---
Malam mulai turun. Angin menampar pipi Alya yang sudah pucat. Sejak tadi dia mondar-mandir di depan rumah, meremas ujung gamisnya hingga kusut. Napasnya tersengal. Jantungnya berdetak tak karuan.
Sudah dua hari dia menahan rindu ini. Sejak pertama menginjakkan kaki di rumah ini, Alya belum sekalipun bertemu Azril. Bayi itu dirawat di rumah sakit karena demam. Alya hanya bisa menatap fotonya yang tertempel di dinding kamar. Pipi gembul, merah muda. Gemasnya menusuk sampai ke ulu hati.
Alya memang lemah kalau soal anak kecil. Setiap lihat bayi, matanya selalu basah. Apalagi sekarang. Dia akan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang tak pernah terlintas di kepalanya, bahkan dalam mimpi sekalipun.
Deru mesin membelah keheningan. Sebuah sedan hitam meluncur masuk, berhenti tepat di depannya.
Pintu terbuka. Sandra keluar, menggendong gumpalan selimut kecil di dadanya.
Alya berlari. Nyaris tersandung. Matanya tak lepas dari bayi mungil di dekapan Sandra. Paham, Sandra tersenyum dan menyerahkan Azril padanya.
Tangan Alya bergetar saat menyambutnya. Hangat. Lembut. Nyata.
Air matanya lolos begitu saja. Satu. Dua. Menetes membasahi pipi. Biasanya dia menangis karena gemas. Tapi kali ini beda. Yang ada di pelukannya sekarang adalah... anaknya. Ah, atau lebih tepatnya, anak sambungnya.
Sejak tahu akan menjadi ibu Azril, Alya bersumpah dalam hati: dia akan menyayangi bayi ini seperti darah dagingnya sendiri. Akan dia berikan semua kasih sayang yang tidak pernah dia dapatkan dari seorang ibu.
Sandra yang melihat itu ikut meneteskan air mata. Terharu. Gadis 19 tahun di hadapannya memancarkan keibuan yang begitu tulus. Begitu murni.
Tangannya yang mulai keriput mengusap punggung Alya lembut. "Makasih, Nak," bisiknya tulus, suaranya bergetar.
Alya mendongak, tersenyum. Suara gumaman kecil Azril membuat senyumnya melebar. Jari-jari mungil itu kini menggenggam beberapa helai rambutnya yang tergerai. Jantung Alya seperti diremas.
"Wah, ternyata Azril lebih gemas aslinya ya, Mah," kata Alya, suaranya tercekat.
Sandra tersenyum bangga, memamerkan deretan gigi rapinya. "Iya dong. Cucu siapa lagi, dong."
Alya terkekeh. Untuk sesaat, dia lupa kalau pernikahannya hanya kontrak.
"Masuk ke dalam, kasihan Azril kena angin malam," suara Gara tiba-tiba memotong dari belakang. Datang tanpa suara, tangannya penuh dengan tas perlengkapan bayi dan beberapa _paper bag_ milik Sandra.
Tersentak, Alya segera mengangguk dan bergegas masuk sambil mendekap Azril erat, seolah takut direbut.
"Gar, bener kan yang dikatakan Ayahmu? Kalau Alya lebih cocok menikah dengan kamu," kata Sandra sambil mengambil _paper bag_ dari tangan Gara, lalu mengecek isinya.
Gara diam. Wajahnya datar. Tidak ada jawaban.
"Gar, kalau Mamah lagi ngomong tuh dengerin. Jawab kek," protes Sandra, kesal diabaikan.
"Gak tahu," jawab Gara acuh tak acuh. Dia langsung masuk, meninggalkan Sandra yang kini berkacak pinggang, menghela napas panjang.
Sandra mengerti. Dia paham betul kenapa Gara sedingin ini. Tapi jauh di lubuk hatinya, dia bersyukur. Bersyukur yang menikahi anaknya adalah Alya. Dia tak bisa membayangkan kalau Anya yang jadi menantunya. Manja, risihan, dan tidak tahu diri. Sandra masih ingat jelas pertemuan beberapa bulan lalu dengan Anya. Cukup sekali, dia sudah bisa menebak tabiatnya.
**_
Kamar itu bernuansa biru lembut. Mainan bertebaran di setiap sudut. Di tengahnya, ada ranjang ukuran sedang yang sengaja disediakan untuk berjaga-jaga kalau Azril rewel malam-malam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Mom
Dla nastolatków17 tahun Alya dibesarkan nenek, jauh dari hingar-bingar keluarga kandungnya. Begitu pulang, sambutannya bukan pelukan. Tapi surat nikah. Anya, sang kakak, kabur tepat di hari H. Meninggalkan Alya untuk menikahi Gara-pria yang tidak Alya kenal, d...
