~Vee Vivis~
"Mark tidak mau ditinggal. Mark pasti rindu." Kekasihku manja. Bergelayut di lengan kiriku padahal tanganku masih sibuk dengan berkas. Kepalanya jatuh di bahuku sambil digoyangkan.
"Setiap akhir pekan Phi akan pulang. Atau Mark yang datang- Eihhh? Jangan-jangan, biar Phi yang datang."
"Uhh.... Itu seminggu sekali. Kenapa memilih di luar provinsi Phi? Di Bangkok masih banyak perusahaan. Atau di Perusahaan Vivis. Demi Tuhan Phi, Phi sudah ahli dalam hal ini, tidak perlu magang segala. Apalagi ini perusahaan orang lain, bukan perusahaan milik Phi."
Ahh... Aku mendesah. Mark dalam mode manja, dan sulit untuk dijinakkan. Sebenarnya aku juga tidak rela meninggalkan Mark.
Aku mengangkat tubuh Mark untuk duduk di pangkuanku. Mengapit hidung bangirnya dengan sapuan dua jari. Menimbulkan protes dari dia.
"Ini kesempatan untuk Phi belajar dari perusahaan lain. Di tahun ketiga juga Mark akan merasakannya dan meninggalkan Phi."
"Tidak mau. Mark akan magang di perusahaan milik Phi."
"Nepotisme."
"Terserah."
Aku bawa tubuh yang lebih kecil dariku untuk aku peluk. Menempatkan dagu dengan bahu masing- masing. Menciumi bahu sempit Mark. Aku pasti juga rindu. Amat sangat rindu pada pria manja ini.
"Ini hanya 3 bulan. Kita sudah pernah merasakannya 8 tahun."
"Itu dulu. Perasaan dulu dan sekarang berbeda."
"Apa yang berbeda?"
"Tentu karena itu-..."
Drrrt
Drrrt
Bunyi panggilan menyudahi acara berpelukan kami. Mark mendengus sebal. Menyumpahi siapa yang mengganggu. Namun, mimik nya berubah dratis setelah melihat nomor yang memanggil.
"Siapa?"
Mark masih memandangi layar ponselnya tidak mendengar pertanyaanku.
"Mark dari siapa?" Aku menepuk ringan bahu Mark. "Mark?"
"Ahh yeah Phi?" Mark berjengkit kaget.
"Nomor asing?"
"Mmm..." Buru dia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana. "Mark harus pergi sekarang. Anu.. i-itu teman-teman Mark menunggu."
Aku mengamati setiap gerik Mark. Bola matanya memutar bingung. Bibir bawahnya digigit gugup.
"Jaket ada di sana." Tunjuk jariku. "Dan ini kunci mobilnya."
"Terima kasih Phi."
Baru berapa langkah, tiba-tiba berhenti. Tubuhnya balik menghadapku.
"Ada yang tertinggal?"
"Maaf." Aku mengangkat alisku bertanya maaf apa yang Mark maksud. "Maaf tidak bisa membantu hingga selesai mempersiapkan berkas magang." Aku tersenyum meyakinkan itu tidak apa.
Tapi kaki Mark melangkah ke arahku. Wajahku ia rengkuh. Mark mendorongku hingga setengah terbaring di sofa. Diatasku Mark mencium bibirku cukup dalam. Ciumannya kasar, seperti ada keputusasaan.
"Maaf."
Aku masih mendengar lirih kata itu. Walau sebenarnya aku tahu Mark ingin mengatakan tanpa ingin aku dengar.
Mark menghilang di balik pintu. Tiba-tiba perasaanku tak menentu. Ada kekhawatiran dan pikiran yang membelenggu. Berapa kali aku harus menutup mata atas kebohongan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Obsession || VeeMark / YinWar [End]
FanfictionKetika jarak adalah hambatan Waktu kan menjadi cobaan Apakah cinta masih ada saat dipertemukan Atau ternyata itu obsesi dari dua insan Vee Vivis Wong, sang pewaris dua kerajaan yang merupakan mahasiswa teknik tahun ketiga, memiliki kekasih sejak ke...
![Obsession || VeeMark / YinWar [End]](https://img.wattpad.com/cover/250666802-64-k435510.jpg)