lucifer pun mengedipkan matanya dan berdehem.

"Apapun yang kau masak, aku akan memakannya."

ღ ღ ღ ღ ღ

Keesokan harinya, ketika Arabella keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian, Lucifer berdiri di ruang tengah dan menatap Arabella dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.

His LoverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang