[3 HARI SEBELUM AKAD]
Seperti pagi biasanya, Alya tengah sibuk memasak. Tapi pikirannya melayang ke mana-mana. Sejak tadi dia hanya mengaduk nasi goreng di wajan, tanpa benar-benar menumisnya. Sudah hampir seminggu Hesti mendesaknya untuk menggantikan Anya menikah. Dua hari lagi akad Anya akan digelar, tapi Anya kabur.
_Menikah? Di umur 18 tahun? Dengan orang yang bahkan belum pernah kutemui?_ Alya menggigit bibir. Ia belum siap. Dia masih punya cita-cita jadi dokter yang harus diraih.
Kenapa Anya memilih pergi padahal sebelumnya dia tahu akan dijodohkan? Dan kenapa pernikahan ini sangat penting untuk kelangsungan hidup keluarganya? Hanya pertanyaan itu yang terus muncul di pikiran Alya.
"Alya, saya tidak mau tahu. Kamu harus menikah!"
Suara Hesti tiba-tiba menyentak dari belakang. Alya terlonjak, spatula di tangannya hampir jatuh.
"Kamu harus bertanggung jawab, demi keluarga ini!" lanjut Hesti, nadanya tinggi.
Alya berusaha mengabaikan Hesti. Dia menyibukkan diri dengan memasak, mengecilkan api.
Merasa diabaikan, Hesti mematikan kompor paksa, lalu menarik tangan Alya kuat-kuat dan menyeretnya ke ruang tamu.
"Dengar, Alya! Sejak awal kamu tidak diterima di rumah ini. Asal kamu tahu, Ayah kamu merasa sangat tersiksa atas kehadiran kamu!" ucap Hesti.
Alya tidak bergeming. Dia tidak percaya apa yang barusan Hesti katakan. "Ma... maksud Mama?"
"Kamu tahu kenapa sejak ibumu meninggal dia selalu bekerja tanpa henti? Itu karena dia ingin jauh dari kamu! Harusnya kamu bersyukur bisa tinggal di rumah ini!" ucap Hesti lagi.
Alya semakin bingung. Memang benar, setelah Mamanya meninggal, Ayahnya selalu bekerja tanpa menemuinya. Tapi Nenek bilang semua itu untuk masa depan Alya.
"Kamu harusnya tahu diri. Kamu itu cuma beban bagi Ayah kamu. Dan sekarang kamu harus mengurangi beban itu. Menikah, atau kamu akan kehilangan Ayah kamu!" ancam Hesti.
"Mah, bukankah ini pernikahan Kak Anya? Lalu kenapa aku yang harus tanggung jawab?" jawab Alya menahan kesal.
"Bukankah sudah aku katakan tadi? Kamu itu beban!" teriak Hesti, tangannya menunjuk-nunjuk Alya.
"Sudah cukup, Mah! Alya juga punya keputusan sendiri. Di sini Kak Anya yang bersalah. Kenapa dia pergi padahal dia akan menikah?" teriak Alya membalas. Air matanya sudah tak terbendung. Selama ini Alya berusaha sabar, tapi kali ini berbeda.
"Oh, sudah bisa melawan ya? Dasar anak tak tahu diuntung!" cerca Hesti.
Alya sudah tidak tahan. Dia hendak meninggalkan Hesti, namun Ayahnya, Dani, tiba-tiba datang.
"Duduk," kata Dani pelan.
Alya duduk di sofa dengan ragu. Dani menatap Alya sejenak, kemudian membuang muka.
"Yah..." lirih Alya pelan.
Dani menoleh dan menatap Alya dalam.
"A... apa yang diucapkan Mamah tadi Ayah pasti mendengarnya, kan?" tanya Alya terbata. Dani tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya.
"A... apa selama ini Alya menjadi beban buat Ayah?" tanya Alya lagi. Air matanya sudah lolos begitu saja.
Dani masih tertunduk. Napasnya terasa sangat berat. Melihat reaksinya, Alya semakin terisak.
"Ja... jawab Alya, Yah," kata Alya tersendat karena tangisnya.
Dani menganggukkan kepalanya, lalu menatap Alya sendu. Bibirnya bergetar menahan tangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Mom
Novela Juvenil17 tahun Alya dibesarkan nenek, jauh dari hingar-bingar keluarga kandungnya. Begitu pulang, sambutannya bukan pelukan. Tapi surat nikah. Anya, sang kakak, kabur tepat di hari H. Meninggalkan Alya untuk menikahi Gara-pria yang tidak Alya kenal, d...
