---
Sudah seminggu sejak kejadian itu. Sejak bibir Gara tak sengaja menempel di bibirnya.
Dan sudah seminggu pula, Gara menghilang.
Dia memilih tenggelam dalam pekerjaannya, bersembunyi di apartemen dekat kantor, tak sekalipun pulang. Tak sekalipun menghubungi.
Alya merasa sesak. Dadanya seperti diikat kawat berduri. Salahkah dia? Dia yang membuat Gara terjebak di posisi ini. Dia yang membuat semua jadi rumit.
Berkali-kali Alya mengecek handphone. Layarnya gelap. Sunyi. Tak ada satu pun notifikasi dari Gara. Tak ada nama Gara.
Langkahnya gontai menuju ranjang Azril. Bayi itu tertidur pulas, pipinya gembul, napasnya teratur. Alya mengelus rambut halusnya perlahan. Matanya sembab.
Hanya Azril yang menemaninya sekarang. Keluarga Gara semua sibuk di luar kota. Rumah sebesar ini terasa seperti kuburan. Sepi. Dingin.
Tanpa sadar, Alya larut dalam pikirannya sendiri.
_Jika saja Kak Anya yang menikah dengan Kak Gara... apa yang sedang aku lakukan sekarang?_
_Apa Kak Gara masih marah, ya?_
_Kenapa dia gak nelpon?_
_Apa aku harus minta maaf lebih dulu?_
_Tapi apa Kak Gara akan mau memaafkan?_
_Apa yang harus aku lakukan?_
"Oeekk... Oeekk..."
Tangis Azril pecah, menyentak Alya dari lamunannya.
Alya buru-buru memeluk Azril, menepuk-nepuk punggungnya pelan. Tangannya gemetar saat mengambil botol susu. Ditesnya suhu tubuh Azril—hangat. Terlalu hangat. Panik, Alya berlari mengambil baskom kecil dan handuk untuk mengompres.
Azril perlahan tenang, matanya kembali terpejam. Alya mengembuskan napas lega. Tapi hanya sesaat.
Karena tiba-tiba, tubuh mungil itu menggeliat gelisah. Suhunya naik drastis. Tangisnya pecah lagi, lebih kencang, lebih menyayat.
Dua jam berlalu. Azril terus merengek. Tak berhenti.
Alya cek termometer lagi. Angka digital itu membuatnya membeku. 39,8°C.
Darahnya berdesir. Panik.
Tanpa pikir panjang, Alya menyambar tas perlengkapan Azril, membungkus tubuh kecil itu dengan selimut, lalu berlari keluar. Dia bahkan lupa memakai sandal.
"Pak Nus! Azril sakit! Kita ke rumah sakit sekarang!" teriak Alya, suaranya pecah.
Pak Nus yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak. Cangkirnya hampir jatuh. "Ayo, Neng!"
Sepanjang jalan, Alya tak henti-hentinya mendekap Azril, membisikkan maaf berkali-kali. Air matanya jatuh menimpa pipi Azril yang memerah.
Mobil baru berhenti, Alya sudah melompat keluar. Dia berlari ke IGD secepat kakinya bisa, meninggalkan Pak Nus yang masih berusaha memarkir mobil.
**_
Di ruang kerjanya yang dingin, Gara memijat pelipisnya kuat-kuat. Kepalanya berdenyut hebat. Sudah berhari-hari dia tidak tidur. Tumpukan berkas, rapat tanpa henti, dan amarah yang tak kunjung padam membuatnya nyaris gila. Tubuhnya lemas. Penglihatannya berkunang-kunang. Dia menyandarkan diri di kursi, memejamkan mata.
Aldo yang sejak tadi menemaninya berdecak sebal. Sudah berkali-kali dia menyuruh Gara pulang, menyuruhnya istirahat. Tapi semua ucapannya hanya jadi angin lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Mom
Fiksi Remaja17 tahun Alya dibesarkan nenek, jauh dari hingar-bingar keluarga kandungnya. Begitu pulang, sambutannya bukan pelukan. Tapi surat nikah. Anya, sang kakak, kabur tepat di hari H. Meninggalkan Alya untuk menikahi Gara-pria yang tidak Alya kenal, d...
